Sell in May and Go Away berasal dari Inggris, dengan versi lengkapnya, yaitu Sell in May and go away, come back on St. Leger's Day. St. Leger's Day. Kalimat tersebut mengacu pada perlombaan kuda terkenal di Inggris yang biasanya digelar pada bulan September.
Di Amerika Serikat, strategi Sell in May and Go Away juga dikenal luas dan sering dikaitkan dengan periode antara Memorial Day di akhir Mei hingga Labor Day pada awal September.
Mengutip Investopedia, gagasan ini pertama kali dipopulerkan oleh The Stock Trader’s Almanac. Investasi saham (terutama Dow Jones Industrial Average) dari November hingga April telah secara historis memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dan risiko yang lebih rendah sejak 1950.
Namun, studi lanjutan menunjukkan bahwa jika menggunakan data indeks S&P 500 (sejak 1927), hasilnya justru bisa berlawanan. Pada era 1930-an dan 1940-an, indeks S&P 500 menghasilkan return musim panas 11,23% dan 4,51% lebih tinggi dibanding periode musim dingin.
Validitas strategi Sell in May and Go Away pun menjadi perdebatan. Terlebih, faktor makroekonomi bisa menggagalkan strategi ini. Contohnya, selama pandemi COVID-19 (Nov 2019–Apr 2020), pasar justru mengalami tekanan besar karena krisis global.