Kinerja Prada Menguat, Strategi Baru untuk Versace Mulai Disiapkan

Jakarta, FORTUNE - Grup mode mewah Italia, Prada Group, mulai mengungkap arah strategis bagi Versace setelah mengakuisisi rumah mode tersebut. Langkah ini disampaikan bersamaan dengan laporan kinerja keuangan 2025 yang mencatat pertumbuhan selama 20 kuartal berturut-turut.
Ketua eksekutif Prada Group, Lorenzo Bertelli, mengatakan direktur kreatif baru Versace, Pieter Mulier, akan memulai perannya pada 1 Juli dan dijadwalkan mempersembahkan koleksi pertamanya pada awal tahun depan. Ia juga akan menghidupkan kembali lini couture Atelier milik Versace.
Sementara itu, lini Versace Jeans Couture yang sebelumnya dilisensikan kepada Swinger International akan dihentikan, sehingga tidak lagi ada submerek di bawah Versace.
Melansir Women's Wear Daily, Bertelli menyebut akuisisi ini sebagai babak baru bagi grup tersebut. “Saya sangat bersemangat dengan babak baru bersama Versace. Kami menyambut sebuah merek yang telah membentuk sejarah mode dan glamor seperti yang kita kenal saat ini,” kata Bertelli.
Ia menilai Versace memiliki tingkat kesadaran merek yang tinggi serta daya tarik bagi basis pelanggan yang beragam. Menurutnya, merek tersebut juga memiliki legitimasi kuat di dunia haute couture serta portofolio produk yang luas, dengan keseimbangan antara kategori pria dan perempuan.
“Karena itu, kami percaya merek ini memiliki banyak potensi pertumbuhan yang belum tergarap,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa proses transformasi tersebut tidak akan terjadi dalam waktu singkat.
Sebagai bagian dari restrukturisasi, Emmanuel Gintzburger kini menjabat sebagai Chief Executive Officer Versace.
Prada Group berencana secara bertahap mengarahkan Versace pada strategi yang lebih menekankan kualitas produk, penjualan dengan harga penuh, serta distribusi yang lebih terkontrol. Perusahaan juga akan mengoptimalkan jaringan ritel dan menyatukan berbagai proses operasional dalam grup.
CEO Prada Group, Andrea Guerra, mengatakan Versace akan tetap berdiri sebagai merek independen, tetapi akan memanfaatkan platform manufaktur milik Prada Group.
“Versace, sambil tetap independen, akan memanfaatkan platform Prada Group untuk semua potensi dan kemungkinan produksi. Tentu saja kami sudah mulai merencanakannya,” kata Guerra.
Grup tersebut juga mengumumkan kembalinya Luca Carraro ke perusahaan setelah sebelumnya bekerja di Valentino. Ia kini menjabat sebagai Chief Operation Industrial Officer Versace.
Versace nantinya akan memanfaatkan jaringan produksi Prada Group yang terdiri dari 25 fasilitas industri, dua di antaranya berada di luar Italia. Ketua dan direktur eksekutif grup, Patrizio Bertelli, menyebut infrastruktur manufaktur sebagai salah satu kekuatan utama perusahaan.
“Platform manufaktur kami adalah kekuatan utama yang mendukung kualitas, keahlian kerajinan, serta kelincahan operasional yang dibutuhkan pasar,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.
Melansir Reuters, menanggapi pertanyaan analis mengenai rasionalisasi pemasok, Guerra mengatakan proses tersebut sudah dimulai sejak pandemi COVID-19, ketika perusahaan memperkuat infrastruktur produksi internal.
“Kami memulai perjalanan ini sejak COVID, dengan membangun infrastruktur manufaktur internal yang lebih kuat,” katanya.
Dia menambahkan bahwa pihaknya memangkas pemasok yang lebih lemah dan memberikan lebih banyak pekerjaan kepada pemain yang lebih terorganisasi.
Capaian dan proyeksi 2026

Pada 2025, penjualan Versace mencapai 684 juta euro. Chief Financial Officer, Andrea Bonini, mengatakan 2026 akan menjadi masa transisi bagi merek tersebut seiring perubahan kepemimpinan kreatif.
“Tahun 2026 akan menjadi tahun transisi bagi merek ini ketika kami menavigasi perubahan kepemimpinan kreatif,” ujar Bonini.
