Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Luce, Ketika Ferrari Memulai dari Nol

Luce, Ketika Ferrari Memulai dari Nol
Luce, kendaraan listrik (EV) pertama yang diproduksi oleh pabrikan otomotif asal Italia, Ferrari. Dok: Ferrari S.p.A
Intinya Sih
5W1H
  • Ferrari resmi memperkenalkan mobil listrik pertamanya bernama Luce di Roma, menandai langkah besar menuju era elektrifikasi tanpa meninggalkan identitas emosional khas merek tersebut.
  • Luce dibekali empat motor listrik independen bertenaga total 1.050 hp, akselerasi 0–100 km/jam dalam 2,5 detik, serta baterai 122 kWh buatan Maranello dengan jarak tempuh lebih dari 530 km.
  • Desain dan pengalaman berkendara Luce dikembangkan bersama LoveFrom untuk menghadirkan sensasi Ferrari sejati melalui inovasi suara asli motor listrik, interior futuristik lima penumpang, dan lebih dari 60 paten baru.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Roma, FORTUNE - Bangunan putih menyerupai layar kapal itu menjulang dari kejauhan. Orang-orang Roma mengenalnya sebagai Vela di Calatrava–Città dello Sport di Roma—proyek ambisius yang sempat dirancang menjadi ikon baru ibu kota Italia, namun mangkrak bertahun-tahun setelah krisis keuangan global 2008 menghantam Eropa. Kini, bangunan itu akhirnya hidup kembali. Bukan sebagai arena olahraga, melainkan panggung bagi salah satu pertaruhan terbesar dalam sejarah Ferrari.

Roma—yang berjarak 400 km dari Maranello—adalah lokasi Ferrari meraih kemenangan pertamanya, pada hari yang sama tahun 1947, ketika Ferrari 125 S memenangi Gran Premio di Roma di sirkuit Baths of Caracalla. Pada hari bersejarah itu, pembalap Franco Cortese memulai legenda kesuksesan yang saat itu nyaris tak terbayangkan. Dan, 79 tahun kemudian, Ferrari kembali ke Roma untuk memperkenalkan proyek yang menegaskan komitmennya dalam mendefinisikan ulang batas dari apa yang bisa dicapai.

Sore itu, sekitar 200 jurnalis dari berbagai negara berdiri dalam antrean panjang di pintu masuk. Sebelum masuk ke area utama, petugas memeriksa ponsel, laptop, kacamata pintar para tamu secara satu per satu. Lensa kamera, depan dan belakang, harus ditutup stiker merah. Tidak ada yang boleh memotret, merekam, dari awal hingga akhir acara, bahkan 12 jam setelahnya. 

Malam itu menjadi kali pertama Ferrari memperkenalkan mobil listriknya. Namanya Luce, yang dalam bahasa Italia berarti “cahaya”. Sebuah nama yang terdengar ironis untuk mobil listrik berbobot lebih dari dua ton.

Namun, justru di situlah inti dari ambisi ini. Ferrari tidak sedang meninggalkan mesin pembakaran internal—yang menjadi sumber identitas, suara, dan emosi merek berlambang kuda jingkrak itu—melainkan membuka cabang baru: era elektrifikasi.

“Ferrari tidak pernah didefinisikan oleh apa yang menggerakkannya. Ferrari selalu didefinisikan oleh apa yang membuat Anda merasakan sesuatu,” kata John Elkann, Executive Chairman Ferrari.

Di atas panggung, CEO Ferrari, Benedetto Vigna, tampil tanpa euforia berlebihan. Tidak ada presentasi teknis berlebihan khas perusahaan teknologi Silicon Valley. Tidak ada jargon yang dipaksakan. Yang dibicarakan justru emosi, jiwa, dan pengalaman. Pria yang menjabat sebagai orang nomor satu di Ferrari sejak 2021 itu pun tampil apa adanya: jas biru tanpa dasi. 

“Inovasi dimulai dari emosi,” katanya. “Karena emosi adalah bagian terdalam manusia.”

