Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Bukan Cuma Bakar Kalori, Olahraga Kini Jadi Ajang Bangun Relasi

Bukan Cuma Bakar Kalori, Olahraga Kini Jadi Ajang Bangun Relasi
Blibli Match Padel Series. Dok. Blibli
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus meningkat, tetapi motivasi berolahraga kini tidak lagi semata-mata berkaitan dengan kebugaran fisik. Bagi banyak pekerja urban, aktivitas olahraga mulai berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang juga berfungsi sebagai sarana bersosialisasi, membangun relasi, hingga melepas penat setelah bekerja.

Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru Populix yang melibatkan 840 pekerja profesional di Indonesia. Mayoritas responden berasal dari kelompok usia produktif 26–36 tahun dengan latar belakang ekonomi menengah ke atas.

Hasil survei menunjukkan alasan masyarakat berolahraga semakin beragam. Selain menjaga kesehatan, banyak pekerja memanfaatkan aktivitas tersebut sebagai cara mengelola stres sekaligus memperluas jaringan sosial.

"Olahraga sekarang bukan cuma soal kesehatan fisik, tapi juga jadi ruang sosial," kata Quantitative Research Manager Populix, Retno Gumelar, dalam Populix Time-Out Briefing di Jakarta, Senin (26/5).

Menurut Retno, olahraga kini semakin terintegrasi dengan gaya hidup masyarakat perkotaan yang sehari-hari dihadapkan pada tekanan pekerjaan, tenggat waktu, dan aktivitas yang padat.

Survei mencatat sebanyak 60 persen responden menjadikan olahraga sebagai sarana me time atau waktu untuk diri sendiri. Sementara itu, 53 persen responden memanfaatkannya sebagai momen quality time bersama pasangan maupun keluarga.

Aspek sosial juga semakin menonjol dalam aktivitas olahraga. Sebanyak 40 persen responden mengaku menggunakan olahraga sebagai media untuk memperluas relasi dan jaringan profesional, sedangkan 39 persen lainnya menjadikannya aktivitas bersama teman.

Perubahan perilaku tersebut juga tercermin dari kebiasaan pascaolahraga. Sebanyak 39 persen responden memilih nongkrong atau menikmati kopi setelah berolahraga, sementara 37 persen lainnya menghabiskan waktu dengan makan bersama teman atau komunitas.

Di sisi lain, survei menunjukkan tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan sebenarnya cukup tinggi. Lebih dari 80 persen responden mengaku rutin berolahraga. Namun, menjaga konsistensi masih menjadi tantangan utama bagi sebagian besar pekerja.

Faktor seperti fleksibilitas jam kerja, lokasi kantor, serta jadwal yang sering berubah membuat banyak pekerja kesulitan mempertahankan rutinitas olahraga secara teratur.

"Bukan karena mereka tidak mau hidup sehat, tapi sering terhambat pekerjaan dan waktu," ujar Retno.

Kondisi tersebut mendorong meningkatnya minat terhadap jenis olahraga yang lebih fleksibel dan mudah disesuaikan dengan aktivitas sehari-hari. Jogging dan jalan santai masih menjadi pilihan utama, namun olahraga berbasis komunitas mulai menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, seperti padel, yoga, pilates, hingga diving.

Olahraga raket seperti badminton dan padel juga semakin populer karena menawarkan kombinasi antara aktivitas fisik dan peluang berinteraksi dengan orang lain. Bagi sebagian pekerja, olahraga kini menjadi ruang untuk memperluas jejaring sosial sekaligus profesional.

Tren tersebut turut berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Semakin banyak pekerja yang bersedia mengalokasikan anggaran untuk menunjang gaya hidup aktif. Sebanyak 72 persen responden mengaku membeli pakaian olahraga, 67 persen membeli sepatu olahraga, dan 30 persen membeli perangkat pendukung seperti smartwatch atau fitness tracker.

Temuan ini menunjukkan bahwa olahraga telah mengalami pergeseran fungsi dari sekadar aktivitas kebugaran menjadi bagian dari gaya hidup modern. Seiring meningkatnya kebutuhan akan keseimbangan antara kesehatan, interaksi sosial, dan rutinitas kerja, faktor kemudahan akses serta fleksibilitas diperkirakan akan menjadi penentu utama dalam perkembangan industri olahraga dan wellness ke depan.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More

14 Olahraga Termahal di Dunia, Bisa Capai Triliunan Rupiah

29 Mei 2026, 18:06 WIBLuxury