Jakarta, FORTUNE — Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di bawah level US$79.000 setelah upaya menembus US$80.500 gagal bertahan. Meski tekanan jual meningkat dalam jangka pendek, struktur pasar belum menunjukkan kerusakan signifikan, sementara investor kini menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS) dan keputusan The Fed sebagai katalis utama arah Bitcoin berikutnya.
Berdasarkan data pasar pada Selasa (8/9), Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$78.700–US$78.800, melemah lebih dari 1% dalam 24 jam. BTC sebelumnya sempat bergerak di atas US$80.000 sebelum kembali mengalami tekanan jual.
Melihat hal ini, CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, memandang koreksi tersebut lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi terhadap kondisi makroekonomi global ketimbang perubahan fundamental pada Bitcoin.
“Pasar saat ini sedang mencari keseimbangan baru setelah reli yang cukup kuat. Data ekonomi AS membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat, sehingga aset berisiko termasuk BTC mengalami tekanan. Namun, sejauh ini kami melihat pergerakannya masih berada dalam fase konsolidasi, bukan perubahan tren fundamental,” ujar Yudho, dalam keterangan tertulis kepada Fortune Indonesia, Selasa (8/9).
Sentimen pasar berubah setelah Bureau of Labor Statistics (BLS) AS melaporkan bahwa nonfarm payroll bertambah 162.000 pada Agustus, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1 persen. Laporan tersebut dirilis pada 4 September 2026.
Kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat membuat investor kembali mempertimbangkan peluang Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Ekspektasi terhadap suku bunga menjadi salah satu faktor yang menahan reli Bitcoin setelah aset tersebut sempat bergerak di atas US$82.000 pada awal September.
Tekanan kemudian diperbesar oleh likuidasi di pasar derivatif. Data menunjukkan sekitar US$208 juta posisi kripto terlikuidasi, dengan posisi long menyumbang US$119 juta. Pada Bitcoin sendiri, sekitar US$55 juta posisi leverage terhapus, termasuk sekitar US$35 juta posisi long.
“Ketika leverage mulai terlalu tinggi, perubahan sentimen yang sebenarnya relatif kecil bisa menghasilkan pergerakan harga yang jauh lebih besar. Proses deleveraging seperti ini memang terlihat negatif dalam jangka pendek, tetapi juga dapat membuat struktur pasar menjadi lebih sehat karena posisi spekulatif yang berlebihan mulai berkurang,” kata Yudho.
