Comscore Tracker
LUXURY

5 Tempat Wisata Religi dan Bersejarah di Jawa Barat

Cocok untuk dikunjungi saat Ramadan dan libur Lebaran.

5 Tempat Wisata Religi dan Bersejarah di Jawa BaratMasjid Raya Bandung. Shutterstock/Gatot Adri

by Desy Yuliastuti

Jawa Barat, FORTUNE - Jawa Barat memiliki sejumlah destinasi wisata religi dan bersejarah yang bisa dikunjungi traveler untuk mengisi waktu di bulan suci Ramadan dan libur Lebaran. 

Mengunjungi wisata religi tak hanya menambah wawasan, tetapi sekaligus mendekatkan diri dengan Sang Ilahi melalui syiar Islam. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut ini rekomendasi destinasi wisata religi di Tanah Priangan.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa

Masjid Agung Sang Cipta Rasa menjadi salah satu saksi bisu perjuangan Wali Sanga dalam menyebarkan Islam di Tanah Jawa. Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah barat Alun-alun Sangkalabuwana, Kota Cirebon.

Berdasarkan informasi dari laman disbudpar.jabarprov.go.id, masjid ini dibangun pada tahun 1498 M oleh Wali Sanga atas prakarsa Sunan Gunung Jati pada tahun 1480. 

Proses pembangunannya pun dipimpin oleh Sunan Kalijaga dengan arsitek Raden Sepat (dari Majapahit) bersama dengan 200 orang pembantunya (tukang) yang berasal dari Demak. Alhasil bangunan masjid ini cukup unik karena menyajikan akulturasi budaya dengan gaya bangunan Hindu.

Dikisahkan dalam cerita rakyat, masjid ini dibangun dalam waktu satu malam, sehingga bisa digunakan untuk salat subuh keesokan harinya. Bila ditilik dari sisi lain, masjid yang menjadi destinasi wisata ikonik di Cirebon ini juga merupakan wujud rasa cinta Sunan Gunung Jati kepada istrinya, Nyi Mas Pakungwati.

Hal itulah yang membuat masjid ini awalnya dinamai Masjid Pakungwati. Pada 1970, nama tersebut diganti menjadi Masjid Sang Cipta Rasa, yang berasal dari pengejawantahan kepercayaan dan rasa.

Saat ini, orisinalitas bangunan masjid tersebut masih dipertahankan. Tiang-tiang penyangganya masih terbuat dari kayu. Bangunan masjid dibagi menjadi dua, yakni ruang utama dan serambi. Untuk masuk ke ruang utama, jemaah atau pengunjung harus menundukkan kepala. Sebab, pintu masuk ke ruang utama dibuat begitu kecil.

Salah satu kekhasan dari Masjid Sang Cipta Rasa ini adalah azan pitu atau azan yang dikumandangkan oleh tujuh muazin. Saat ini, hanya di waktu salat Jumat tradisi azan pitu dilakukan.

Azan pitu yang menjadi simbol perlawanan terhadap sosok Menjagan Wulu yang dengki dengan penyebaran Islam itu tetap dipertahankan hingga kini dan menjadi identitas Masjid Agung Sang Cipta Rasa.

Masjid Dian Al-Mahri atau Masjid Kubah Emas Depok

Masjid Dian Al-Mahri atau yang lebih dikenal dengan Masjid Kubah Emas Depok menjadi salah satu ikon wisata religi di Kota Depok. Banyak wisatawan dari dalam dan luar kota yang berkunjung ke masjid seluas 8.000 meter persegi ini. 

Dilansir dari laman disbudpar.jabarprov.go.id, penyebutan Kubah Emas diambil dari bentuk atap masjid yang memang dilapisi emas murni.

Masjid ini dibangun pada tahun 2001 dan rampung pada 2006 oleh pengusaha asal Banten, Hj. Dian Djuriah Maimun Al-Rasyid. Masjid ini dapat menampung kurang lebih 20.000 jemaah dan disebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara.

Pada bagian interiornya, masjid ini memiliki pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi. Pendiri masjid ini merepresentasikan bagunan megah di dalam masjid sebagai bukti kebesaran Allah.

Terletak di Jalan Raya Meruyung, Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, masjid ini sering dikunjungi tak hanya untuk ibadah saja. Banyak pengunjung yang datang sekaligus berfoto di halaman masjid. 

Jumlah pengunjung Masjid Kubah Emas biasanya akan lebih membludak ketika momen-momen tertentu seperti Idulfitri, Idul Adha, dan momen tertentu lainnya. 

