Kejatuhan IHSG pada pekan lalu bukan hanya dipicu faktor eksternal, tapi juga sejumlah faktor domestik.
Hari menjelaskan koreksi tajam terjadi akibat kombinasi tiga faktor utama, yaitu rebalancing indeks FTSE Russell yang memicu aksi jual paksa pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, inflasi Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen secara tahunan, serta pelemahan rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar AS.
"Kombinasi ketiga faktor tersebut membentuk tekanan yang sulit diimbangi oleh aliran dana domestik, menjadikan pekan ini sebagai salah satu yang paling berat bagi IHSG dalam beberapa bulan terakhir," ujarnya.
Sementara itu, M. Nafan Aji Gusta Utama sebagai Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menyatakan IHSG telah memasuki area extremely oversold berdasarkan indikator Relative Strength Index (RSI). Tekanan jual sudah sangat tinggi, sehingga secara teknikal berpotensi terjadinya rebound.
Meski demikian, Nafan menilai tren pelemahan belum sepenuhnya berakhir. Ia memperkirakan IHSG memiliki level support di 5.491 dan 5.390, sementara level resistance berada di 5.733 dan 5.839.
Pergerakan indeks dalam jangka pendek juga akan dipengaruhi sentimen global, arus dana asing, serta sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pekan ini.
Berapa total net sell investor asing sepanjang 2026? | Investor asing mencatat net sell Rp72,22 triliun di pasar reguler hingga awal Juni 2026. |
Saham apa yang paling banyak dijual investor asing? | PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi saham dengan net sell terbesar sebesar Rp2,28 triliun. |
Berapa level penutupan IHSG pada 5 Juni 2026? | IHSG ditutup di level 5.594,76 setelah turun 8,69 persen dalam sepekan. |