Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
  • IHSG ditutup anjlok 3,78 persen ke 4.904,29 setelah menembus support 4.962; tren bearish dominan dengan support berikutnya di 4.830–4.761.
  • Peluang rebound teknikal tetap terbuka karena RSI memasuki area jenuh jual, tetapi IHSG perlu merebut kembali 4.962–5.000; perdagangan diperkirakan volatil dan defensif.
  • Investor menanti Pemilu Sela AS, data ekonomi AS, harga minyak, pelemahan rupiah, reformasi BEI, serta MSCI Index Review yang berpotensi memengaruhi arus dana asing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan kembali terkoreksi pada perdagangan Rabu (4/11), setelah ditutup anjlok 3,78 persen ke level 4.904,29.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG mengalami breakdown setelah menembus support 4.962 dan membentuk bearish candle dengan posisi penutupan dekat level terendah harian.

MACD masih negatif dan melebar ke bawah, dengan garis MACD (-292) berada di bawah signal line (-265), sementara harga jauh di bawah MA20 (5.482). "Kondisi ini mengindikasikan tren bearish masih dominan. Support berikutnya berada di 4.830–4.761," kata Reza.

Peluang technical rebound tetap ada setelah koreksi tajam, tetapi area 4.962–5.000 kini menjadi resisten yang perlu direbut kembali untuk memperbaiki momentum.

Memasuki perdagangan Rabu, perhatian investor tertuju pada perkembangan sentimen global, khususnya hasil Pemilu Sela AS yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan pemerintahan Trump dan sentimen risiko pasar.

Selain itu, pergerakan harga minyak perlu dicermati setelah Brent sempat turun lebih dari 7 persen sebelum kembali naik ke sekitar US$105 per barel akibat laporan eskalasi konflik di kawasan Teluk.

Pasar juga akan menantikan rilis data tenaga kerja dan aktivitas ekonomi AS sepanjang pekan ini.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah MPMX, INDF, dan ASII.

Di sisi lain, Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal, adapun ujian ketahanan market telah dimulai seiring indikator RSI yang berada di area oversold (jenuh jual), meskipun masih membentuk sinyal negatif. Selain itu, indikator Stochastics K_D juga menunjukkan sinyal negatif, sementara volume perdagangan mengalami penurunan.

"Sentimen IHSG pada hari ini berpotensi bergerak mixed dengan kecenderungan volatil dan masih relatif defensif," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.

Menurut Nafan, terkait Pemilu Sela AS, para pelaku pasar memprediksi kemungkinan hampir 75 persen bahwa Partai Demokrat akan merebut DPR dan Senat. Kemenangan telak Partai Demokrat di kedua kamar (DPR dan Senat) diproyeksikan memberikan sentimen negatif jangka pendek, khususnya bagi saham-saham sektor teknologi/AI, pertahanan, dan perawatan kesehatan. Hal itu dipicu oleh ekspektasi bahwa penguasaan Demokrat akan meningkatkan pengawasan regulasi (regulatory scrutiny) dan investigasi terhadap industri-industri besar tersebut.

Sebaliknya, pembagian kekuasaan atau kemenangan Partai Republik dipandang pasar sebagai skenario yang lebih ramah bagi korporasi. "Oleh sebab itu, para investor cenderung mengambil sikap wait-and-see sembari mencermati dinamika persaingan politik yang dapat memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan regulasi di masa mendatang," kata Nafan.

Dari sisi domestik, perhatian investor masih tertuju pada efektivitas reformasi pasar modal BEI, khususnya peningkatan transparansi kepemilikan saham, perbaikan struktur free float, dan penguatan kredibilitas pasar. Kebijakan pengecualian saham HSC pada 2 November 2026 juga masih membutuhkan waktu untuk dievaluasi dampaknya terhadap struktur indeks dan perilaku investor.

Pelemahan rupiah hingga high level pada Rp18.165 per dolar AS pada perdagangan kemarin meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi capital outflow.

Selain itu, investor masih mencermati pengumuman MSCI Index Review pada 11–12 November 2026. Ketidakpastian mengenai bobot saham Indonesia dalam indeks global berpotensi membuat investor asing mengambil sikap wait and see. Hal ini menjadi tantangan bagi pemulihan saham-saham berkapitalisasi besar.

Editorial Team

Related Article