Comscore Tracker
LUXURY

Alih-alih Membuang Barang, Brand Mewah Terapkan Fesyen Berkelanjutan

Louis Vuitton bikin koleksi daur ulang.

Alih-alih Membuang Barang, Brand Mewah Terapkan Fesyen BerkelanjutanIlustrasi gerai Louis Vuitton. Shuterstock/Sorbis

by Desy Yuliastuti

Jakarta, FORTUNE - Di dunia industri barang mewah Prancis menjadi hal lumrah jika rumah mode ternama memilih menghancurkan barang-barang yang tidak terjual daripada menawarkan produk-produk mahal mereka dengan diskon.

Pada tahun 2018 lalu misalnya, Burberry dikabarkan membuang stok barang yang tidak terjual dengan mengirimkannya ke tempat pembuangan sampah atau membakarnya sebagai alternatif. Berbagai produk dimusnahkan, mulai dari pakaian, aksesori, dan parfum senilai total lebih dari Rp500 miliar. 

Ternyata, tak hanya Burberry yang melakukan ini, tetapi juga sejumlah brand mewah lainnya, seperti Louis Vuitton, Cartier, dan lain sebagainya.

Seiring waktu, pada 2012 pemerintah Perancis mengeluarkan undang-undang anti limbah yang mewajibkan seluruh masyarakat untuk meminimalisasi sampah. Untuk meningkatkan efektivitas, pemerintah juga melakukan kerja sama dengan mengajak sektor privat untuk bergabung. Setelah itu, para brand tidak lagi membuang mantel, tas tangan, atau sepatu yang tidak terjual. 

Mengelola stok dan menerapkan daur ulang

Rumah mode mulai memilih untuk mengelola stok barang dengan hati-hati. The Kering grup misalnya, yang menaungi jenama Gucci, Saint Laurent, dan Balenciaga, telah berinvestasi dalam kecerdasan buatan untuk mengelola stok dengan lebih baik.

Langkah serupa dilakukan pesaingnya LVMH grup yang menaungi Louis Vuitton, Dior, Celine, dan brand mewah dunia lainnya. Direktur pengembangan lingkungan Helene Valade mengatakan, model bisnis mewah sangat disesuaikan dengan permintaan dengan terbatasnya stok yang disediakan perusahaan.

Untuk menyiasati persediaan stok lama, para desainer juga mulai menerapkan langkah fesyen berkelanjutan melalui upcyling. "Sebelumnya, seorang desainer dengan ide cemerlang akan mencari bahan untuk mewujudkan ide mereka," kata Valade dari LVMH kepada AFP, dilansir dari Channel news Asia, Senin (7/2).

LVMH juga memiliki kemitraan dengan WeTurn, yang mengumpulkan pakaian dan bahan yang tidak terjual untuk didaur ulang menjadi benang dan kain baru.

Menariknya, para desainer juga berperan dengan memanfaatkan bahan bekas atau sisa untuk mendaur ulang dan menjadikan barang baru yang lebih bernilai. Contohnya yang dilakukan Louis Vuitton.

Louis Vuitton dan fesyen upcycling

Gerakan berkelanjutan melalui upcycling dilakukan mendiang oleh Virgil Abloh, desainer fenomenal Louis Vuitton yang meninggal pada 2021 lalu. Dia membuat koleksi SS21 sebagai cara untuk menunjukkan komitmen rumah mode mewah tersebut untuk menata ulang produk Louis Vuitton secara kreatif dan berkelanjutan. Desain yang inovatif berhasil diciptakan melalui proses bongkar pasang.

Untuk membuat koleksi daur ulang berkelanjutan musim ini, LV Trainer 2019 asli dibongkar dan dikerjakan ulang selama proses produksi kreatif di bengkel sepatu khusus Louis Vuitton di Fiesso d'Artico.

LV Trainer Upcycling yang baru mencakup desain yang diperbarui menggunakan bahan pokok dari kulit anak sapi dan suede, selain itu juga menampilkan tali berwarna tie-dye. Bagian belakang sepatu memiliki "LV Upcycling" dengan motif bunga Monogram dan lebih banyak aksen branding. Untuk menyempurnakan sepatu, tanda fluorescent ditampilkan di kaki kanan, dengan logo Louis Vuitton, hasil akhir khas yang identik dengan Virgil Abloh.

Upaya serupa juga dilakukan Marc Jacobs di New York bekerja dengan Fabscrap. Mereka mendaur ulang kain yang tidak digunakan untuk membuat insulasi atau produk seperti pelapis furnitur, atau menyumbangkannya kepada siswa dan seniman untuk digunakan dalam kreasi mereka. 

Brand mewah lainnya, Hermès mengatakan pada tahun 2020 telah menjual 39.000 produk upcycled. “Kegiatan yang paling merusak adalah fashion, leather goods, dan kosmetik. Sejak 2014, Hermes hampir tidak membuang apa pun,” kata portfolio manager Cadart.

Related Articles