Comscore Tracker
FINANCE

Setelah Rights Issue, Akankah BRI Jadi Bank Dengan Aset Terbesar? 

Hingga semester-I 2021 aset BRI mencapai Rp 1.450,9 triliun.

Setelah Rights Issue, Akankah BRI Jadi Bank Dengan Aset Terbesar? BRI Tower. (Dok. BRI)

by Suheriadi

Jakarta, FORTUNE – Pasca Holding Ultra Mikro (UMi), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BRI) dinilai mampu meningkatkan nilai asetnya sehingga kembali menjadi bank terbesar pertama di Indonesia menyalip PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (Bank Mandiri). 

Analis pasar modal sekaligus ekonom dari LBP Institute Lucky Bayu Purnomo mengatakan, hadirnya Holding UMi dalam lini bisnis BRI akan meningkatkan konsolidasi nilai buku BRI, sekaligus potensi mendorong kinerja yang lebih baik ke depan. Pasalnya, Holding UMi adalah sumber pertumbuhan bisnis baru bagi perseroan.  

"Menurutnya, peningkatan nilai aset menjadi sisi paling nampak ketika Holding UMi rampung terbentuk dan beroperasi. "Kalau konsolidasi pasti adalah peningkatan nilai aset yang paling terlihat. Tahun depan, BRI akan kembali bisa merebut posisi aset nomor satu. Pun pada perhitungan kuartal ini akan mulai terlihat (peningkatannya)," kata Lucky melalui keterangan resminya di Jakarta, (26/9). 

Sebagai gambaran, hingga semester-I 2021 aset BRI telah mencapai Rp 1.450,9 triliun atau tumbuh 4,55 persen secara Year on Year (YoY). Kini BRI Masih mengekor dibawah aset Bank Mandiri yang asetnya mencapai Rp 1.580,5 triliun. 

Adapun, aset PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM paruh pertama tahun ini mencapai Rp105,9 triliun. Pada akhir tahun, aset semua anggota holding diperkirakan masih akan naik seiring dengan peningkatan pembiayaan, penghimpunan dana, dan pertumbuhan laba. 

Aset Bank Mandiri Masih Juara

Bank Mandiri telah membukukan aset yang kuat di Rp 1.580,5 triliun atau tumbuh cukup tinggi di 16,26 persen (YoY). Tak hanya pertumbuhan aset, pertumbuhan kredit Bank Mandiripun cukup kuat dalam hal penghimpunan dana. Dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri secara konsolidasi hingga kuartal II 2021 tercatat tumbuh 19,73% YoY menjadi Rp 1.169,2 triliun dengan komposisi dana murah sebesar 68,49%. Pertumbuhan dana murah terutama juga didorong oleh pertumbuhan giro (bank only) sebesar 40,9% YoY di triwulan II 2021.  

Keberhasilan Bank Mandiri dalam menjaga tren pertumbuhan dana murah ini juga ikut menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) Bank Mandiri secara YtD (bank only) menjadi 1,71% turun dari level 2,53% pada akhir tahun lalu.  

Aset Bank BCA Posisi Ketiga

PT Bank Central Asia (Tbk) BCA berhasil membukukan total aset sebesar Rp 1.129,5 triliun hingga akhir Juni 2021 atau berada di posisi ketiga. Capaian tersebut tumbuh 15,8 persen secara YoY. Secara keseluruhan, total DPK BCA tumbuh 17,5 persen dari periode yang sama tahun lalu menjadi Rp895,2 triliun. 

Dari pencapaian DPK tersebut didorong oleh CASA yang naik 21,0% YoY menjadi Rp697,1 triliun. Sedangkan untuk ddposito berjangka juga meningkat 6,8% YoY mencapai Rp198,2 triliun. 

Aset BNI Posisi Keempat

Hingga semester-I 2021, aset PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) tercatat sebesar Rp 875,1 triliun atau tumbuh 5 persen (YoY). Pencapaian tersebut juga ditopang oleh DPK BNI yang tumbuh 4,5 persen (YoY) atau mencapai Rp 646,6 triliun. 

Hal tersebut tentunya juga membuat dana murah atau CASA yang terhimpun semakin kuat. Di mana rasio CASA pada Juni 2021 tercatat mencapai 69,6 persen atau tertinggi dalam 10 tahun terakhir ini, yaitu sebesar Rp 450,1 triliun atau tumbuh 11,5 pesen (YoY). 

Tercatat, 70% dari CASA yang dihimpun merupakan kontribusi dari kinerja BNI Direct dan BNI Mobile Banking, 2 dari 3 produk champion BNI dalam digitalisasi layanan perbankan.

Related Articles