Jakata, FORTUNE - Citra Dubai sebagai kota glamor dan pusat bisnis global mulai terguncang seiring eskalasi konflik di Timur Tengah. Perang udara antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang meluas memicu gangguan pada bisnis, perjalanan, hingga investasi di kawasan tersebut. Di sejumlah pusat perbelanjaan utama Timur Tengah, termasuk Dubai, banyak toko dilaporkan tutup atau beroperasi dengan jumlah staf terbatas.
Melansir Reuters, grup ritel Chalhoub Group, yang mengoperasikan sekitar 900 toko berbagai merek seperti Versace, Jimmy Choo, dan Sephora, menutup tokonya di Bahrain. Sementara gerai di Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Yordania masih buka, tetapi kehadiran karyawan bersifat sukarela. “Kami beroperasi dengan tim kecil yang terdiri dari anggota yang secara sukarela datang dan merasa nyaman untuk bekerja di toko,” ujar Wakil Presiden Komunikasi Chalhoub Group, Lynn al Khatib.
Gangguan juga meluas ke sektor logistik dan e-commerce. Amazon menutup operasi pusat pemenuhan pesanan di Abu Dhabi, menghentikan pengiriman di kawasan, serta meminta karyawan di Arab Saudi dan Yordania tetap berada di rumah, menurut laporan Business Insider yang mengutip memo internal perusahaan Sementara itu, Kering, pemilik Gucci, menutup sementara tokonya di Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Qatar serta menangguhkan perjalanan bisnis ke Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik tersebut langsung memukul sektor barang mewah global. Saham LVMH, Hermès, dan Richemont—pemilik Cartier—turun sekitar 4 persen hingga 5,7 persen ketika investor menilai dampak konflik terhadap bisnis global. Meski kontribusi Timur Tengah terhadap konsumsi barang mewah dunia hanya sekitar 5 persen hingga 10 persen, kawasan ini menjadi pasar dengan pertumbuhan tercepat tahun lalu menurut firma konsultan Bain. Gangguan perjalanan akibat penutupan bandara serta serangan rudal berpotensi menghentikan momentum tersebut.
“Jika diasumsikan pasar travel retail bernilai sekitar US$5 miliar hingga US$6 miliar dan ditutup selama sebulan, maka ratusan juta dolar pendapatan jelas berisiko hilang,” kata Victor Dijon, senior partner di konsultan Kearney.
Salah satu serangan bahkan merusak hotel bintang lima Fairmont The Palm di kawasan Palm Jumeirah, yang sebelumnya menjadi simbol kemewahan kota tersebut Bukan hanya sektor ritel dan pariwisata yang tertekan. Ketidakpastian geopolitik juga mulai memicu kekhawatiran di pasar properti Dubai yang selama beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan tajam.
