25 Tahun Anantara, Perkuat Bisnis Hospitality Premium di 50+ Properti

- Anantara menandai 25 tahun dengan lebih dari 50 hotel dan resor di berbagai kawasan, memperkuat posisinya dalam portofolio mewah Minor Hotels.
- Strateginya mengemas eksplorasi kota, alam, dan budaya lokal sebagai bagian dari pengalaman menginap, sehingga produk hospitality berlanjut melampaui check-in.
- Didukung Minor Hotels yang memiliki lebih dari 560 properti di 58 negara, Anantara menawarkan aktivitas destinasi autentik untuk membedakan layanan di segmen premium.
Jakarta, FORTUNE – Industri hospitality premium semakin mengandalkan pengalaman sebagai bagian dari produk yang ditawarkan kepada tamu. Tren tersebut mendorong hotel tidak lagi hanya menjual kamar, tetapi juga merancang aktivitas yang dapat memperpanjang interaksi wisatawan dengan destinasi.
Dillip Rajakarier, Group CEO Minor International, mengatakan strategi tersebut menjadi bagian dari pengembangan bisnis Anantara Hotels & Resorts. Menurutnya, Anantara telah memainkan peran penting dalam membentuk portofolio bisnis mewah Minor Hotels selama 25 tahun terakhir.
Pengalaman tersebut mencakup eksplorasi kota, alam, dan budaya lokal. Dengan pendekatan ini, aktivitas di luar hotel menjadi bagian dari produk yang ditawarkan kepada tamu. Anantara mengintegrasikan lingkungan dan budaya setempat ke dalam pengalaman menginap sejak didirikan pada 2001.
“Fokus kami tetap pada ekspansi yang terukur dan disiplin, dengan tetap berpegang pada fondasi Anantara. Pengalaman yang mendalam, karakter kuat dari setiap destinasi, serta keterhubungan budaya yang autentik menjadi panduan dalam menentukan bagaimana dan ke mana merek ini akan berkembang," ujarnya dalam keterangan pers, Kamis (27/8).
Dari sisi skala bisnis, Anantara kini telah memiliki lebih dari 50 hotel dan resort yang tersebar di Asia, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Samudra Hindia. Merek ini merupakan bagian dari Minor Hotels yang mengoperasikan lebih dari 560 hotel, resort, dan hunian di 58 negara.
Pengembangan pengalaman tersebut menjadi cara Anantara memperluas proposisi bisnisnya di segmen hospitality premium. Produk yang ditawarkan tidak berhenti ketika tamu melakukan check-in, tetapi berlanjut melalui aktivitas yang dikaitkan dengan destinasi. Di Anantara Palazzo Naiadi Rome Hotel, Italia, misalnya, wisatawan dapat menjelajahi Roma melalui perjalanan menggunakan perahu pribadi di Sungai Tiber. Pengalaman tersebut dilengkapi aperitivo di teras panoramik.
Sementara itu, Anantara New York Palace Budapest Hotel menawarkan perjalanan menuju desa Tard untuk mengenal tradisi folk-art Matyó. Wisatawan dapat mengikuti workshop kerajinan yang dijalankan keluarga pengrajin, mengunjungi gereja lokal, hingga menikmati hidangan gulyas.
Model serupa diterapkan pada destinasi alam. Anantara Ubud Bali Resort mengarahkan wisatawan ke kawasan pedalaman Bali, termasuk persawahan dan permukiman bersejarah Taro. Perjalanan menggunakan mini jeep terbuka dan didampingi Naturalist resor. Wisatawan juga dapat mengunjungi Hutan Alas Taro untuk melihat kerbau putih yang disakralkan serta kawasan konservasi kunang-kunang.
Di Malaysia, Anantara Desaru Coast Resort & Villas mengembangkan pengalaman wisata malam melalui perjalanan menyusuri hutan bakau. Tamu dapat mengamati kunang-kunang dari atas perahu sembari menikmati piknik gourmet.
Adapun The Royal Livingstone Victoria Falls Zambia Hotel by Anantara menawarkan pengalaman Air Terjun Victoria melalui perjalanan helikopter selama 22 menit, yang kemudian dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan perahu pribadi di Sungai Zambezi. Rangkaian aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana pengalaman destinasi dapat dikemas menjadi bagian dari produk hospitality, sekaligus memberikan lebih banyak pilihan aktivitas kepada wisatawan selama berada di suatu kawasan.
Pengalaman berbasis budaya lokal
Selain kota dan alam, Anantara mengembangkan pengalaman berbasis budaya lokal. Di Anantara Jewel Bagh Jaipur Hotel, wisatawan diajak menuju desa Manpura untuk mengenal berbagai kerajinan tradisional, mulai dari karpet dengan teknik simpul tangan, gerabah, hingga gelang lak. Pengalaman tersebut mencakup interaksi dengan pengrajin, menyusuri kawasan bersejarah peninggalan Rajput, serta mencicipi hidangan khas Rajasthan yang disiapkan keluarga setempat.
Di Anantara Angkor Resort, budaya Kamboja dikemas melalui pengalaman yang berpusat pada bunga teratai. Wisatawan diajak melihat motif teratai di Angkor Wat, kemudian mengunjungi perkebunan teratai untuk memanen dan mengolah serat batangnya menjadi benang sutra.
Sementara itu, Anantara Mina Ras Al Khaimah Resort mengangkat sejarah penyelaman mutiara melalui kunjungan ke Suwaidi Pearl Farm. Wisatawan dapat melihat proses pengolahan mutiara sekaligus mempelajari teknik tradisional yang masih dipraktikkan.
Pengembangan produk berbasis pengalaman juga ditopang oleh skala bisnis Minor Hotels sebagai perusahaan induk. Selain Anantara, grup tersebut memiliki sejumlah merek seperti Avani, Elewana Collection, NH, NH Collection, nhow, Oaks, dan Tivoli.
Portofolio Minor Hotels tidak hanya mencakup hotel dan resort, tetapi juga restoran dan bar, perjalanan, spa, serta layanan wellness. Dengan lebih dari 560 properti di 58 negara, jaringan tersebut memberikan basis ekspansi bagi berbagai merek yang berada di dalam grup. Bagi Anantara, pengalaman destinasi menjadi salah satu cara untuk membedakan penawaran di segmen hospitality premium. Wisatawan tidak hanya membeli akomodasi, tetapi juga mendapatkan rangkaian aktivitas yang dirancang untuk memperkenalkan karakter lokal.


















