Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

CapCut Gelar AI Content Fest 2026, Soroti Peran AI di Industri Kreatif

CapCut Gelar AI Content Fest 2026, Soroti Peran AI di Industri Kreatif
Head of Content Operations, CapCut Indonesia, Jessica Wowor, menyampaikan sambutan pembuka di hadapan komunitas kreator dan tamu undangan pada puncak CapCut AI Content Fest 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta/Dok. CapCut
  • CapCut menggelar AI Content Fest 2026 di Jakarta, kompetisi film pendek nasional yang membawa 10 karya kreator Indonesia ke layar lebar bertema cerita tentang Indonesia.
  • Finalis memakai CapCut Video Studio dan fitur AI; karya mereka dinilai lima pelaku industri, sekaligus mendapat masukan terkait ide, visual, dan penyampaian cerita.
  • Diskusi festival menempatkan AI sebagai pendukung eksplorasi, referensi, dan efisiensi produksi, sementara arah kreatif serta keputusan akhir tetap di tangan pembuat karya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai masuk lebih jauh ke proses produksi konten kreatif. Bagi industri yang selama ini membutuhkan perangkat, waktu, dan biaya produksi relatif besar, perkembangan teknologi tersebut membuka kemungkinan bagi lebih banyak orang untuk membuat dan menyebarkan karya.

Perubahan itu turut terlihat dalam AI Content Fest 2026 yang digelar CapCut. Festival sekaligus kompetisi film pendek berskala nasional tersebut mempertemukan kreator dari berbagai daerah di Indonesia dan membawa 10 karya terpilih ke layar lebar.

Puncak AI Content Fest 2026 berlangsung di CGV Grand Indonesia (ScreenX), Jakarta, pada 11 September 2026. Mengusung tema “Small Stories. Big Screen. One Nation”, acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-81.

Para peserta mengangkat berbagai cerita mengenai Indonesia, mulai dari identitas dan budaya, kehidupan sehari-hari, hingga pengalaman dan harapan terhadap bangsa. Dalam pengembangan karya, para finalis memanfaatkan CapCut Video Studio dan sejumlah fitur kreatif dalam aplikasi, termasuk fitur berbasis AI.

Perjalanan karya para finalis sebelumnya diperkenalkan kepada publik melalui kampanye daring #CapCutFilmNaikLayar sebelum 10 film tersebut diputar di layar lebar.

“Indonesia punya begitu banyak cerita dan talenta kreatif yang layak mendapatkan panggung lebih besar. Melalui AI Content Fest 2026, kami ingin membantu kreator membawa perspektif mereka ke layar lebar dan membuka lebih banyak kesempatan agar karya lokal dapat dikenal dan diapresiasi lebih luas,” kata Jessica Wowor, Head of Content Operations, CapCut Indonesia, Jumat (11/9).

Inisiatif tersebut berlangsung ketika pemerintah juga mendorong pemanfaatan teknologi untuk pengembangan ekonomi kreatif. Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia menyebut sektor ekonomi kreatif menyumbang lebih dari Rp1.500 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2024. Pemerintah juga melihat perkembangan AI sebagai salah satu teknologi yang dapat mendukung inovasi dan pertumbuhan berbagai subsektor ekonomi kreatif.

Pada acara puncak, 10 film terpilih diputar secara bergiliran dan mendapatkan penilaian serta tanggapan dari lima pelaku industri kreatif, yakni Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita. Selain menjadi ruang pemutaran karya, sesi tersebut mempertemukan para finalis dengan profesional industri untuk memperoleh masukan mengenai ide, visual, hingga cara menyampaikan cerita.

  1. AI memperluas akses kreator

    Foto 2 (Dari kiri ke kanan) Mouly Surya, sutradara dan penulis skenario_ Lukman Sardi, aktor_ Jessica Wowor, Head of Content Operations, CapCut Indonesia_ serta Gustav Anandhita, kreator AI, berbagi pandangan men.jpg
    (Dari kiri ke kanan) Mouly Surya, sutradara dan penulis skenario; Lukman Sardi, aktor; Jessica Wowor, Head of Content Operations, CapCut Indonesia; Gustav Anandhita, kreator AI/Dok. CapCut.

    Bagi Founder & Co-CEO Visinema, Angga Dwimas Sasongko, perkembangan AI memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar mempercepat proses produksi. tersebut melihat teknologi dapat menurunkan sejumlah hambatan yang sebelumnya membuat produksi karya membutuhkan akses terhadap waktu, perangkat, dan modal yang besar.

