Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
IHSG Diproyeksi Bergerak Mixed Cenderung Melemah, Ini Sentimennya
Ilustrasi perdagangan di bursa saham. (Fortune Indonesia/Tanayastri Dini)
  • IHSG diproyeksikan bergerak variatif cenderung melemah dengan support di 5.730 dan resisten di 6.000, sementara peluang rebound masih terbatas menurut analis BRI Danareksa Sekuritas.
  • Investor asing mencatat net sell Rp854 miliar terutama pada saham big banks, namun rupiah terapresiasi 0,40 persen berkat intervensi moneter BI melalui lelang SRBI.
  • Sentimen global relatif mereda seiring turunnya harga minyak dan antisipasi pasar terhadap data ekonomi AS serta pidato Gubernur The Fed yang bisa memengaruhi aset berisiko.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak variatif pada perdagangan Selasa (30/6), setelah ditutup terkoreksi 1,28 persen ke level 5.820,79.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, secara teknikal, laju IHSG diproyeksikan cenderung melemah dengan support 5.730 dan resisten 6.000. Peluang rebound masih terbatas selama IHSG belum mampu menembus area resisten itu.

"Pasar hari ini akan mencermati rilis PMI manufaktur, inflasi, dan neraca perdagangan Indonesia sebagai indikator kesehatan ekonomi domestik," kata Reza dalam risetnya.

Di sisi lain, rencana IPO sejumlah emiten pada awal Juli juga berpotensi menyerap likuiditas pasar dalam jangka pendek.

Saham-saham pilihan BRIDS hari ini adalah HMSP, DSSA, dan UNVR.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menjelaskan, secara teknikal, pergerakan IHSG diproyeksikan melemah terbatas sejak wave (b) terbentuk. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif didukung penurunan volume, namun RSI masih menunjukkan sinyal positif dan cenderung menguat.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp854 miliar pada kemarin, dengan saham big banks seperti BBCA dan BMRI menjadi target jualan utama. Meski demikian, nilai tukar rupiah terapresiasi 0,40 persen ke kisaran Rp17.851 per dolar AS berkat intervensi moneter BI lewat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

"Hal itu diharapkan dapat menjadi penahan agar koreksi IHSG tidak terlalu dalam. Apalagi pergerakan IHSG sebenarnya sudah mulai terlihat membentuk wave (b)," kata Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta.

Di kawasan Timur Tengah, walau sempat terjadi upaya gencatan senjata, pasar masih mewaspadai eskalasi lanjutan antara AS dan Iran. Hal ini diakibatkan perbedaan tafsir atas kesepakatan perdamaian, khususnya terkait kendali Selat Hormuz. Namun demikian, sentimen dari konflik AS-Iran ini tidak lagi menjadi kekhawatiran utama bagi para pelaku pasar sebab harga minyak global sudah dalam tren penurunan sebelumnya.

"Hal itu tentunya meredakan kekhawatiran atas membengkaknya subsidi BBM dalam negeri dan menahan lajunya imported inflation. Di sisi lain, para pelaku pasar bersikap prudent mengantisipasi rilis data makro ekonomi AS (Non-Farm Payrolls) serta pidato Gubernur The Fed pekan ini. Bila memberikan sinyal hawkish maka akan membatasi apresiasi aset berisiko di emerging markets," kata Nafan.

Daftar saham pilihan Mirae adalah ANTM, DSNG, dan IMPC.

Editorial Team

Related Article