Comscore Tracker
LUXURY

Tiang-tiang Tradisi dan Atap Kehidupan di Kampung Raja Prailiu

Sejumlah tradisi masih tetap dipegang dari masa ke masa.

Tiang-tiang Tradisi dan Atap Kehidupan di Kampung Raja PrailiuKampung Raja Prailiu di Sumba Timur/Fortune Indonesia/Desy Yuliastuti

by Desy Yuliastuti

SUMBA, Fortune - Sejatinya, wisata yang ideal tidak hanya merekam keindahan lewat foto berlatar panorama alam. Mempelajari kearifan lokal daerah setempat atau berkenalan dengan masyarakatnya tentu akan menambah kesan yang lebih mendalam dari perjalanan wisata Anda. Pengalaman-pengalaman itulah yang ditawarkan desa-desa adat di Sumba, salah satunya Kampung Raja Prailiu.

Kampung Raja Prailiu di Sumba Timur, merupakan salah satu yang wajib dikunjungi saat berwisata ke Waingapu, Nusa Tenggara Timur. 

Prailiu merupakan salah satu kerajaan yang ada di Pulau Sumba. Jejak-jejak kerajaan ini masih terekam jelas lewat  kekhasan bangunan rumah, tradisi unik, dan kerajinan kain yang menjadi mata pencaharian masyarakat desa. Berikut beberapa hal menarik yang Fortune Indonesia rangkum untuk Anda. 

Sirih pinang dan budaya turun temurun

Ada kebiasaan unik jika orang luar masuk ke desa wisata ini. Setiap tamu akan disajikan sirih pinang. 

Bagi orang Sumba, khususnya di Kampung Raja Prailiu, sirih pinang dijadikan sebagai sajian khas yang akan mendahului pelayan-pelayan lainnya dalam menyambut kedatangan tamu.  Jika tidak suka, Anda tidak harus memakannya. Namun, Anda harus sopan jika menolak untuk makanan sirih ini demi menghargai kebiasaan masyarakat setempat.

Sirih pinang juga menjadi salah satu alat untuk membangun komunikasi kekeluargaan, serta menjadi alat pergaulan dalam kehidupan sosialnya. Sebab, sirih pinang menjadi budaya leluhur yang diwariskan turun temurun dan punya makna amat luas.

"Dalam pelaksanaan ritual adat perkawinan, kematian, pemberian nama anak raja, atau acara adat apa saja selalu yang diutamakan sirih pinang," kata Mama Reno, istri ketua adat setempat, Jumat (27/5).

Mewariskan tradisi pun tak sulit. Mama Reno mengatakan, anak-anak usia 2-3 tahun biasanya mulai tertarik pada sirih pinang. 

"Mereka minta sendiri. kalau tidak dikasih merengek. Ada yang usaia lima tahun makan sendiri, tidak disuruh. Karena mungkin sudah ada ikatan dengan budaya dan kehidupan kami di Sumba," katanya.

Siklus hidup manusia

Sirih pinang lekat dengan fase kehidupan manusia, dari lahir hingga kematian. Dalam upacara pemberian nama, sirih pinang dikunyah lalu ditempelkan ke pusar bayi. Kalau berwarna hitam berarti bayi mau, jika tidak hitam tidak mau. Ada juga yang memaksa memberi nama, tapi jika demikian anak akan rewel dan nangis. Seiring berjalan waktu nama akan diganti yang lain. 

Tak melupakan leluhur, dalam berziarah sirih pinang turut dibawa ke kuburan adat. 

"Ritual  berziarah membawa sirih pinang. Jika melayat ke desa lain atau ke luar desa, maka orang yang melayat meletakkan  sirih pinang di kuburan-kuburan adat," ujarnya.

Hal ini mencerminkan kepercayaan masyarakat Sumba untuk tetap menjalin hubungan baik dengan sesama, terutama dengan anggota keluarga yang sudah meninggal. 

Sirih pinang juga dipercaya bermanfaat untuk pengobatan tradisional. Misalnya, untuk pengidap sakit jantung sirih pinang cukup dikunyah lalu ditempel di tempat yang sakit. 

“Bisa juga untuk usus buntu, direbus dengan serai dan pinang muda, airnya diminum," kata perempuan berusia 50 tahun itu.

