Jakarta, FORTUNE - Bagaimana dampak keputusan MSCI (Morgan Stanley Capital International) memberlakukan interim freeze terhadap minat pencatatan saham perdana (IPO) emiten?
Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna, mengatakan, pengumuman MSCI tak berpengaruh terhadap hal tersebut.
"Saya melihat dari sisi submisi tidak berubah. Hanya tinggal kita nanti memastikan, apakah perusahaan-perusahaan yang masuk itu sudah sesuai dengan ekspektasi yang kami harapkan sebagai regulator," ujar Nyoman kepada pers di Gedung BEI, dikutip Kamis (29/1).
Ia menambahkan, jika dilihat dari aspek volume, memang ada penurunan. Namun, rata-rata nilai dana penawaran umum (proceed) yang terhimpun meningkat menjadi sekitar Rp700 miliar per perusahaan, dari sebelumnya Rp350 miliar per perusahaan.
"Artinya, sudah ada peningkatan kelas (scale up) nih dari sebelumnya kelasnya relatif kelas kecil, sudah ke menengah dan atas. Itu yang kami harapkan nanti [dapat] meningkatkan kedalaman pasar kita. Ukuran juga menjadi perhatian," ujar Nyoman.
Kendati demikian, perusahaan berskala UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) pun tetap memiliki kesempatan untuk mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia. Dengan syarat, perusahaan itu prospektif.
"Jadi itu tidak ada dampak secara langsung [dari keputusan MSCI]. Karena kita melihat jumlahnya juga masuk relatif tidak menurun dari sebelumnya," katanya.
Sebagai konteks, laporan terbaru Deloitte menyebut, Indonesia menduduki peringkat pertama pasar penawaran umum perdana saham Asia Tenggara pada 2025 berdasarkan jumlah kapitalisasi pasar.
Secara total, terdapat 120 IPO saham di Asia Tenggara pada 2025, dengan total kapitalisasi pasar US$33,27 miliar. Kapitalisasi pasar IPO Indonesia tahun lalu berjumlah US$9,39 miliar atau berkontribusi 28,21 persen.
"Indonesia, Vietnam, dan Singapura menyumbang 70 persen dari total kapitalisasi pasar IPO ASEAN," kata tim Deloitte dalam laporan berjudul Southeast Asia IPO Capital Market 2025 Full Year.
