Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Bayang Konflik Timur Tengah Gerus Daya Tarik Dubai sebagai Kota Glamor
Dubai (unsplash.com/christophschulz)

Jakata, FORTUNE - Citra Dubai sebagai kota glamor dan pusat bisnis global mulai terguncang seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Perang udara antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meluas memicu gangguan pada bisnis, perjalanan, hingga investasi di kawasan tersebut. Di sejumlah pusat perbelanjaan utama Timur Tengah, termasuk Dubai, banyak toko dilaporkan tutup atau beroperasi dengan jumlah staf terbatas.

Melansir Reuters, grup ritel Chalhoub Group, yang mengoperasikan sekitar 900 toko berbagai merek seperti Versace, Jimmy Choo, dan Sephora, menutup tokonya di Bahrain. Sementara gerai di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania masih buka, tetapi kehadiran karyawan bersifat sukarela. “Kami beroperasi dengan tim kecil yang terdiri dari anggota yang secara sukarela datang dan merasa nyaman untuk bekerja di toko,” ujar Wakil Presiden Komunikasi Chalhoub Group, Lynn al Khatib.

Gangguan juga meluas ke sektor logistik dan e-commerce. Amazon menutup operasi pusat pemenuhan pesanan di Abu Dhabi, menghentikan pengiriman di kawasan, serta meminta karyawan di Arab Saudi dan Yordania tetap berada di rumah, menurut laporan Business Insider yang mengutip memo internal perusahaan Sementara itu, Kering, pemilik Gucci, menutup sementara tokonya di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Qatar serta menangguhkan perjalanan bisnis ke Timur Tengah.

Ketegangan geopolitik tersebut langsung memukul sektor barang mewah global. Saham LVMH, Hermès, dan Richemont—pemilik Cartier—turun sekitar 4 persen hingga 5,7 persen ketika investor menilai dampak konflik terhadap bisnis global. Meski kontribusi Timur Tengah terhadap konsumsi barang mewah dunia hanya sekitar 5 persen hingga 10 persen, kawasan ini menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat tahun lalu menurut firma konsultan Bain. Gangguan perjalanan akibat penutupan bandara serta serangan rudal berpotensi menghentikan momentum tersebut.

“Jika diasumsikan pasar travel retail bernilai sekitar US$5 miliar hingga US$6 miliar dan ditutup selama sebulan, maka ratusan juta dolar pendapatan jelas berisiko hilang,” kata Victor Dijon, senior partner di konsultan Kearney.

Salah satu serangan bahkan merusak hotel bintang lima Fairmont The Palm di kawasan Palm Jumeirah, yang sebelumnya menjadi simbol kemewahan kota tersebut Bukan hanya sektor ritel dan pariwisata yang tertekan. Ketidakpastian geopolitik juga mulai memicu kekhawatiran di pasar properti Dubai yang selama beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan tajam.

Perlu waktu memulihkan citra Dubai

Melansir Economic Times, pada 2025, transaksi real estat di Dubai mencapai sekitar US$250 miliar, capaian rekor tertinggi dengan pembeli asal India menyumbang sekitar 20 persen hingga 22 persen dari total transaksi. Namun, ketegangan kawasan memicu spekulasi bahwa pasar yang selama ini memanas bisa mulai melunak.

“Saya melihat sebagian pembeli India mungkin akan menegosiasikan ulang kontrak properti mereka untuk mendapatkan kesepakatan terbaik. Yang lain mungkin mencari peluang dari aset bermasalah. Ada berbagai tipe pembeli dan investor, dan ketidakpastian kerap menciptakan peluang. Namun mereka perlu tetap ingat bahwa pembelian properti di luar negeri tunduk pada aturan Liberalised Remittance Scheme (LRS) India yang membatasi pengiriman dana tahunan serta melarang penggunaan leverage,” ujar Moin Ladha, mitra di firma hukum Khaitan & Co.

Investor mungkin menunggu pasar stabil sebelum mengambil keputusan baru. Menurut kepala riset ANAROCK, Prashant Thakur, penjualan off-plan atau transaksi properti yang dilakukan sebelum pembangunan selesai, biasanya paling terdampak dalam situasi ketidakpastian seperti ini.

Pengamat pemasaran sekaligus Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai konflik tersebut tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga mengguncang fondasi reputasi Dubai sebagai kota global yang aman dan stabil. “Memulihkan reputasi Dubai sebagai destinasi favorit bagi turis, trader, talent, investor (TTTI) pasca perang Iran bukan perkara cepat. Ini bukan sekadar soal memperbaiki gedung atau membuka kembali bandara. Ini soal memulihkan trust,” ujarnya, Jumat (6/3).

Menurut dia, fondasi utama merek kota tersebut adalah persepsi keamanan. Sebab Dubai selama ini dijual sebagai oasis stabil di kawasan yang penuh gejolak. "Sekali citra ‘aman dan kebal konflik’ retak, butuh waktu lama untuk meyakinkan dunia,” kata Yuswohady.

Ia menambahkan bahwa serangan rudal dan drone yang terjadi di langit Dubai serta turis yang terjebak di hotel-hotel mewah dapat membentuk memori kolektif negatif bagi wisatawan dan investor global. “Burj Khalifa, Burj Al Arab, Palm Jumeirah, Dubai Mall tak lagi landmark kemewahan Dubai. Tapi kini berbalik menjadi simbol kecemasan dan rasa takut,” ujarnya.

Yuswohady menilai reputasi kota tidak bisa dipulihkan hanya dengan kampanye promosi. Sebab dalam city branding, konsistensi jangka panjang jauh lebih penting daripada kampanye sesaat. Dan itu jelas butuh waktu. Di tengah konflik yang masih berlangsung, narasi Dubai sebagai “city of glitz and glamour”, magnet bagi masyarakat global kini menghadapi ujian terbesar dalam sejarah modernnya.

Editorial Team