Monaco Evergraph Jadi Terobosan Baru TAG Heuer Tahun Ini

Jakarta, FORTUNE - Di tengah industri jam mewah yang semakin kompetitif, TAG Heuer memilih melangkah lebih jauh dari sekadar penyegaran desain. Pada ajang Watches and Wonders 2026, rumah jam asal Swiss itu memperkenalkan Monaco Evergraph, sebuah chronograph baru yang tidak hanya memperbarui lini Monaco, tetapi juga merombak ulang cara kerja chronograph mekanis secara fundamental.
Peluncuran ini menjadi salah satu langkah teknis paling ambisius TAG Heuer dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menegaskan kembali filosofi “Techniques d’Avant-Garde” yang menjadi asal nama TAG dalam TAG Heuer.
Monaco sendiri bukan nama asing di dunia jam tangan mewah. Sejak debut pada 1969, model berbentuk persegi ini dikenal sebagai arloji otomatis tahan air pertama di dunia, sekaligus salah satu desain paling berani pada masanya. Kini, Monaco Evergraph membawa DNA tersebut ke level baru melalui bahasa desain yang lebih modern, ergonomis, dan teknikal.
Fortune Indonesia berkesempatan melihat langsung edisi terbaru TAG Heuer Monaco tersebut dalam peluncuran resminya di Indonesia pada Rabu (20/5). Berbeda dari chronograph konvensional yang mengandalkan sistem tuas, pegas, dan column wheel untuk menjalankan fungsi start, stop, dan reset, Monaco Evergraph menggunakan mekanisme fleksibel atau compliant mechanisms yang dikembangkan oleh TAG Heuer Lab bersama Vaucher Manufacture Fleurier selama lebih dari lima tahun.
Lewat pendekatan tersebut, fungsi chronograph dijalankan melalui struktur mekanis fleksibel yang melengkung secara mikroskopis untuk memicu pergerakan stopwatch. Sistem ini menggantikan sebagian besar komponen mekanis tradisional yang selama ini rentan mengalami gesekan dan penurunan performa seiring penggunaan. TAG Heuer menyebut pendekatan baru tersebut membuat sensasi menekan pusher chronograph tetap konsisten, bahkan setelah digunakan ribuan kali.
Secara teknis, Monaco Evergraph ditenagai calibre TH80-00, movement automatic chronograph baru dengan frekuensi tinggi 5Hz atau 36.000 getaran per jam, cadangan daya 70 jam, serta sertifikasi chronometer COSC. Mesin ini juga menggunakan TH-Carbonspring oscillator untuk meningkatkan ketahanan terhadap magnet dan stabilitas jangka panjang.
Movement tersebut memanfaatkan komponen nickel-phosphorus berbasis teknologi LIGA yang memungkinkan mekanisme bergerak melalui deformasi elastis tanpa banyak kontak fisik antarbagian. Dengan begitu, gesekan, keausan, dan kebutuhan pelumasan dapat ditekan secara signifikan.
Dari sisi desain, Monaco Evergraph hadir dalam case kotak 40 mm berbahan grade 5 titanium, tersedia dalam versi natural titanium maupun black DLC-coated titanium. Kedua model tetap mempertahankan crown di sisi kiri, ciri khas Monaco sejak referensi original 1969.
Dial transparan menjadi salah satu daya tarik utama jam ini. TAG Heuer menampilkan konstruksi movement terbalik sehingga barrel, gear train, dan balance wheel terlihat langsung dari sisi depan. Dua bridge melengkung pada bagian movement memperkuat tampilan futuristis sekaligus mempertahankan identitas visual Monaco. Versi titanium natural dipadukan dengan counter biru opaline, sedangkan model DLC hitam tampil lebih stealth dengan counter hitam dan aksen merah yang memberi kesan instrumen teknis modern.

Selain Evergraph, TAG Heuer juga memperluas lini Monaco lewat Monaco Chronograph terbaru yang kini menggunakan movement TH20-11. Model ini hadir dalam ukuran 39 mm titanium dengan tata letak subdial baru yang terinspirasi dari Monaco Calibre 11 klasik. Small seconds ditempatkan di posisi pukul 9, minute counter di pukul 3, dan date window di pukul 6. TAG Heuer menawarkan beberapa pilihan warna, termasuk denim blue dan ivy green sunray dial, serta versi titanium dan rose gold.
Peluncuran Monaco Evergraph memperlihatkan bagaimana industri horologi mewah kini tidak lagi hanya bertumpu pada heritage dan desain, tetapi juga inovasi mekanis yang benar-benar baru. Di tengah maraknya eksperimen material dan estetika, TAG Heuer mencoba membawa inovasi langsung ke inti cara kerja chronograph itu sendiri.
Monaco Evergraph dijual seharga kisaran Rp500 jutaan di Indonesia, sementara Monaco Chronograph terbaru dibanderol mulai Rp150 jutaan. Kedua koleksi tersebut sudah tersedia secara global dan tidak diproduksi terbatas.
Di lain sisi CEO TAG Heuer, Antoine Pin, melalui Monaco ingin kembali memperkuat identitasnya sebagai luxury sports watch brand yang dekat dengan motorsport, inovasi chronograph, dan generasi konsumen baru. Pangsa pasar TAG Heuer juga naik dari 1,8 persen menjadi 2 persen. Berdasarkan data Morgan Stanley, posisi TAG Heuer melonjak menjadi merek jam tangan terbesar ke-11 berdasarkan penjualan, dari sebelumnya peringkat ke-15. Brand ini berhasil melampaui IWC Schaffhausen, Hublot, dan Jaeger-LeCoultre.
TAG Heuer menjadi salah satu dari sedikit merek jam tangan milik LVMH yang masih mencatat pertumbuhan, bersama Bvlgari. Secara keseluruhan, divisi jam tangan LVMH justru kehilangan pangsa pasar, sejalan dengan grup mewah lain seperti Richemont dan Swatch. Sementara itu, merek independen seperti Rolex, Patek Philippe, Audemars Piguet, dan Richard Mille terus memperkuat dominasinya.
Untuk memperluas pasar, TAG Heuer tengah mempercepat ekspansi di Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Timur Tengah. Perusahaan juga melihat India sebagai pasar potensial yang dinilai selaras dengan nilai dan positioning brand.
Meski begitu, Antoine mengakui pasar Tiongkok masih menjadi tantangan besar. “Kami masih belum cukup kuat di sana. Saya rasa kami terlalu banyak mencoba menarik pasar dengan berbagai cara berbeda, sehingga mungkin menjauh dari identitas inti kami sendiri. Mengorbankan esensi brand adalah sebuah kesalahan. Yang kami butuhkan sekarang adalah konsistensi dan stabilitas dalam menyampaikan siapa kami sebenarnya," ujarnya, melansir Vogue Business.

