Masjid Agung Al-Imam Majalengka

Cantik, megah, dan luas. Tiga kata itu rasanya belum cukup untuk menggambarkan Masjid Agung Al-Imam yang berada di sebelah barat Alun-alun Majalengka. Masjid terbesar di Kota Kuda ini memiliki desain yang estetik.

Masjid Agung Al-Imam dilengkapi dengan empat menara yang menjulang di setiap sisinya. Tampak dari luar, masjid ini dilengkapi ornamen yang detail dan indah. Hamparan rumput sintetis di pinggir masjid juga menjadi spot rehat yang menarik usai melaksanakan ibadah dalam masjid.

Masjid Al Imam ini merupakan wakaf atau peninggalan dari Kiai Imam Syafari, kakek dari pahlawan nasional KH Abdul Halim. Awalnya, masjid ini dibangun secara sederhana dengan bentuk panggung yang di bawahnya terdapat kolam kecil.

Renovasi masjid ini pun dilakukan secara bertahap hingga akhirnya pada masa Bupati Majalengka ke-6 R.M.A.A Salmon Salam Sura Adi Ningrat pada 1888, masjid ini mulai dirombak secara menyeluruh. Ubahan terakhir pada tahun 2019, pada masa jabatan Bupati Majalengka, Karna Sobahi.

Masjid Raya Bandung

Masjid Raya Bandung menjadi ikon yang cukup terkemuka dan sayang dilewatkan saat Anda berkunjung ke Bandung. Dua menara kembar setinggi 81 meter yang menjulang menjadi pemandangan menakjubkan bagi yang pertama kali bertandang. 

Tak hanya sebagai tempat ibadah, masjid ini menjadi titik kumpul masyarakat sekitar. Gubernur Jabar, Ridwan Kamil yang kala itu menjabat sebagai Wali Kota Bandung pun punya andil dalam mengubah wajah Masjid Raya Bandung, salah satunya dengan menjadikan lahan alun-alun menjadi lapangan rumput sintetis.

Pertama kali dibangun pada tahun 1810, Masjid Raya Bandung yang sebelumnya bernama Masjid Agung dibangun bersamaan dengan dipindahkannya pusat Kota Bandung dari Krapyak. 

Awalnya, bentuk bangunan masjid ini berbentuk panggung tradisional yang sederhana, bercorak Sunda dengan kolam besar untuk mengambil air wudhu. Namun, seiring waktu, masjid yang memiliki luas 8.573 meter persegi ini telah mengalami renovasi.

Tercatat dalam sejarah, menjelang Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, Masjid Agung Bandung mengalami perombakan besar-besaran. Atas rancangan Presiden RI pertama, Soekarno, Masjid Agung Bandung mengalami perubahan total, di antaranya kubah dari sebelumnya berbentuk "nyungcung" menjadi kubah persegi empat bergaya timur tengah seperti bawang.

Model kubah "nyungcung" bentukan Soekarno itu hanya bertahan kurang lebih 15 tahun, setelah rusak akibat tiupan angin kencang. Perombakan wajah Masjid Raya Bandung terus dilakukan sampai pada 2001 zaman Gubernur Jabar H.R. Nuriana.

Makam Sunan Gunung Jati

Makam ini patut dikunjungi sebab dibangun dengan desain yang unik kombinasi gaya tiga negara, yaitu Ciina, Indonesia, dan Arab. daMakam ini juga tidak pernah sepi pengunjung, terlebih lagi pada hari besar keagamaan baik itu acara Maulid Nabi Muhammad ataupun acara lain yang bersifat religius.Pengunjung yang datang ke Makam Sunan Gunung Jati bukan hanya didominasi warga Jawa Barat, tapi dari berbagai daerah di Indonesia.

Makam Sunan Gunung Jati merupakan salah satu dari sembilan makam Walisongo yang sering dijadikan destinasi wisata religi atau tempat ziarah. Makam Sunan Gunung Jati terletak di Gunung Sembung yang masuk  Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon.

Seperti makam Walisongo yang lain, makam Sunan Gunung Jati berada di dalam tungkub berdampingan dengan makam Fatahillah, dan Syarifah Muda’im.

Selain itu juga berdampingan dengan Nyi Gedeng Sembung, Nyi Mas Tepasari, Pangeran Dipati Carbon I, Pangeran Jayalelana, Pangeran Pasarean, Ratu Mas Nyawa, dan Pangeran Sedeng Lemper.

Related Articles