Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Pengguna Ramai Tarik Dana, Binance Klaim Sudah Pulihkan 90% Aset

4 min read
Pengguna Ramai Tarik Dana, Binance Klaim Sudah Pulihkan 90% Aset
ilustrasi Binance Coin (pexels.com/Bastian Riccardi)
  • Setelah layanan dibuka kembali, pengguna Binance menarik aset bersih US$3,64 miliar, setara sedikit di atas 2% dari total aset kelolaan US$171 miliar.
  • Binance menyatakan telah menutup sekitar 90% aset token senilai US$6,3 miliar yang dicuri dan akan mengganti sisanya melalui dana SAFU, asuransi Futures, serta kas perusahaan.
  • FBI mengaitkan pencurian dengan kelompok Korea Utara TraderTraitor atau Lazarus Group, sementara investigasi Binance menelusuri rangkaian serangan yang lebih kompleks dari dugaan awal.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Pengguna Binance menarik aset senilai US$3,64 miliar atau sekitar Rp59 triliun dari bursa mata uang kripto terbesar di dunia tersebut setelah layanan perdagangan kembali beroperasi pada Minggu (1/11). Penarikan besar-besaran ini terjadi beberapa hari setelah Binance mengalami pencurian aset digital senilai US$6,3 miliar.

Sebelumnya, Binance menghentikan seluruh transaksi menyusul insiden peretasan yang disebut sebagai salah satu pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah. Namun, setelah layanan dibuka kembali, aktivitas penarikan sempat melonjak sebelum berangsur menurun.

Dalam keterangannya melalui platform X, Binance menyebut telah memproses penarikan sebesar US$4,649 miliar dan setoran US$1,01 miliar dalam rentang pukul 06.00 hingga 15.30 GMT pada 1 November. Dengan demikian, arus keluar bersih (net outflow) dari platform tersebut mencapai sekitar US$3,64 miliar.

"Antara pukul 06.00 hingga 15.30 [GMT] pada 1 November, kami memproses penarikan sebesar US$4,649 miliar dan setoran sebesar US$1,01 miliar, sehingga menghasilkan arus keluar bersih sekitar US$3,64 miliar," tulis Binance melalui akun X-nya, mengutip BBC.

Binance mengatakan lonjakan penarikan terjadi pada tahap awal pembukaan kembali layanan. Meski demikian, aktivitas tersebut kemudian berkurang dan mulai bergerak stabil sesuai perkiraan perusahaan. Nilai penarikan bersih tersebut setara dengan sedikit lebih dari 2 persen dari total aset kelolaan Binance yang mencapai US$171 miliar. Perusahaan juga menyatakan telah menyiapkan dana cadangan lebih dari US$6,34 miliar untuk menangani dampak serangan siber tersebut.

Di tengah pemulihan layanan, Binance turut mengupayakan penggantian aset pelanggan yang dicuri. Melansir laporan CNBC pada Minggu (1/11/), perusahaan menyatakan telah menutupi sekitar 90 persen dari total aset token senilai US$6,3 miliar yang hilang dari hot wallet atau dompet digital yang terhubung ke internet. Perusahaan menegaskan akan tetap bertanggung jawab atas seluruh kerugian, meskipun pengadaan sisa aset diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang.

Binance menjelaskan, sisa 10 persen aset yang belum terpenuhi terdiri atas token di luar 10 aset utama perusahaan. Likuiditas token-token tersebut relatif lebih rendah sehingga proses pengadaannya membutuhkan waktu tambahan. Untuk memenuhi kewajiban tersebut, Binance berencana membeli sisa token yang dibutuhkan melalui pasar terbuka maupun transaksi langsung (over-the-counter) hingga seluruh aset yang terdampak dapat diganti.

Perusahaan juga menyatakan sejumlah aset kripto utama telah dijamin sepenuhnya, termasuk Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Tether (USDT), BNB, Solana (SOL), USD Coin (USDC), XRP, USD1, RLUSD, dan Zcash (ZEC).

"Semua aset BTC, ETH, USDT, BNB, SOL, USDC, XRP, USD1, RLUSD, dan ZEC kini telah dijamin sepenuhnya sebesar 100 persen. Binance akan menanggung dampak finansial dari dana yang dicuri ini, bukan pengguna kami,” ujar Binance dalam sebuah pernyataan.

Adapun sumber pendanaan untuk mengganti aset pelanggan berasal dari beberapa pos, yakni Secure Asset Fund for Users (SAFU), sebagian dana asuransi perdagangan berjangka (Futures), serta kas perusahaan.

"Komitmen kami tetap sama: Binance akan menanggung sepenuhnya dampak finansial dari dana yang dicuri dalam insiden ini. Kami akan terus menunjukkan komitmen tersebut melalui kemajuan yang terukur, pelaporan yang transparan, dan tindakan nyata,” kata Binance.

Di sisi lain, investigasi terhadap serangan siber tersebut mengarah pada kelompok peretas asal Korea Utara. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) secara resmi menyatakan Korea Utara bertanggung jawab atas pencurian aset dari Binance. Serangan tersebut dikaitkan dengan kelompok kejahatan siber TraderTraitor, yang juga dikenal sebagai Lazarus Group. Kelompok ini sebelumnya terlibat dalam pencurian aset senilai US$1,5 miliar dari bursa kripto Bybit pada 2025.

Pada Sabtu (31/10), FBI merilis daftar alamat dompet kripto yang terhubung dengan kelompok tersebut. Lembaga itu juga meminta para pelaku industri untuk membantu memblokir transaksi yang melibatkan alamat-alamat tersebut.

FBI menyebut para pelaku telah mencuci aset hasil pencurian dengan mengonversinya menjadi Ethereum. Lembaga tersebut memperkirakan proses konversi aset digital itu masih akan berlanjut sebagai bagian dari persiapan menuju tahap pencucian berikutnya.

Sementara itu, Binance meminta sejumlah penerbit mata uang kripto membekukan aset yang terdampak. Langkah tersebut dilakukan untuk membatasi pergerakan dana hasil peretasan.

Mengenai cara pelaku menembus sistem keamanan, Binance sebelumnya menyampaikan hasil pemeriksaan awal yang mengarah pada dugaan kompromi terhadap laptop milik seorang insinyur DevOps. Perangkat tersebut diduga menjadi pintu masuk bagi peretas untuk mengakses service container dan menjalankan transaksi penarikan tanpa izin.

Namun, Co-CEO Binance Richard Teng kemudian menyatakan bahwa serangan tersebut melibatkan rangkaian proses yang lebih kompleks dan tidak semata-mata berasal dari penyalahgunaan hak akses seorang insinyur.

Perusahaan intelijen blockchain dan investigasi berbasis kecerdasan buatan, TRM Labs, juga sebelumnya mengidentifikasi peretas asal Korea Utara sebagai pihak yang berada di balik serangan tersebut.

“Beberapa karakteristik serangan ini serupa dengan peretasan yang sebelumnya dikaitkan dengan Korea Utara, termasuk peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026: penarikan dana dalam jumlah kecil melalui Tornado Cash untuk mendanai dompet operator, persiapan yang dilakukan jauh sebelum pencurian terjadi, serta tanda tangan yang diperoleh sebelumnya dan kemudian dieksekusi secara serentak,” ungkap perusahaan tersebut.

    Related Articles

    See More