Inflasi Sepanjang 2025 Capai 2,92 Persen, Dipicu Emas dan Cabai

- Terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi secara tahunan.
- Emas dan cabai tergolong sebagai penyumbang utama inflasi.
- Komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan tertinggi.
Jakarta, FORTUNE - Inflasi Indonesia sepanjang tahun kalender 2025 mencapai 2,92 persen (year-to-date/YtD). Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan lonjakan harga dipicu oleh komoditas emas dan sejumlah bahan pangan bergejolak seperti cabai, yang konsisten menjadi penyumbang utama inflasi dalam tahun tersebut.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan inflasi tahun lalu lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi YtD pada Desember periode 2021–2024, dengan 2022 sebagai pengecualian.
“Secara umum, selama Januari hingga Desember 2025, komoditas dari komponen harga bergejolak dan komponen inti memiliki frekuensi yang lebih sering muncul sebagai komoditas utama penyumbang inflasi bulanan,” kata Pudji saat merilis data bulanan, Senin (1/5).
Pada 2025, emas dan emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil inflasi tahunan terbesar. Komoditas tersebut bahkan 11 kali menjadi penyumbang inflasi bulanan utama dalam setahun.
Secara tahunan (year-on-year/YoY), inflasi pada Desember 2025 mencapai 2,92 persen. Kenaikan ini tecermin pada Indeks Harga Konsumen (IHK) yang meningkat dari 106,80 pada Desember 2024 menjadi 109,92 pada Desember 2025.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan per Desember 2025 terutama didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada level 4,58 persen dengan andil 1,33 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras.
Di sisi lain, terdapat kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi secara tahunan, yakni informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan andil 0,02 persen.
Ditinjau dari komponennya, seluruh komponen inflasi mengalami kenaikan secara tahunan pada Desember 2025.
Komponen inti mengalami inflasi 2,38 persen dan menjadi penyumbang andil inflasi terbesar dengan 1,53 persen. Komoditas dominan pada komponen inti meliputi emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya akademi atau perguruan tinggi, serta kopi bubuk.
Sementara itu, komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan 1,93 persen dengan andil 0,38 persen. Inflasi pada komponen ini dipicu oleh kenaikan tarif air minum perpipaan di 13 wilayah, serta harga sigaret kretek mesin (SKM), bensin, dan sigaret kretek tangan (SKT).
Komponen harga bergejolak mencatatkan inflasi tahunan tertinggi pada level 6,21 persen dengan andil inflasi 1,01 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada komponen ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
BPS melaporkan inflasi Desember 2025 secara bulanan mencapai 0,64 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, inflasi relatif tinggi umumnya terjadi pada periode hari besar keagamaan nasional (HBKN), seperti Ramadan, Lebaran, serta Natal dan Tahun Baru.
“Secara historis, kelompok makanan, minuman, dan tembakau selalu memberikan andil inflasi terbesar di setiap Desember,” kata Pudji.

















