Di Tengah Lesunya Pasar, Produksi Berlian De Beers Naik 88%

Jakarta, FORTUNE - Perusahaan tambang berlian global De Beers melaporkan produksi berlian kasar (rough diamond) mencapai 7,8 juta karat pada kuartal II tahun ini, meningkat 88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dengan capaian tersebut, total produksi sepanjang semester I mencapai 14,91 juta karat, atau naik 46 persen secara tahunan.
Perseroan menyebut peningkatan produksi pada kuartal II didorong oleh berakhirnya periode penghentian operasional untuk pemeliharaan di tambang Orapa, Botswana, yang berlangsung pada kuartal II 2025. Selain itu, perusahaan juga menambang bijih dengan kadar berlian (ore grade) yang lebih tinggi di tambang Jwaneng di Botswana serta Gahcho Kué di Kanada.
Melansir Mining Weekly, produksi dari operasi De Beers di Botswana melonjak 107 persen menjadi 5,5 juta karat pada kuartal II. Sementara itu, produksi semester I di negara tersebut mencapai 10,3 juta karat, meningkat 43 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Di Namibia, aset De Beers menghasilkan 500 ribu karat pada kuartal II, relatif tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Perusahaan menjelaskan, penghentian operasional kapal Coral Sea pada periode pembanding serta pemeliharaan terjadwal kapal Mafuta milik Debmarine Namibia sebagian besar diimbangi oleh penambangan di area berkadar bijih lebih tinggi yang dilakukan Namdeb. Meski demikian, produksi semester I dari operasi Namibia turun 7 persen secara tahunan menjadi 1,09 juta karat.
Di tambang Venetia, Afrika Selatan, produksi meningkat 24 persen menjadi 700 ribu karat pada kuartal II, terutama karena volume pengolahan bijih bawah tanah yang lebih tinggi. Sepanjang semester I, produksi tambang tersebut mencapai 1,47 juta karat, naik 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Awal bulan ini, De Beers mengumumkan akan menghentikan sementara produksi di tambang Venetia selama dua tahun sebagai bagian dari upaya menekan biaya serta menyesuaikan kembali belanja modal untuk proyek tambang bawah tanah Venetia. Penghentian operasi dijadwalkan dimulai pada paruh kedua tahun ini.
Sementara itu, produksi di Kanada meningkat menjadi 1 juta karat setelah tambang patungan Gahcho Kué memproses bijih berkadar lebih tinggi dari area penambangan baru.
De Beers tetap mempertahankan target produksi sepanjang tahun di kisaran 21 juta hingga 26 juta karat. Namun, perusahaan memperkirakan pemeliharaan fasilitas pengolahan di Orapa dan Jwaneng serta rencana penghentian sementara produksi di Venetia pada semester II akan menekan laju produksi sepanjang tahun.
Perseroan juga menegaskan akan terus memantau kondisi perdagangan berlian kasar agar tingkat produksi tetap sejalan dengan permintaan pasar. Menurut perusahaan, kondisi perdagangan masih menghadapi tantangan sepanjang semester pertama tahun ini.
"Lanskap geopolitik dan makroekonomi masih dipenuhi ketidakpastian, dengan pecahnya konflik di Timur Tengah yang menambah risiko terhadap perekonomian dan kepercayaan konsumen. Berlian sintetis hasil laboratorium juga terus memengaruhi permintaan terhadap berlian alami bernilai lebih rendah sehingga menambah tekanan pada segmen yang sensitif terhadap harga. Namun, harga yang lebih kuat untuk berlian bernilai tinggi membantu menjaga stabilitas indeks harga rata-rata selama periode tersebut," demikian pernyataan perusahaan.
De Beers mencatat harga rata-rata realisasi konsolidasi turun 32 persen secara tahunan menjadi US$105 per karat selama enam bulan yang berakhir pada 30 Juni. Penurunan itu dipengaruhi oleh komposisi penjualan yang lebih banyak didominasi berlian bernilai rendah serta penurunan 16 persen pada indeks harga rata-rata berlian kasar.
Dari sisi penjualan, volume penjualan berlian kasar pada kuartal II turun 7 persen menjadi 7,1 juta karat, sementara pendapatan kuartalan anjlok 44 persen menjadi US$665 juta. Sepanjang semester I, volume penjualan meningkat 20 persen menjadi 14,78 juta karat. Namun, pendapatan masih turun 23 persen secara tahunan menjadi US$1,31 miliar.



