Kotak sirih pinang sebagai simbol dalam adat perkawinan

Acara adat perkawinan juga tak lepas dari sirih pinang. Saat lamaran, sirih pinang tak ketinggalan, baik dalam bingkisan hantaran maupun menyertai mahar. Demikian pula saat anak perempuan menikah dan keluar dari rumah, maka orang tua  harus  memberikan tempat sirih pinang. 

Mama Reno menceritakan, semua orang Sumba, termasuk di Sumba Timur selalu makan sirih pinang karena di setiap pertemuan keluarga dan acara-acara adat, sirih pinang wajib disediakan.

“Setiap keluarga menyediakan anggaran untuk sirih pinang. Ada atau tidak ada sirih pinang, tempat sirih pinang harus dikasih, tempatnya berupa kotak kecil sebagai bentuk penghormatan.

Uma Mbatang atau Uma Hori

Keunikan lain desa adat ini ditandai dengan masih adanya rumah adat yang diistilahkan sebagai Uma Mbatang atau Uma Hori, rumah adata dengan atap berbentuk limas dari material alami.

Keberadaan rumah tinggi ini masih berkaitan dengan kepercayaan penduduk.

"Setiap marga harus punya rumah adat khusus yg disebut hori. Rumah tempat segala sesuatu adat istiadat dan pelaksanaan budaya. Umah hori ini beda dengan bentuk rumah adat lain tapi di dalamnya  berbeda," katanya, menjelaskan. 

Rumah tradisional tersebut berstruktur tinggi dengan atap dari daun. Rumah-rumah ini terdiri dari tiga bagian, yang menyimbolkan bagian bawah tanah sebagai rumah orang mati, bagian tengah sebagai rumah untuk hidup, dan atap sebagai rumah para Dewa.

Ada bagian bale utama tempat menerima tamu yg disuguhkan sirih pinang, di dalam untuk makan terbagi dua bagian di kanan untuk ritual, khusus untuk laki-laki. Sementara itu, di bagian kiri menjadi tempat para perempuan menyiapkan segala sesuatu terkait ritual, serta makanan dan minuman. 

Di  bagian tengah  rumah digunakan untuk dapur. Ada empat tiang utama untuk menopang konstruksi atap. Setiap tiang ada ukiran serupa cincin, yang menyimbolkan fungsi masing-masing. Adapun di bagian bawah rumah digunakan untuk mengikat hewan peliharaan atau menenun.

Kain tenun

Di desa ini Anda dapat melihat proses pembuatan Kain Tenun Sumba Timur. Anda dapat melihat proses pembuatan kain oleh ibu-ibu penghuni desa. 

Seluruh proses pembuatan kain mulai dari memintal sampai pewarnaan dibuat menggunakan tangan dan alat-alat tradisional. Warnanya didominasi merah, biru, ungu tua, dan untuk pewarna kain digunakan bahan alamiah.

Motif kain pun beragam, menggambarkan kehidupan masyarakat di Sumba. 

"Bagaimana kehidupan kita dengan sesama tertuang di selembaran kain, ada kaitannya bagaimana manusia dengan alam dan makhluk lain juga tertuang di kain," katanya.

Pemakaman batu megalitikum

Selain itu, ada juga pemakaman batu megalitikum yang disebut reti dan patung-patung peninggalan masa lampau yang masih terpelihara dengan baik. 

Kuburan batu ini dihiasi ukiran manusia, buaya, kura kura, monyet, udang, juga terdapat sebuah kubur batu yang ukurannya sangat besar.

Tak hanya itu, wisatawan yang punya kegemaran mencicip kuliner tak akan kecewa bila mendatangi kampung Raja Prailiu. Kuliner yang cukup populer adalah Manggulu. Kudapan penuh cita rasa khas ini berasal dari olahan pisang dan kacang.

Adapula nasi jagung atau uhuwatar yang juga merupakan makanan pokok masyarakat Sumba Timur. Tak ketinggalan kuliner sambal, yakni sambal tomat kemangi yang aromanya menggugah selera makan.

Untuk pergi ke desa ini, dari Kupang Anda bisa naik pesawat terbang dengan tujuan Bandara Waingapu. Atau jika memilih menggunakan jalur darat bisa menumpang TransNusa dengan lama perjalanan mencapai 4 jam. 

Dari kota Waipangu Anda bisa menggunakan mobil sewaan atau menggunakan taksi motor untuk mencapai Desa Prailiu. Jika Anda berencana untuk bermalam di sekitar desa ini, Anda dapat bermalam di hotel yang ada di Waipangu.

Related Articles