IHSG Diprediksi Menguat Lagi Seiring Penantian Hasil RDG BI

- IHSG diperkirakan melanjutkan penguatan dengan support di 6.220–6.250 dan resisten 6.360–6.400, didorong momentum bullish serta antisipasi hasil RDG Bank Indonesia.
- Konsensus pasar memperkirakan BI rate naik 25 bps menjadi 6 persen untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan inflasi, sementara arus dana asing mulai menunjukkan tren positif.
- Optimisme investor meningkat berkat dorongan dari Bursa Wall Street, potensi gencatan senjata Timur Tengah, serta kinerja emiten semester I/2026 yang diprediksi jadi katalis tambahan bagi IHSG.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali menguat pada Rabu (22/7), setelah ditutup naik 1,74 persen ke level 6.340,02.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, IHSG masih berpeluang naik dengan support 6.220-6.250 dan resisten 6.360-6.400. Saham-saham yang masuk pantauannya adalah BRMS, INET, dan RAJA.
"Momentum bullish masih terjaga, namun setelah reli yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir, potensi profit taking jangka pendek tetap perlu diwaspadai," kata Reza dalam riset hariannya.
Pasar hari ini akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, dengan konsensus memperkirakan BI rate naik 25 bps menjadi 6 persen sebagai langkah menjaga stabilitas rupiah dan mengantisipasi tekanan inflasi.
Dari eksternal, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan konflik Timur Tengah. Seiring dengan meningkatnya harapan tercapainya gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga minyak bren mulai turun ke kisaran US$88 per barel.
Kemarin, IHSG menguat berkat kenaikan harga saham-saham berkapitalisasi besar seperti AMMN, CUAN, dan DEWA. Sentimen domestik juga didukung optimisme pembentukan Pusat Keuangan Internasional Indonesia (PfII), peringkat kredit Indonesia dari S&P Global Ratings, serta rencana penerbitan Panda Bond yang memperoleh peringkat stabil di Cina.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG terus mengalami apresiasi dan beberapa kali menembus batas khususnya di atas MA60. Hal ini mengingat telah terjadi reli penguatan yang melampaui MA20.
Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume. Untuk Rabu, 22 Juli 2026, sentimen terhadap IHSG cenderung positif, meski volatilitas masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan BI.
Sentimen geopolitik seperti ketegangan di kawasan Timur Tengah dan kebijakan tarif baru AS masih menjadi risiko, namun untuk sementara tertutupi oleh optimisme terhadap earnings dan pemulihan saham teknologi di Bursa Wall Street. Harga minyak Brent tetap bertahan di level tinggi di atas US$90 per barel di tengah kekhawatiran pasokan energi.
"Dengan demikian, angin segar dari Bursa Wall Street ini berpotensi memberikan dorongan eforia positif atau risk-on mode bagi bursa regional Asia pagi ini, sehingga memberikan efek positif bagi penguatan IHSG," kata Nafan.
Adapun rotasi capital ke pasar Indonesia masih menjadi katalis positif bagi IHSG. Sejumlah investor global mulai melihat valuasi saham Indonesia semakin menarik setelah koreksi yang dalam sepanjang tahun. IHSG telah mencatat kenaikan lebih dari 10 persen sepanjang Juli dan mulai menarik minat investor institusi global.
Bahkan arus dana asing mulai membaik, didukung ekspektasi konsensus terkait kenaikan suku bunga BI sebesar 25 bps pada RDG hari ini demi menjaga stabilitas rupiah. Saat ini, rupiah terapriesiasi 0,33 persen menjadi Rp17.888 per dolar AS.
Kemudian, peralihan tren dana asing menjadi net buy structural yang ditopang transparansi regulasi terbaru seperti indikator HSC oleh BEI serta penyesuaian filter EPI oleh MSCI, membuat saham-saham big caps seperti perbankan, infrastruktur, dan komoditas terus diserap investor institusi global.
"Di sisi lain, musim laporan keuangan semester I/2026 diperkirakan menjadi katalis tambahan. Emiten dengan kinerja di atas ekspektasi berpotensi menjadi penggerak utama indeks," catat Nafan.











