IHSG Turun 1,5 Persen Ditekan Isu S&P dan Sentimen Global

IHSG turun 1,55 persen ke 8.107,26 pada pembukaan 27 Februari 2026.
S&P memperingatkan rasio bunga utang berpotensi melampaui 15 persen pendapatan negara.
Analis menyebut support terdekat IHSG berada di level 8.000.
Jakarta, FORTUNE — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam pada pembukaan perdagangan Jumat (27/2), melanjutkan koreksi sehari sebelumnya. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pukul 09.10 WIB, IHSG melemah 1,55 persen ke level 8.107,26.
Tekanan tersebut muncul setelah S&P Global Ratings memperingatkan meningkatnya tekanan fiskal Indonesia, khususnya kenaikan biaya pembayaran bunga utang yang berpotensi melemahkan profil kredit.
Pasar merespons pernyataan tersebut dengan aksi jual di berbagai sektor, terutama saham-saham berkapitalisasi besar dan kelompok konglomerasi.
Peringatan S&P dan risiko fiskal
Melansir Bloomberg, sovereign analyst S&P Global Ratings Rain Yin dalam webinar Asia Pasifik, Kamis (26/2), menyatakan pembayaran bunga utang pemerintah “sangat mungkin” melampaui ambang batas 15 persen dari pendapatan negara tahun lalu. Jika rasio tersebut bertahan di atas level itu secara berkelanjutan, kondisi tersebut dapat mendorong pandangan lebih negatif terhadap peringkat Indonesia.
S&P saat ini masih mempertahankan outlook stabil untuk peringkat BBB Indonesia. Namun, lembaga tersebut menyoroti rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan sebagai metrik utama. Selama bertahun-tahun, Indonesia menjaga rasio itu di bawah 15 persen. Sejak pandemi, rasio tersebut meningkat signifikan dan belum menunjukkan penurunan cepat.
Indonesia mencatat defisit fiskal 2,9 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) tahun lalu, mendekati batas maksimal 3 persen sesuai aturan fiskal. Defisit lebih tinggi dari perkiraan dipicu lemahnya penerimaan negara. S&P menilai perkembangan tersebut bergerak “sedikit lebih cepat” dalam meningkatkan risiko penurunan terhadap trajektori fiskal Indonesia.
“Dua perkembangan yang kami cermati dengan sangat hati-hati adalah kerangka fiskal jangka menengah, apakah tetap berlabuh pada kebijakan aturan fiskal yang sudah mapan, dan kedua, perkembangan penerimaan,” ujar Yin.
Sebelumnya, Moody’s Ratings mengubah outlook peringkat Baa2 Indonesia menjadi negatif dari stabil. MSCI Inc. juga memperingatkan potensi penurunan status pasar negara berkembang jika isu investabilitas dan transparansi tidak dibenahi. Rangkaian pernyataan tersebut menekan sentimen investor asing.
Pergerakan indeks dan saham penekan
Pada pukul 09.30 WIB, IHSG sempat memangkas sebagian pelemahan dan berada di level 8.202 atau turun 0,40 persen. Nilai transaksi mencapai Rp5,92 triliun dengan volume 13,18 miliar saham. Sebanyak 413 saham turun, 186 saham naik, dan 359 stagnan.
Saham-saham dari Grup Barito, Sinarmas, Astra, hingga Bakrie menjadi pemberat utama indeks. Secara mingguan, IHSG terkoreksi 1,55 persen dan secara bulanan turun 9,32 persen.
Sehari sebelumnya, Kamis (26/2), IHSG sempat ambruk hingga 2 persen di sesi kedua. Sebanyak 642 saham turun, dengan tekanan terbesar berasal dari saham perbankan dan komoditas.
Mengutip Refinitiv, saham Bank Central Asia (BBCA) menjadi beban terbesar dengan kontribusi -9,48 indeks poin setelah turun 1,74 persen. Merdeka Copper Gold (MDKA) menyumbang -6,82 indeks poin, diikuti Amman Mineral (AMMN) dan Dian Swastatika Sentosa (DSSA). Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank Mandiri (BMRI) juga masuk daftar penekan utama.
Analisis teknikal dan level support
Pengamat pasar modal Michael Yeoh menyatakan tekanan pasar datang dari berbagai arah, baik eksternal maupun domestik.
“Indonesia sedang memasuki masalah struktural dan tekanan ini datang dari banyak lembaga rating luar, mulai dari MSCI, Moody’s serta S&P yang terbaru. IHSG berpeluang menuju last low di 7.750, dengan support terdekat ada di 8.000,” ujarnya, dilansir IDX Channel.
Ia menambahkan, “Secara teknikal, IHSG terkonfirmasi bearish dengan pola head and shoulders.” Sebelumnya, pola Bearish Rising Wedge juga terbentuk setelah indeks gagal menembus level psikologis 8.400. Jika pola tersebut terkonfirmasi, indeks berpotensi menguji area 7.900–7.800.
Sentimen global tambahan
Dari eksternal, Departemen Perdagangan Amerika Serikat (DOC) mengumumkan bea masuk imbalan atas impor sel dan panel surya dari Indonesia, India, dan Laos. Mengutip Reuters, tarif subsidi umum ditetapkan sebesar 104,38 persen untuk impor dari Indonesia. Kebijakan ini menambah tekanan terhadap sentimen pasar domestik.
Di sisi lain, perkembangan geopolitik turut dicermati pelaku pasar. Mediator Oman menyebut perundingan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa menghasilkan kemajuan signifikan dan akan dilanjutkan ke tahap teknis di Wina.
Kombinasi peringatan lembaga pemeringkat, tekanan teknikal, dan sentimen global mendorong volatilitas tinggi pada perdagangan IHSG akhir pekan ini.
FAQ seputar IHSG turun
| Mengapa IHSG turun pada 27 Februari 2026? | IHSG turun setelah pasar merespons peringatan S&P terkait tekanan fiskal dan kenaikan biaya bunga utang. |
| Di level berapa support terdekat IHSG? | Analis menyebut support terdekat berada di level 8.000. |
| Saham apa saja yang menekan IHSG? | Saham perbankan besar dan kelompok konglomerasi seperti BBCA, BBRI, BMRI, serta saham komoditas menjadi penekan utama. |