Ferrari menyadari sedang menghadapi dilema besar. Di satu sisi, regulasi emisi global mendorong elektrifikasi. Di sisi lain, pelanggan Ferrari membeli mobil bukan sekadar untuk berpindah tempat. Mereka membeli sensasi: suara mesin V12 yang meraung, getaran perpindahan gigi, hingga tarikan saat pedal diinjak penuh sang pengemudi. Hal-hal yang nyaris hilang dalam mobil listrik.

Menurut Benedetto, Ferrari mengambil dua keputusan penting sejak awal pengembangan Luce lima tahun lalu. 

“Pertama, kami harus memulai dari Ferrari, bukan dari teknologi listrik. Kedua, kami harus memulai dari dimensi manusia—dari jiwa,” katanya.

Keputusan itu terdengar sederhana. Namun, konsekuensinya tidaklah kecil. Ferrari tidak ingin sekadar membuat EV yang bisa melaju cepat. Mereka ingin menciptakan mobil listrik yang tetap terasa seperti Ferrari. Seluruh pengalaman berkendara pun harus dibangun ulang dari nol.

Untuk mengembangkan Luce, Ferrari mengambil langkah yang tidak lazim dengan menggandeng LoveFrom, kolektif desain yang didirikan Sir Jony Ive dan Marc Newson. Jony Ive dikenal sebagai sosok di balik desain berbagai produk Apple, mulai dari iPhone hingga MacBook. 

“Kami ingin orang dari luar ikut membangun Luce,” kata Benedetto.

Flavio Manzoni, Head of Design Ferrari, menyebut proyek ini sebagai salah satu pekerjaan paling radikal dalam kariernya. 

“Selama bertahun-tahun, Ferrari berkembang secara evolusioner. Tetapi, kali ini kami membutuhkan perspektif yang benar-benar baru,” ujarnya.

Tombol mekanik aluminium, saklar analog, dan kenop fisik tetap dipertahankan pada Ferrari Luce.jpg
Tombol mekanik aluminium, saklar analog, dan kenop fisik tetap dipertahankan pada Ferrari Luce. Dok: Ferrari S.p.A

Baterai dari Maranello

Mobil ini menggunakan empat motor listrik independen—satu di setiap roda—dengan tenaga mencapai 1.050 hp atau 772 kW. Ferrari mengklaim akselerasi 0–100 km/jam bisa dicapai dalam 2,5 detik, sementara 0–200 km/jam hanya membutuhkan 6,8 detik. Kecepatan maksimalnya menembus 310 km/jam.

Empat motor independen itu bukan sekadar soal tenaga besar. Sistem tersebut memungkinkan distribusi torsi diatur secara presisi ke masing-masing roda dalam hitungan milidetik. Ferrari menyebut teknologi ini membuat Luce mampu bergerak lebih presisi dan alami dibanding mobil sport listrik konvensional.

Bobot memang menjadi problem klasik mobil listrik. Baterai besar membuat hampir semua EV performa tinggi berbobot lebih dari dua ton. Ferrari Luce sendiri memiliki bobot 2.260 kilogram. Namun, Ferrari mengatakan karakter handling-nya terasa seperti mobil dengan bobot 400 kilogram lebih ringan.

Hal itu dicapai lewat penempatan baterai di lantai bawah mobil untuk menurunkan pusat gravitasi, distribusi bobot 47:53, serta sistem suspensi aktif terbaru yang dikembangkan dari hypercar Ferrari F80. Ferrari juga merancang aerodinamika Luce secara ekstrem. Prosesnya memakan waktu lebih dari lima tahun, melibatkan ribuan simulasi CFD, dan ratusan jam pengujian di terowongan angin.

Salah satu perubahan terbesar Luce justru ada di kabin. Berkat platform listrik baru tersebut, untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan, Ferrari menghadirkan mobil lima penumpang dengan empat pintu dan bagasi hampir 600 liter. Arsitektur listrik memungkinkan ruang interior jauh lebih lega karena tidak ada gearbox besar maupun terowongan tengah seperti Ferrari pada umumnya.

Interiornya sendiri sangat berbeda dibanding Ferrari konvensional. Tombol mekanik aluminium, saklar analog, dan kenop fisik tetap dipertahankan, tetapi dipadukan dengan layar OLED buatan Samsung Display. 

