Dari sisi pengguna, perdagangan waran terstruktur saat ini masih didominasi investor ritel. Sementara investor institusi memiliki potensi penggunaan yang berbeda, termasuk untuk kebutuhan lindung nilai atau hedging terhadap posisi investasi.
Iding juga menekankan pentingnya edukasi dalam perkembangan instrumen tersebut. Supaya penggunaan waran terstruktur dapat disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing.
"Kegiatan edukasi dan sosialisasi seperti yang dilaksanakan hari ini memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman investor dan memperluas awareness terhadap produk-produk pasar modal," ujarnya.
Head of Equity Derivatives PT RHB Sekuritas Indonesia Kenneth Zhao mengatakan waran terstruktur menawarkan sejumlah karakteristik yang dapat dimanfaatkan investor dalam mengelola portofolio. Di antaranya adalah kebutuhan modal yang relatif lebih rendah serta potensi efek pengungkit (leverage).
"Singkatnya, ada beberapa keuntungan bagi investor Waran Terstruktur, yaitu modal investasi yang lebih rendah, memanfaatkan efek pengungkit (leverage), kerugian terbatas sebesar modal awal, terdapat liquidity provider memastikan ketersediaan likuiditas di pasar, serta pembayaran tunai pada saat jatuh tempo jika Waran Terstruktur in-the-money," ujar Kenneth.
Waran terstruktur pertama kali diperkenalkan di pasar modal Indonesia pada 19 September 2022 dengan RHB Sekuritas Indonesia sebagai pionir penerbit. Dalam perkembangannya, RHB juga bekerja sama dengan Mirae Asset Sekuritas, Mandiri Sekuritas, dan Trimegah Sekuritas sebagai agen penjual.
Berapa jumlah waran terstruktur yang tercatat hingga 16 September 2026? | BEI mencatat 679 seri waran terstruktur. |
Berapa nilai transaksi waran terstruktur tersebut? | Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp4,18 triliun. |
Berapa pipeline penerbitan waran terstruktur hingga akhir 2026? | BEI mencatat pipeline sekitar 100-200 penerbitan. |
Kapan waran terstruktur pertama kali diperkenalkan di Indonesia? | Instrumen ini pertama kali diperkenalkan pada 19 September 2022. |