Jakarta, FORTUNE - Harga emas diproyeksi dapat menyentuh level US$10.000 per oz pada 2030.
Di pasar spot, harga emas telah menguat 2,2 persen ke kisaran US$4.936 per oz per Kamis (22/1), lalu melambung ke level All-Time High (ATH) di kisaran US$4.963,4 pada Jumat (23/1) pagi.
"Tapi proyeksi itu masih 4 tahun lagi. Kalau tahun ini targetnya sekitar US$5.000 untuk penguatan emas," kata Praktisi Pasar Modal dan Co-Founder Pasar Dana, Hans Kwee dalam Edukasi Wartawan Pasar Modal, Jumat (23/1).
Ia mengacu pada analisis Goldman Sachs, yang baru saja meningkatkan perkiraan laju harga emas menjadi US$5.400 pada akhir 2026, dari sebelumnya hanya US$4.900.
Katalis di balik kenaikan proyeksi harga emas itu adalah diversifikasi berkelanjutan para investor dan bank sentral pasar negara berkembang ke instrumen tersebut di tengah berbagai risiko global, seperti tensi geopolitik terkait perang, sengketa Greenland, ancaman Tarif Trump ke negara-negara Eropa, hingga kecemasan pasar terhadap independensi The Fed.
"Emas ini 2026 masih akan tumbuh karena ekonomi global melemah, kebijakan moneter akumulatif, risiko geopolitik masih tinggi, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, hingga meningkatnya permintaan investor swasta," jelas Hans Kwee.
Dengan adanya peluang penguatan lanjutan terhadap harga emas ke depannya, saham-saham sektor emas pun berpotensi menuai sentimen positif. Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Theodorus Melvin, menilai, hal itu akan menjadi sentimen positif jangka pendek bagi emiten seperti BRMS, ARCI, EMAS, MDKA, PSAB, ANTM, dan HRTA.
"Karena berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (ASP) dan volume transaksi perseroan," kata Theodorus dalam risetnya.
Dikutip dari IDX Mobile, berikut ini pergerakan harga saham-saham tersebut pada akhir perdagangan Jumat: BRMS (+1,63 persen); ARCI (-0,26 persen); EMAS (+3,78 persen); MDKA (+1,85 persen); PSAB (-0,80 persen); ANTM (+1,66 persen); dan HRTA (+0,43 persen).
