Dua Tahun From This Island, Perkuat Bisnis Skincare Lewat R&D

Jakarta, FORTUNE - Memasuki tahun kedua, From This Island tak sekadar merayakan pertumbuhan jumlah produk. Di balik 27 SKU yang kini telah dirilis dengan bahan baku lokal dari Jawa, Papua, Kalimantan, Sumatera, dan Bali, tersimpan rangkaian keputusan strategis yang membentuk arah bisnis sejak awal.
CEO & Co-Founder From This Island, Maudy Ayunda, menegaskan bahwa fondasi utama brand ini terletak pada upaya memodernisasi kearifan lokal melalui pendekatan ilmiah. Perusahaan memilih jalur yang tidak lazim, yakni membangun rantai pasok sendiri sekaligus berinvestasi besar pada riset dan pengembangan (R&D).
"Kami membangun untuk puluhan tahun ke depan, bukan sekadar untuk peluncuran produk yang viral. Salah satu langkah nyata kami adalah mengakuisisi paten teknologi dari Dr. Rudy yang telah melalui proses riset selama 12 tahun sebelum akhirnya siap kami bawa ke pasar, yang kami beri nama Lumera" ungkap Maudy dalam Intimate Gathering di Noesaka Restaurant, Jakarta, Selasa (28/4).
Ia menambahkan, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemain dalam rantai nilai industri kecantikan global. "Karena pada satu titik, ini menjadi sebuah pertanyaan: kalau bukan kita, lalu siapa?"
Namun, perjalanan itu tidak lepas dari tantangan. Rantai pasok bahan lokal yang masih berkembang dan kebutuhan investasi jangka panjang dalam riset menjadi konsekuensi yang harus dihadapi.
Di sisi komersial, CBO & Co-Founder From This Island, Patricia Davina, menekankan pentingnya disiplin dalam menentukan arah pasar. Sejak awal, perusahaan memilih untuk mempersempit target audiens, alih-alih mencoba menjangkau semua segmen.
âJadi itu salah satu hal yang penting kita bilang tidak. Karena yang kita putuskan adalah target audiensi kita akan 18-34 tahun, dengan 25-34 tahun yang dominan. Dan kita fokus pada itu,â ujar Patricia.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut juga tercermin dalam strategi distribusi yang saat ini masih didominasi kanal digital, termasuk platform seperti TikTok Shop serta mitra seperti Sociolla dan Watsons, sebelum mulai memperluas ke kanal offline tahun ini.
Dalam membangun bisnis, investasi menjadi aspek krusial. Patricia mengungkapkan bahwa porsi terbesar dialokasikan pada tiga area utama: riset, sumber daya manusia, dan pemasaran. âTentunya R&D is a big investment for us, karena tidak hanya kita harus berinvestasi pada metode baru, kita juga investasi banyak pada development dan research. Kedua, manpower, karena kami percaya perusahaan hanya akan sebaik orang-orang di dalamnya. Dan terakhir marketing, karena tanpa itu sangat sulit untuk memiliki visibilitas di pasar,â jelasnya.
Meski demikian, menjaga kualitas tetap menjadi prinsip yang tidak ditawar. Dalam dua tahun pertama, perusahaan kerap dihadapkan pada tekanan biaya hingga persaingan harga yang ketat.
âKami secara konsisten menolak untuk menurunkan standar kualitas formulasi, meskipun margin bisa lebih sehat jika kami melakukannya. Sebuah brand tidak didefinisikan oleh apa yang ia iyakan, tapi oleh apa yang berani ia tolak bahkan ketika berkata âtidakâ itu mahal harganya,â ujar Patricia.
Pengalaman membangun brand juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan tidak selalu berjalan mulus. Perusahaan pernah menghadapi kegagalan produksi yang memaksa pengulangan dari awal, sekaligus menjadi pelajaran dalam membangun sistem yang lebih kuat. âKesuksesan sejati tidaklah bersifat linier. Bukan garis lurus ke atas tapi garis berliku yang terus bergerak maju. Dan pada akhirnya, sukses adalah kemampuan untuk terus berjalan melewati kekacauan itu, lagi dan lagi, tanpa kehilangan semangat,â ungkap Patricia.
Sementara itu, Maudy menyoroti momen ketika produk tertentu mulai menemukan kecocokan dengan pasar (product-market fit). Salah satunya terjadi saat peluncuran produk yang langsung mendapat respons tinggi dari konsumen.
âAda produk yang secara respons pasar sangat baik dan kami sold out dalam waktu seminggu atau 10 hari. Setelah itu pre-order, habis lagi, dan berulang. Itu momen di mana kami merasa berbicara dalam skala yang berbeda,â ujarnya.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa tidak semua produk tumbuh dengan pola yang sama. Beberapa membutuhkan waktu lebih lama, tetapi menunjukkan konsistensi dari sisi penggunaan ulang dan loyalitas pelanggan.
Di luar aspek bisnis, From This Island juga menempatkan dampak sosial sebagai bagian dari pertumbuhan. "Semakin dekat, semakin bertanggung jawab," ujar Maudy, merujuk pada prinsip âProximity Creates Responsibilityâ.
Hingga Maret 2026, melalui program For The Forest, perusahaan telah menanam 460 pohon di Kalimantan Barat pada 2024 dan 1.000 pohon di Sei Gohong, Kalimantan Tengah, pada 2026. Selain itu, dukungan terhadap pendidikan anak-anak di Sentani, Papua, serta bantuan kemanusiaan di wilayah terdampak banjir di Sumatera juga menjadi bagian dari inisiatif sosial mereka.
Dengan kombinasi strategi berbasis riset, fokus pasar yang terarah, serta komitmen terhadap dampak sosial, From This Island berupaya membangun fondasi bisnis yang tidak hanya relevan dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan di masa depan.



