Bagian paling menarik dari Luce mungkin justru soal suara. Ferrari memahami bahwa suara mesin adalah bagian dari identitas mereka. Karena itu, mereka menolak membuat suara palsu seperti banyak mobil listrik lain. Sebagai gantinya, Ferrari memasang sensor khusus pada gardan belakang untuk menangkap vibrasi asli motor listrik dan komponen mekanis secara real-time. Suara itu lalu diproses dan diperkuat seperti amplifier gitar listrik. 

Pengemudi juga bisa mengatur level karakter suara melalui e-Manettino—mulai dari mode senyap hingga mode performa penuh. Ferrari bahkan menciptakan sistem baru bernama Torque Shift Engagement. Sistem ini memungkinkan pengemudi mengatur level tenaga dan engine braking menggunakan paddle di setir, menciptakan sensasi interaksi yang biasanya hilang di mobil listrik.

Ferrari menegaskan sistem ini bukan simulasi perpindahan gigi palsu, melainkan “bahasa torsi baru” untuk era elektrifikasi.

Ferrari tampak sangat berhati-hati menjaga identitas Luce. Tidak seperti EV lain yang sering berkolaborasi dengan perusahaan baterai eksternal, mereka justru membuat semuanya sendiri di Maranello, markas mereka. 

Baterai 122 kWh milik Luce mendukung arsitektur 800 volt dan fast charging hingga 350 kW. Ferrari mengklaim mobil ini bisa mengisi ulang 70 kWh hanya dalam 20 menit. Jarak tempuhnya mencapai lebih dari 530 kilometer. 

Ferrari juga menyebut proyek Luce menghasilkan lebih dari 60 paten baru. Mulai dari sistem suara, manajemen torsi, aerodinamika aktif, hingga struktur baterai yang menjadi bagian struktural sasis mobil.

Satu hal yang sangat menyita perhatian adalah kunci mobil yang hadir menggunakan Corning Gorilla Glass dan layar E Ink—teknologi yang biasa dipakai di perangkat seperti Amazon Kindle. Ferrari menyebut penggunaan E Ink ini sebagai yang pertama di industri otomotif. Teknologi tersebut memungkinkan tampilan pada kunci berubah tanpa terus-menerus menguras daya baterai.

Namun, yang paling menarik adalah ritual saat kunci dimasukkan ke docking di konsol tengah. Alih-alih sekadar menyalakan kendaraan, Ferrari menciptakan semacam pengalaman teatrikal: warna kuning khas Ferrari mengalir dari kunci ke seluruh antarmuka digital mobil sebelum sistem berkendara aktif sepenuhnya. Bagi Ferrari, kunci bukan cuma alat akses, melainkan hubungan emosional antara pengemudi dan mobilnya.

Desain Luce terlihat jauh berbeda dibandingkan dengan Ferrari pada umumnya. Siluetnya rendah dan memanjang, dengan kabin menyerupai glass house futuristik. Tidak ada elemen agresif berlebihan. Tidak ada lubang udara dramatis yang biasanya menjadi ciri mobil performa tinggi. Semuanya dibuat lebih bersih, lebih mulus, dan lebih aerodinamis.

Mobil ini juga menunjukkan perubahan filosofi Ferrari terhadap konsumennya. Ferrari tampaknya mulai melihat bahwa pelanggan generasi baru tidak lagi membeli mobil sport hanya untuk akhir pekan atau sirkuit balap. Mereka menginginkan fleksibilitas, kenyamanan, dan teknologi—tanpa kehilangan status dan pengalaman emosional.

Karena itu, Luce tidak ditempatkan sebagai pengganti Ferrari konvensional, melainkan sebagai kategori baru. Mobil ini ditawarkan dengan harga mulai dari €500.000 atau sekitar Rp10,25 miliar (kurs Rp20.500 per euro).

“Jika kami tidak bergerak maju, takut pada masa depan, tidak membawa bendera inovasi, maka kami tidak pantas lagi disebut sebagai pemimpin. Sesederhana itu,” kata Benedetto kepada Fortune Indonesia (25/5). “Mungkin ada orang pesimistis. Tapi itu bukan saya. Seorang pemimpin harus melihat semuanya secara positif.”

Share Article
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana

Related Articles

See More