MARKET

Mirrae Aset Ramal IHSG Capai 7.880 pada 2023, Ini Sektor Pilihannya

Sektor konsumsi masih akan defensif terhadap resesi.

Mirrae Aset Ramal IHSG Capai 7.880 pada 2023, Ini Sektor Pilihannyailustrasi pergerakan saham (unsplash.com/Jamie Street)

by Ekarina

10 January 2023

Jakarta, FORTUNE - Mirrae Asset Sekuritas, memprediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga akhir tahun bisa menembus 7.880 pada 2023, tumbuh sekitar 15 persen dari posisi akhir 2022 mencapai 6.850. 

Sedangkan sepanjang Januari 2023, indeks saham utama domestik diperkirakan bisa mencapai 6.953 berdasarkan analisis teknikal. 

“Kami memprediksi pergerakan IHSG akan terbatas bulan ini dengan support-resistance IHSG pada rentang 6.739-7.084, terutama karena investor diperkirakan wait and see data makro ekonomi dan hasil pertemuan The Fed," kata  Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Martha Christina di Jakarta, Selasa (10/1). 

Investor juga masih akan mencermati nilai jual bersih asing (foreign net sell) yang sudah mencapai Rp 1,7 triliun pada pekan pertama Januari, menyusul Rp20 triliun sepanjang Desember 2022. 

Dua sektor pilihan Mirrae yakni perbankan dan barang konsumsi dengan pilihan saham BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, INDF, MYOR, dan ICBP.  Adapun, pertimbangan sektor konsumsi karena sektor tersebut masih akan defensif dan tahan terhadap perlambatan ekonomi atau goncangan resesi. Meskipun di sisi lain, sektor ini masih akan dibayangi isu pelemahan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah berkaitan dengan pembelian bahan baku. 

Sedangkan perbankan, pendukung utamanya salah satunya berasal dari pertumbuhan kredit tahun ini yang diproyeksikan mencapai 12 persen, lebih tinggi dari estimasi tahun lalu 10,2 persen, dengan kenaikkan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) membuat net interest margin perbankan meningkat, 

Sentimen makro

Nafan Aji Gusta, Senior Investment Information Mirae Asset, mengatakan investor temgah menanti data makro ekonomi dalam waktu dekat perihal keputusan suku bunga The Fed pada awal Februari. 

“Berdasarkan data yang dikompilasi CME dan Bloomberg, mayoritas pelaku pasar global memprediksi suku bunga acuan Fed Fund Rate akan naik 25 basis points (bps) menjadi 4,5- 4,75 persen dari posisi saat ini 4,25-4,5 persen,” ujarnya. 

Sedangkan di dalam negeri, Bank Indonesia diperkirakan akan kembali menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps pada Rapat Dewan Gubernur BI berikutnya menjadi 5,75 persen. Kebijakan ini dilakukan sebagai upaya bank sentral menjaga inflasi inti dalam target 3±1 persen.

Pada Desember 2022, inflasi Indonesia naik tipis menjadi 5,51 persen dari level terendah tiga bulan di bulan November sebesar 5,4 persen. Sedangkan secara bulanan, IHK Indonesianaik 0,66 persenpada Desember karena faktor musiman  perayaan Natal dan Tahun Baru.