Jakarta, FORTUNE - Harga emas spot mencapai level tertinggi baru. Sejumlah saham emiten emas pun menguat, Selasa (13/1).
Pada perdagangan Senin (12/1), harga emas dunia meraih level tertinggi dengan menembus US$4.600 per troy oz, lalu ditutup di harga US$4.591 per troy oz. Bahkan sempat menyentuh harga US$4.630,01 per troy oz, sebagaimana dikutip dari Investing News. Hingga Selasa, harga emas global masih berada di atas US$4.600, tepatnya US$4.607,04 pada pukul 11.18 WIB.
"Perkembangan geopolitik belakangan ini, seperti intervensi Amerika Serikat (AS) di Venezuela, rencana takeover Greenland, dan potensi keterlibatan militer AS di Iran, menyoroti tingginya ketidakpastian global selama pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump, yang berpotensi terus menopang sentimen positif bagi harga emas," demikian catat tim Stockbit Sekuritas.
Lembaga keuangan global pun memperkirakan penguatan harga emas akan berlanjut. Goldman Sachs, misalnya, memproyeksi harga emas dapat mencapai US$4.900 per troy oz pada Desember 2026. Sementara itu, JP Morgan memperkirakan harga logam kuning itu dapat menembus US$5.050 troy per ons pada kuartal-IV 2026.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, harga emas hari ini akan bergerak di antara support US$4.553-US$4.516 per troy ons dan resisten antara US$4.650-US$4.700 per troy ons. "Dalam minggu ini kemungkinan besar harga emas dunia akan menembus US$4.700 per troy ons," katanya kepada Fortune Indonesia (13/1).
Potensi penguatan harga emas tersebut ditopang sejumlah faktor. Pertama, fenomena politik di Amerika Serikat (AS). Itu berkaitan dengan pemanggilan Jerome Powell, Ketua The Fed oleh Kejaksaan Agung AS. Menurut Ibrahim, penyelidikan itu berpotensi berujung pada penyelidikan tentang penguapan dana.
Yang kedua, pekan depan, Kejaksaan Agung AS juga akan memanggil Lisa Cook, Federal Reserve Governor, terkait upaya pemecatannya oleh Trump. Di sisi lain juga, di bulan Januari ini juga diangkat tentang surat peringatan perang dagang dari Kejaksaan Agung AS.
"Artinya, di Januari ini kemungkinan besar ada 3 agenda besar yang akan membuat perpolitikan AS memanas, walau akan ada pemilu sela juga di kuartal-I 2026 untuk memilih anggota DPR," kata Ibrahim.