    “Talent-talent baru ini bukan cuma sekedar melihatnya bahwa talent itu bukan sebagai alat produksi, bahwa mereka bisa memproduksi talent baru, tapi juga perspektif baru, cerita-cerita baru yang mungkin selama ini enggak keluar, enggak muncul, tapi dengan akses terhadap teknologi yang semakin canggih, semua orang bisa punya suaranya sendiri,” ujar Angga.

    Kemudahan akses tersebut dapat memperluas siapa saja yang memiliki kesempatan untuk bercerita. Teknologi juga berpotensi mengurangi ketergantungan pada sumber daya produksi yang selama ini menjadi salah satu hambatan bagi kreator baru. “Mungkin hari ini saya punya akses terhadap kamera, terhadap kapital untuk bisa membuat film lain mebar, tapi dengan CapCut AI menjadi storyteller dan bercerita akhirnya lebih demokratis,” katanya.

    Setelah pemutaran film, acara berlanjut dengan diskusi mengenai penggunaan AI dalam proses kreatif yang menghadirkan aktor Lukman Sardi, sineas Mouly Surya, dan kreator Gustav Anandhita. Ketiganya membahas penggunaan teknologi dari perspektif pekerjaan masing-masing.

    AI dalam diskusi tersebut ditempatkan sebagai alat pendukung proses kreatif, bukan pengganti keputusan manusia. Teknologi dapat digunakan untuk memperluas eksplorasi dan mempercepat sejumlah tahapan kerja, sedangkan arah kreatif dan keputusan akhir tetap berada di tangan pembuat karya.

    Dari sisi akting, Lukman Sardi melihat teknologi dapat membantu persiapan sekaligus memperluas referensi dalam memahami karakter.

    “Teknologi bisa membantu aktor mendapatkan lebih banyak referensi, memahami latar belakang karakter, hingga mengeksplorasi berbagai pendekatan sebelum masuk ke dalam sebuah adegan. Dengan proses persiapan yang lebih efisien, aktor punya lebih banyak ruang untuk fokus pada bagaimana karakter tersebut diinterpretasikan dan dihidupkan,” kata Lukman.

    Mouly Surya menilai penggunaan teknologi dapat dimulai sejak tahap awal pengembangan karya hingga produksi. “Teknologi bisa membantu kita mengeksplorasi ide lebih awal, mencari referensi, memvisualisasikan sebuah konsep, hingga mencoba berbagai arah kreatif sebelum masuk ke produksi. Ketika sejumlah proses dapat dilakukan dengan lebih efisien, tim punya lebih banyak waktu untuk fokus pada visi besar karya dan keputusan-keputusan kreatif yang menentukan hasil akhirnya,” tambah Mouly.

    Sementara itu, Gustav Anandhita menyoroti penggunaan AI dari sisi kreator. Menurutnya, teknologi dapat mempercepat proses iterasi sekaligus membuka lebih banyak kemungkinan dalam pengembangan karya.

    “AI memberi kreator lebih banyak ruang untuk bereksperimen—mulai dari mengembangkan ide, mencoba berbagai pendekatan visual, hingga melakukan iterasi dengan lebih cepat. Efisiensi ini memungkinkan kita untuk mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan dan membawa sebuah ide lebih jauh, tanpa kehilangan arah kreatif yang ingin kita bangun,” kata Gustav.

    Penggunaan AI dalam proses produksi juga diperlihatkan melalui kolaborasi CapCut dengan musisi Raim Laode. Keduanya membuat video musik berbasis AI untuk single terbaru Raim, "Dunia Yang Nanti."

    Delapan Kategori Penghargaan

    Selain pemutaran karya, AI Content Fest 2026 memberikan penghargaan dalam delapan kategori, dengan daftar pemenang sebagai berikut:

    • Student Awards: Yovan Arya Nugraha dari Bogor melalui karya “Gerilya”.
    • Most Popular AI Microfilm: Indrawan Agung dari Bekasi melalui “Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81”.
    • Special Selection Award: Adams Taufik dari Bandung melalui “DARI TANAH UNTUK INDONESIA”.
    • Best Story: Ilham Setyawan dari Semarang melalui “Bayu”.
    • Best Visual: Bobi Brilyan Bastenjar dari Tangerang Selatan melalui “Bulan Tiga Belas”.
    • Jury's Special Mention: I Gede Wahyu Diatmika dari Bali melalui “Hutang Toko Budi”.
    • Next Icon Award: Cahyadi Widianto dari Banten melalui “Baleo”.
    • Best AI Micro Film: Ilham Setyawan dari Semarang melalui “Bayu”.

Share Article
Editorial Team

Latest in Luxury

See More