Jakarta, FORTUNE - Indonesia kehilangan status sebagai bursa saham terbesar di Asia Tenggara setelah disalip oleh Singapura.
Hal itu karena total kapitalisasi pasar emiten yang tercatat di bursa telah menurun lebih dari 30 persen dari level puncaknya pada Januari, menjadi US$618 miliar (sekitar Rp10.921 triliun), berdasarkan data Bloomberg. Di sisi lain, kapitallisasi pasar bursa Singapura naik menjadi US$645 miliar (sekitar Rp11.399,04 triliun).
Sementara itu, jika mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, kapitalisasi pasar bursa Indonesia mencapai US$627 miliar atau Rp11.109 triliun per Selasa (19/5). Dibandingkan hari yang sama pada pekan sebelumnya (12/5), kapitalisasi pasar itu telah menurun 9,65 persen dari US$694 miliar atau Rp12.146 triliun.
Lalu, selama 5 hari perdagangan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi 6,41 persen. Bahkan, secara year to date, pelemahannya mencapai 27,04 persen.
Sejak akhir Januari 2026, pasar modal Indonesia memang disertai oleh berbagai ketidakpastian. Terutama yang berkaitan dengan potensi reklasifikasi kelas ekuitas dari emerging market ke frontier market oleh penyedia indeks global. Selain itu, ada pula faktor seperti prospek peringkat kredit oleh Fitch Ratings dan Moody's Ratings. Ditambah lagi dengan depresiasi rupiah yang masih berlanjut.
"Untuk IHSG sendiri, kami mencermati masih tertekan dan kami perkirakan masih rawan terkoreksi, terlebih masih ada rebalancing MSCI yang akan efektif di 1 Juni 2026," kata Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana kepada Fortune Indonesia, Rabu (20/5).
Ditambah lagi, dengan adanya sentimen baru dari adanya rencana implementasi ekspor komoditas strategis (seperti batu bara, sawit, dan paduan besi) melalui satu pintu. Hal tersebut diumumkan oleh Presiden RI Prabowo Subianto pada Sidang Paripurna DPR, Rabu pagi.
Pengamat Pasar Modal dan Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, mengatakan, dalam pekan ini hingga pekan depan, pasar mungkin masih akan bergerak volatiledengan kecenderungan konsolidasi. Selain karena sentimen global yang disebut masih cukup menantang, secara domestik, pasar tengah mencoba mencerna arah kebijakan pemerintah setelah pidato presiden itu.
"Kalau tidak ada klarifikasi yang lebih menenangkan dari pemerintah, sektor komoditas kemungkinan masih menjadi sumber tekanan IHSG dalam jangka pendek," ujarnya kepada Fortune Indonesia, Rabu.
Kendati demikian, ia melihat potensi rotasi sektor. Investor berpeluang mulai melirik sektor yang lebih defensif dan berfokus pada pasar domestik, seperti perbankan besar, consumer staples, telekomunikasi, dan kesehatan.
Selain itu, ia menambahkan, "Saham-saham yang sensitif terhadap penurunan yield dan stabilitas rupiah juga berpotensi lebih dilirik jika pasar sudah mulai percaya bahwa pemerintah tetap menjaga disiplin fiskal dan stabilitas ekonomi makro."
Sebagai konteks, dalam pidatonya, Prabowo juga menyebutkan asumsi dasar ekonomi makro 2027, dengan perincian:
Pertumbuhan ekonomi: 5,8-6,5 persen.
Inflasi: 1,5-3,5 persen.
Nilai tukar rupiah: Rp16.800-Rp17.500.
Suku bunga SBN 10 tahun: 6,5-7,3 persen.
Harga minyak mentah Indonesia: US$70-US$95 per barel.
Lifting minyak mentah: 602.000-615.000 barel per hari.
Lifting gas bumi: 934.000-977.000 barel per hari.
