Permintaan Barang Mewah Lesu, Burberry Pangkas 1.700 Pekerja

Burberry melaporkan pendapatan sebesar 2,46 miliar pound untuk tahun fiskal yang berakhir Maret. Namun, tekanan dari pasar Amerika Serikat mulai terasa sejak awal tahun, yang turut menyeret penjualan di kuartal keempat. Penjualan di toko yang sama turun 6 persen secara tahunan, lebih dalam dari penurunan 4 persen di kuartal ketiga. Meskipun demikian, angka ini masih lebih baik dibanding perkiraan analis yang memperkirakan penurunan 7 persen.
CEO Burberry, Joshua Schulman, mengakui bahwa pasar AS menjadi salah satu titik awal gejolak penjualan global.
“Situasi mulai agak bergejolak sejak Februari, terutama di pasar Amerika Serikat,” ujarnya.
Meski paruh pertama tahun ini diwarnai tantangan, Schulman menyebut bahwa berbagai langkah restrukturisasi mulai membuahkan hasil dalam bentuk peningkatan signifikan di penjualan ritel selama enam bulan terakhir.
Analis RBC Capital Markets, Piral Dadhania dan Richard Chamberlain, menyatakan dalam catatan kepada klien bahwa, "Ini adalah langkah awal yang menggembirakan, dan manajemen tampaknya telah berada di jalur yang tepat untuk merestrukturisasi bisnis."
Namun secara keseluruhan, tekanan pasar, termasuk dari tarif tambahan di bawah kebijakan Presiden Trump, terus membayangi sektor barang mewah. Awal pekan ini, AS dan Cina memang menyepakati penangguhan sebagian besar tarif, tetapi ketidakpastian tetap tinggi di tengah negosiasi dagang yang masih berlangsung.
Burberry belum memberikan panduan terperinci untuk tahun fiskal 2026, tetapi menyatakan tetap fokus pada penguatan merek dan perbaikan margin keuntungan. “Kami berharap dampak dari langkah-langkah ini mulai terlihat seiring berjalannya tahun,” kata perusahaan dalam pernyataan resmi (14/5).
Di tengah ketidakpastian makroekonomi global, Burberry mencatat penurunan tajam laba operasional tahunan yang telah disesuaikan, dari 418 juta pound menjadi 26 juta pound. Namun, angka ini masih melampaui ekspektasi analis yang hanya memperkirakan 11 juta pound. Sementara itu, perusahaan membukukan kerugian sebelum pajak sebesar 66 juta pound, berbalik arah dari laba 383 juta pound pada tahun sebelumnya.
Jakarta, FORTUNE - Burberry Group mengumumkan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.700 karyawan secara global. Produsen mantel trench asal Inggris ini berupaya menjadi lebih gesit dalam menghadapi melemahnya belanja konsumen yang terus menghantui sektor barang mewah.
Perusahaan menyatakan bahwa perubahan organisasi ini ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan profitabilitas. Langkah tersebut diperkirakan akan menghemat 60 juta pound sterling (sekitar US$79,8 juta) pada tahun fiskal yang dimulai April 2027. Penghematan ini merupakan tambahan dari program pemangkasan biaya sebelumnya senilai 40 juta pound.
Pada November lalu, Burberry meluncurkan sejumlah inisiatif untuk membangkitkan kembali merek mereka di bawah kepemimpinan Joshua Schulman, yang mulai menjabat sebagai CEO pada 2024. Fokus utamanya adalah memperkuat lini produk andalan, seperti pakaian luar dan syal.
Melansir The Wall Street Journal, Chief Financial Officer Burberry, Kate Ferry, dalam keterangan resmi pada Rabu (14/5) mengatakan rencana PHK ini akan memengaruhi sekitar 20 persen dari seluruh karyawan Burberry. Mengacu pada laporan tahunan terakhir, perusahaan memiliki 9.336 karyawan hingga akhir Maret 2024.
Schulman juga menyampaikan bahwa sebagian besar perubahan akan menyasar tim kerja kantoran di berbagai negara. Selain itu, perusahaan juga akan mengurangi tenaga di jaringan ritelnya dengan menyesuaikan jadwal tim toko dengan jam kunjungan puncak. Burberry juga berencana menghapus shift malam di pabriknya di Castleford, Inggris.
Meskipun demikian, Burberry memastikan tetap akan memproduksi mantel trench di Inggris serta mempertahankan keahlian tradisional Inggris. Schulman menambahkan, perusahaan akan mengucurkan investasi besar ke fasilitas Castleford pada paruh kedua tahun fiskal.
Schulman mengatakan strategi baru yang diusung sejak November masih tetap dijalankan, "Strategi "Burberry Forward" dirancang untuk membangkitkan kembali daya tarik merek dengan memperkuat posisi Burberry di segmen pakaian luar, menyeimbangkan portofolio produk, serta menonjolkan karakter khas Inggris melalui sentuhan estetika London dan gaya komunikasi yang cerdas dan jenaka," ujarnya, mengutip World Footwear.
Burberry juga tengah membangun kembali budaya kerja berperforma tinggi dengan menekankan kejelasan organisasi, disiplin dalam eksekusi, serta pengambilan keputusan berbasis data. Dengan fokus kuat pada produktivitas, penyederhanaan, dan disiplin keuangan, perusahaan menargetkan untuk kembali meraih pendapatan tahunan sebesar 3 miliar pound sterling (setara 3,6 miliar euro) dalam jangka panjang.
Perusahaan menyatakan tetap percaya diri dengan strategi barunya untuk meningkatkan kinerja dan menciptakan nilai jangka panjang. Namun, menjelang periode perdagangan musim liburan dan di tengah ketidakpastian kondisi makroekonomi global yang terus berlangsung, Burberry belum dapat memastikan apakah kinerja perusahaan akan terdorong.



















