Jakarta, FORTUNE - Sekuel film ikonik The Devil Wears Prada 2 tak lagi sekadar menjadi tontonan tentang dunia mode penuh tekanan dan glamor. Di tangan berbagai merek global, film ini menjelma menjadi ekosistem gaya hidup mewah yang mempertemukan fashion, teknologi, otomotif, hingga kopi dalam satu lanskap fantasi editorial.
Jika film pertamanya dikenal lewat monolog “cerulean”, tenggat kerja brutal, dan karakter dingin Miranda Priestly, kali ini berbagai brand berlomba masuk ke semesta Runway Magazine. Aksi tersebut tak hanya untuk mencari penempatan produk, tetapi membangun pengalaman yang terasa seperti bagian dari dunia fashion elite itu sendiri.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana estetika editorial majalah mode kini berubah menjadi bahasa pemasaran baru di industri luxury. Produk tak lagi dijual hanya lewat fungsi, tetapi melalui citra, atmosfer, dan aspirasi gaya hidup.
Samsung Electronics misalnya, mengubah premier film di New York menjadi pertunjukan runway melalui kampanye “Runway Cam #withGalaxy”. Dalam kampanye itu, Galaxy S26 Ultra diposisikan bukan sekadar smartphone, melainkan aksesori wajib fashion week.
Melansir Marketech Apac, kedatangan selebritas dibuat menyerupai model yang berjalan di runway, lengkap dengan kilatan kamera, nuansa couture, dan visual ala street style Paris Fashion Week. Karpet merah diperlakukan seperti sampul majalah September Issue, setiap pose dan sudut gambar dirancang agar langsung layak menjadi konten digital.
Samsung juga memperluas narasi fashion tersebut lewat kampanye mesin cuci-pengering Bespoke AI Laundry Combo. Dengan menampilkan gaun merah mencolok yang diproses teknologi AI, perawatan pakaian diubah menjadi sesuatu yang menyerupai preservasi busana couture di atelier mode.
Di dunia runway, pakaian bukan sekadar pakaian. Samsung menerjemahkan filosofi itu ke dalam pemasaran perangkat rumah tangga: perawatan kain menjadi bentuk penjagaan karya mode, sementara presisi diposisikan sebagai simbol kemewahan. Tak hanya itu, Samsung juga meluncurkan kolaborasi global untuk merayakan perilisan film "The Devil Wears Prada 2" dari 20th Century Studios, dengan iklan khusus yang menampilkan Helen J. Shen sebagai karakternya, Jin, yang dengan sempurna memperbaiki permintaan Miranda Priestly di menit-menit terakhir menggunakan Circle to Search with Google di Galaxy S26 Ultra
“Melalui Galaxy S26, kami mewujudkan hal tersebut dengan menggabungkan fashion, film, dan teknologi inovatif untuk menghadirkan pengalaman yang instan, cerdas, dan memiliki karakter kuat," ujar Keena Grigsby, Chief Marketing Officer & Vice President Mobile eXperience Samsung Electronics America.
Pendekatan berbeda diambil Diet Coke melalui aksesori “Canny Pack”, wadah kaleng minuman berwarna metalik yang dirancang menyerupai micro bag. Film pendek kampanye bertajuk “That’s All” juga menampilkan aura dingin dan elegan khas kantor Miranda Priestly.
Sementara itu, Starbucks membawa semesta film ke budaya kopi melalui “secret menu” yang terinspirasi karakter utama. Konsumen dapat memesan minuman ala Miranda, Andy, Nigel, atau Emily. Latte ekstra panas ala Miranda mencerminkan standar perfeksionis sang editor, sedangkan cappuccino oat milk milik Andy menggambarkan transformasinya dari asisten kikuk menjadi insider runway. Strategi ini memanfaatkan salah satu simbol paling ikonik dalam film: kopi sebagai mata uang hierarki industri fashion.
Di sisi lain, Mercedes-Maybach menghadirkan kampanye “The Art of Arrival” yang menempatkan Mercedes-Maybach S-Class sebagai kendaraan resmi kekuasaan editorial. Kemewahan ditampilkan lewat detail jahitan presisi, interior tailored, dan pendekatan yang menonjolkan quiet luxury dibanding kemewahan berlebihan.
Sementara Hisense menyematkan televisi RGB MiniLED mereka di kantor kaca Runway Magazine, menjadikan teknologi sebagai bagian alami dari arsitektur estetika film.
Rangkaian kolaborasi tersebut menunjukkan perubahan besar dalam strategi entertainment marketing global. Brand tidak lagi sekadar “beriklan” di film, tetapi ikut membangun dunia sinematik tempat produk mereka menjadi bagian dari fantasi bersama.
Di Indonesia, tren serupa mulai diterjemahkan industri fashion lokal. Buttonscarves meluncurkan koleksi yang terinspirasi dari The Devil Wears Prada 2, menghadirkan perpaduan budaya pop dan modest fashion dalam bentuk scarf, apparel, aksesori, hingga tas. Koleksi tersebut dibuka lewat peluncuran The Editor Square pada 24 April 2026, menggabungkan signature handwritten khas Buttonscarves dengan motif houndstooth klasik. Koleksi kemudian berkembang menjadi lifestyle collection yang mencakup tailored shirts, siluet oversized, puff sleeve, hingga tas dengan nuansa editorial.
“Kolaborasi ini sangat spesial bagi kami karena The Devil Wears Prada bukan sekadar film, tetapi sudah menjadi bagian dari budaya fashion itu sendiri. Melalui kolaborasi ini, kami ingin menerjemahkan cerita yang ikonik tersebut menjadi sesuatu yang bisa dirasakan oleh komunitas kami hari ini," ujar Linda Anggrea, CEO Buttonscarves, dalam keterangannya, Selasa (12/5).
Pada akhirnya, daya tarik The Devil Wears Prada memang tak pernah semata soal pakaian. Film ini berbicara tentang ambisi, status, transformasi diri, dan hasrat untuk menjadi bagian dari ruang-ruang eksklusif dengan standar nyaris mustahil.
Di tengah banjir konten digital yang cepat terlupakan, berbagai kampanye ini memahami satu hal penting: konsumen modern tak hanya membeli barang mewah, tetapi juga fantasi untuk terlihat effortlessly chic sambil membawa tiga gelas kopi dan bertahan di bawah tekanan ala Miranda Priestly.
