Jakarta, FORTUNE - Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan kinerja para emiten akan melambat pada semester-II 2026 karena dibayangi berbagai faktor domestik dan global seperti kenaikan suku bunga hingga stabilitas nilai tukar rupiah.
Chief Economist & Head of Research PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengatakan, itu karena dari segi pertumbuhan ekonomi pun timnya memperkirakan perlambatan mulai kuartal-II 2026, dibandingkan dengan kuartal-I 2026.
"Kuartal-I kan pertumbuhan ekonominya tinggi ya [di 5,6 persen, YoY]. Di kuartal-II 2026 kami perkirakan hanya sekitar 5,1 persen, karena base year tahun lalu kan juga agak tinggi. Dampaknya pasti nanti ke earnings [emiten]," kata Rully di Jakarta, Selasa (30/6).
Menurutnya, itu karena berbagai katalis positif sudah terjadi bersamaan pada kuartal-I, seperti belanja pemerintah dan faktor musiman (ramadan dan lebaran).
Di sisi lain, pada kuartal-II 2026, Bank Indonesia (BI mulai gencar meningkatkan suku bunga. Per akhir Juni 2026, BI telah menaikkan suku bunga tiga kali pada periode Mei-Juni 2026.
"Secara seasonal mungkin sudah tidak ada [katalis]. Lalu mungkin ini yang coba ditopang oleh pemerintah melalui stimulus, ini kan lebih ditargetkan ke masyarakat bawah. Itu untuk penopang saja sebenarnya, tapi untuk bisa berdampak ke ekonomi [hingga] bisa rebound, saya kira agak sulit," ujarnya lagi.
Selain suku bunga dan nilai tukar, investor juga masih mencermati kondisi fiskal dan meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal-I 2026.
Atas dasar itu, Mirae Asset Sekuritas pun akan merevisi target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sampai akhir 2026. Proyeksi terbaru itu akan mempertimbangkan mayoritas sentimen tersebut.
Sebelumnya, Mirae Asset Sekuritas memperkirakan IHSG berkisar antara 10.000 sampai dengan 10.500 pada 2026 karena didorong proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Rully menilai, ke depannya, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. "Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya," katanya.
Sementara itu, Senior Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih melihat sektor poultry menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dicermati di tengah kondisi pasar saat ini. Menurutnya, konsumsi daging ayam di Indonesia yang baru mencapai sekitar 8,6 kilogram per kapita, jauh di bawah Malaysia (32,9 kilogram) dan Vietnam (16,7 kilogram), menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar.
Didukung peningkatan konsumsi, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pasokan yang diperkirakan lebih terkendali akibat penurunan kuota impor grand parent stock (GPS) dan implementasi program culling, industri poultry berpotensi mencatatkan peningkatan profitabilitas.
"Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor," kata Andreas.