Ia memperkirakan Versace masih akan mencatat kerugian operasional pada 2026, dengan besaran yang relatif serupa dengan tahun sebelumnya.
Secara keseluruhan, pendapatan Prada Group pada 2025 meningkat 5 persen menjadi 5,72 miliar euro dari 5,43 miliar euro pada 2024. Akuisisi Versace yang selesai pada 2 Desember menyumbang pendapatan sebesar 65 juta euro sejak saat itu. Tanpa kontribusi Versace, pertumbuhan penjualan organik grup mencapai 8 persen pada nilai tukar konstan.
Kinerja tersebut menandai 20 kuartal berturut-turut pertumbuhan bagi perusahaan mode mewah asal Italia tersebut.
Laba bersih naik tipis 2 persen menjadi 852 juta euro dibandingkan 839 juta euro pada tahun sebelumnya.
“Dari sisi profitabilitas, tanpa Versace, kami tetap menargetkan peningkatan margin secara organik,” kata Guerra.
Namun, ia memperkirakan konsolidasi Versace akan memberi tekanan sementara terhadap margin laba operasional pada 2026, sebelum kembali membaik mulai 2027.
Pada 2025, kanal ritel menjadi kontributor utama dengan penjualan mencapai 5,1 miliar euro, naik 5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Secara organik, penjualan ritel tumbuh 8,2 persen.
Dari sisi merek, penjualan ritel merek Prada turun 1 persen menjadi 3,4 miliar euro, meski pada kuartal keempat meningkat 0,4 persen. Pertumbuhan terutama didorong oleh pasar Tiongkok daratan, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika.
Sepanjang tahun, Prada membuka sejumlah lokasi baru, termasuk fasilitas hospitality di Shanghai dan Singapura, toko baru di New York, serta Prada Alexandra House di Hong Kong.
Di sisi lain, merek Miu Miu mencatat lonjakan signifikan. Penjualan ritelnya naik 35 persen pada nilai tukar konstan menjadi 1,5 miliar euro, meskipun dibandingkan dengan basis tinggi tahun sebelumnya ketika pertumbuhan mencapai 93 persen.
Pada kuartal keempat, penjualan Miu Miu meningkat 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Jika melihat tren empat kuartal terakhir, jelas bahwa kami mulai memasuki fase normalisasi pertumbuhan yang akan berlanjut sepanjang 2026,” kata Guerra.
Ia menambahkan bahwa sekitar lima hingga 10 toko Miu Miu baru akan dibuka pada 2026, meskipun ekspansi ruang ritel utama untuk merek tersebut hampir selesai.
Sementara itu, merek sepatu Church’s mencatat pertumbuhan 7 persen menjadi 34 juta euro, didorong oleh peningkatan penjualan di toko yang sudah ada.
Pada 2025, kawasan Asia-Pasifik mencatat pertumbuhan ritel sebesar 6 persen menjadi 1,7 miliar euro. Secara organik, wilayah ini tumbuh 10 persen pada nilai tukar konstan.
Menurut Bonini, pasar Tiongkok menunjukkan perbaikan signifikan secara kuartalan berkat konsumsi domestik yang meningkat serta pemulihan belanja perjalanan.
Guerra menambahkan bahwa perusahaan mulai melihat peningkatan jumlah pelanggan baru di pasar tersebut.
“Kami cukup sukses menarik pelanggan baru, sesuatu yang sudah lama tidak kami lihat di Tiongkok. Saya tidak ingin mengatakan Tiongkok sudah sepenuhnya pulih, tetapi langkah dan perkembangannya berjalan ke arah yang tepat,” ujarnya.
Penjualan ritel di Eropa meningkat 2 persen menjadi 1,56 miliar euro, sementara kawasan Amerika mencatat pertumbuhan dua digit sepanjang tahun dan naik 12 persen menjadi 932 juta euro.
Di Jepang, penjualan tercatat stabil di 656 juta euro pada nilai tukar saat ini, namun meningkat 3 persen secara organik setelah lonjakan wisatawan pada tahun sebelumnya.
Sementara itu, Timur Tengah mencatat pertumbuhan 11 persen menjadi 251 juta euro, dengan pertumbuhan organik mencapai 15 persen.


















