Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Shutdown AS Usai tapi Harga Bitcoin Tetap Lesu, Turun 4,23% Sehari

bitcoin-coin-christmas-tree-with-bokeh-lights-finance-concept.jpg
Ilustrasi Bitcoin/Sumber: www.freepik.com

Jakarta, FORTUNE - Harga bitcoin kembali berada di bawah tekanan kuat meski sepanjang 2025 masih mencatat kenaikan sekitar 5 persen. Dalam 24 jam terakhir, nilai BTC merosot 4,23 persen hingga turun ke bawah level psikologis US$100.000. Koreksi ini dipicu oleh meningkatnya sentimen penghindaran risiko dan aksi jual di saham-saham teknologi di Wall Street. Berdasarkan data Coinmarketcap, bitcoin diperdagangkan di kisaran US$97.559 pada Jumat (14/11).

Penurunan tajam ini juga memangkas kapitalisasi pasar bitcoin hingga US$450 miliar sejak awal Oktober, menurut Yahoo Finance. Sejumlah penopang reli di awal tahun, mulai dari dana investasi besar, alokasi ETF, hingga cadangan kas perusahaan, tampak surut sehingga membuat pasar kripto memasuki fase yang lebih rentan.

Analis 10XResearch menyebut pergerakan ini sebagai tanda bahwa pasar kripto “telah terkonfirmasi memasuki fase bearish,” dengan arus ETF yang melemah dan tekanan jual dari pemegang jangka panjang. Head of OTC Trading Wintermute, Jake Ostrovskis, menegaskan pelemahan harga juga dipengaruhi oleh memudarnya narasi spesifik kripto. “Ketika narasi spesifik kripto menipis, korelasi dengan aset tradisional meningkat. Hal inilah yang mendorong pergerakan hari ini,” ujarnya.

Koreksi bitcoin tersebut berlangsung di tengah ketidakpastian makro global. Meski shutdown pemerintah Amerika Serikat berakhir setelah 43 hari, pasar kripto tidak menunjukkan respons positif yang signifikan. Presiden AS Donald Trump telah menandatangani RUU pendanaan yang mengakhiri penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah, tetapi langkah ini belum cukup memulihkan minat risiko investor.

Bitcoin sempat menyentuh US$102.400 dan mencatat kenaikan tipis sekitar 1 persen, tetapi belum mampu menembus kembali level kunci di atas US$106.000. Memandang hal ini, analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai penguatan tersebut masih jauh dari ekspektasi.

"Rebound Bitcoin kali ini lebih bersifat dead cat bounce, kenaikan sesaat setelah tekanan jual besar. Sentimen global memang mulai pulih setelah shutdown AS berakhir, tapi kekuatan fundamental Bitcoin belum cukup kuat untuk menembus resistensi di atas US$106.000 atau sekitar Rp1,77 miliar,” kata Fyqieh, seperti dikutip dari keterangan resmi, Jumat (14/11).

Kinerja aset kripto juga ditekan oleh menguatnya dolar AS dan ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve. Meski lembaga-lembaga seperti SEC dan CFTC kembali beroperasi setelah shutdown, proses persetujuan ETF baru diyakini tidak akan berdampak cepat bagi pasar. “Investor masih menunggu kepastian dari SEC soal ETF kripto dan arah kebijakan fiskal AS ke depan,” ujar Fyqieh.

Selain faktor makro, tekanan tambahan muncul dari pergerakan whale lama yang mulai melepas kepemilikan mereka. Beberapa alamat dormant sejak 2018 diketahui mentransfer ribuan BTC ke bursa, termasuk transaksi 1.800 BTC bernilai lebih dari US$200 juta yang dikaitkan dengan sosok lama ekosistem Mt. Gox, Owen Gunden. Kondisi ini ikut mendorong rotasi dana investor menuju privacy coin seperti Zcash, Decred, dan Monero.

Fyqieh mengingatkan bahwa reli yang lebih kuat baru akan muncul jika bitcoin mampu menutup perdagangan harian di atas US$110.000. "Selama Bitcoin gagal menembus area US$106.000–US$108.000 dengan volume kuat, arah jangka pendek masih sideways to bearish. Area support kuat saat ini ada di kisaran US$98.000, sementara target kenaikan baru bisa terbuka jika BTC menutup harian di atas US$110.000,” ujarnya.

Berakhirnya shutdown nyatanya belum mampu memantik kembali reli besar Bitcoin. Pelaku pasar masih menantikan pemicu yang lebih solid, baik dari faktor makro seperti arah suku bunga The Fed maupun perkembangan internal industri kripto, termasuk keputusan final SEC terkait ETF spot. Fyqieh memperingatkan agar investor kripto tidak terlalu cepat optimistis dan tetap memantau pasar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria
Follow Us

Latest in Market

See More

Revisi Aturan Batas Minimal Free Float: Rilis 2026, Penerapan Bertahap

09 Jan 2026, 18:06 WIBMarket