Terimpit Utang Saat Pasar Seni Lesu, Sotheby’s Putar Strategi Keuangan

Jakarta, FORTUNE - Rumah lelang Sotheby's menawarkan bunga hingga 7 persen kepada penjual yang bersedia menunda pencairan hasil penjualan karya seni mereka. Kebijakan ini muncul di tengah tekanan likuiditas yang dihadapi perusahaan akibat melemahnya pasar seni global.
Pada pertengahan 2025, Sotheby’s memperkenalkan skema “extended settlement terms payments option”. Melansir Financial Times, menurut tiga sumber yang mengetahui kebijakan tersebut. Salah satu sumber menyebutkan bahwa rumah lelang itu sempat menawarkan bunga hingga 8 persen untuk penjualan properti seni bernilai lebih dari US$30 juta, jika penjual bersedia membiarkan sebagian dana mereka ditahan setidaknya selama enam bulan. Namun, tingkat bunga tersebut kemudian diturunkan setelah Federal Reserve memangkas suku bunga tahun lalu.
Sumber lain juga mengungkapkan bahwa Sotheby’s sebelumnya pernah menahan dana klien melebihi jangka waktu yang tercantum dalam syarat dan ketentuan perusahaan.
Sotheby’s diakuisisi oleh miliarder Prancis-Israel Patrick Drahi pada 2019 melalui skema leveraged buyout. Sejak saat itu, perusahaan harus menghadapi beban utang yang besar di tengah menurunnya permintaan terhadap karya seni.
Menurut laporan Art Basel and UBS Global Art Market Report, pasar seni global menyusut 16 persen dalam periode 2022 hingga 2024, sebelum mencatat pertumbuhan tipis sebesar 4 persen pada tahun lalu.
Kerugian sebelum pajak Sotheby’s juga melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$248 juta pada 2024. Laporan keuangan menunjukkan perusahaan memiliki kewajiban kepada klien lebih dari US$1 miliar—turun dari US$1,7 miliar pada akhir 2023. Sementara itu, total penjualan pada 2025 mencapai US$7,1 miliar, meningkat dari US$6 miliar pada tahun sebelumnya.
Drahi dikenal dengan pendekatan rekayasa keuangan yang agresif dan juga menerapkan berbagai metode untuk menunda pembayaran kepada pemasok di kerajaan telekomunikasinya, Altice, yang tengah menghadapi tekanan.
Sotheby’s saat ini menyandang peringkat kredit junk akibat tingginya utang. Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings bahkan memperingatkan pada November lalu bahwa peringkat tersebut dapat kembali diturunkan jika perusahaan tidak mampu mengatasi jatuh tempo utangnya tepat waktu.
Menurut sumber internal, penundaan pembayaran kepada klien sebenarnya telah menjadi praktik yang cukup umum, terutama saat arus kas perusahaan tertekan pada periode tertentu.
“Hal itu sangat umum terjadi karena tekanan finansial luar biasa yang dihadapi perusahaan pada 2024 dan 2025, sehingga perusahaan secara rutin menahan pembayaran klien di akhir kuartal yang sulit,” ujar sumber tersebut.
Ia menambahkan, dana yang seharusnya dibayarkan kepada klien sering kali ditunda hingga awal kuartal berikutnya. “Banyak klien yang sangat kaya bahkan tidak menyadari hal ini.”
Menanggapi hal tersebut, Sotheby’s menyatakan bahwa opsi pembayaran dengan penundaan merupakan “salah satu dari sejumlah inovasi” untuk memberikan fleksibilitas finansial kepada klien. Perusahaan menegaskan sedang berada dalam posisi keuangan yang sangat kuat setelah memimpin pasar seni pada 2025. Selain itu, beroperasi sesuai dengan praktik pasar dan industri yang telah lama berlaku serta menawarkan berbagai opsi penyelesaian kepada klien.
Secara standar, Sotheby’s menyatakan akan membayar penjual dalam waktu 45 hari setelah transaksi, dengan catatan pembeli telah melunasi pembayaran. Sementara itu, pesaingnya, Christie's, menetapkan periode pembayaran sekitar 35 hari.
Namun, seorang penasihat seni mengungkapkan bahwa kliennya baru menerima pembayaran delapan bulan setelah penjualan koleksi puluhan karya di Sotheby’s. Ia menilai ketentuan perusahaan yang mensyaratkan pembayaran dilakukan setelah seluruh item dalam satu koleksi terjual, sebagai hal yang tidak lazim. Sumber lain yang memahami praktik internal Sotheby’s menegaskan bahwa ketentuan pembayaran tersebut “merupakan hasil pertimbangan kontrak tertentu dan bukan praktik bisnis yang umum.”


















