Investor Cermati Alokasi Dana SAL, Laju IHSG Diprediksi Terbatas

- IHSG diperkirakan bergerak terbatas dengan peluang technical rebound, didorong injeksi dana SAL ke himbara dan rilis data ekonomi penting seperti PMI, inflasi, serta neraca perdagangan.
- Pelemahan IHSG pekan lalu dipicu aksi jual asing senilai Rp302 miliar pada saham big banks, meski rupiah menguat tipis berkat intervensi moneter BI melalui lelang SRBI.
- Keputusan MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market memberi sentimen positif, sementara konflik AS-Iran mereda dampaknya karena harga minyak global menurun.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melaju terbatas pada perdagangan Senin (29/6), setelah ditutup turun 1,72 persen di level 5.896,13.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, pasar hari ini akan mencermati rencana pemerintah menginjeksi kembali Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke himbara untuk menjaga likuiditas perbankan.
"Investor juga menunggu rilis data domestik penting pekan ini, yaitu PMI Manufaktur, Neraca Perdagangan, dan Inflasi, yang akan menjadi indikator kondisi ekonomi dan arah kebijakan selanjutnya," kata Reza dalam riset hariannya.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak terbatas dengan peluang technical rebound, dengan support di 5.860 dan resisten di 6.130. Rebound berpotensi terjadi apabila sentimen domestik membaik dan tekanan dari pasar global mulai mereda.
Daftar saham pilihan tim BRIDS adalah KLBF, BBCA, dan MBMA.
Pada minggu lalu, pelemahan IHSG terjadi sejalan dengan pelemahan mayoritas bursa global. Tekanan pasar dipicu aksi jual pada saham-saham teknologi global di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap lonjakan belanja infrastruktur AI, meskipun rupiah menguat tipis ke Rp17.922 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta memperkirakan IHSG melemah terbatas sejak wave (b) terbentuk. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif didukung penurunan volume, namun RSI menunjukkan sinyal positif.
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp302 miliar pada akhir pekan lalu, dengan saham big banks seperti BMRI menjadi target jualan utama. Meskipun sektor keuangan menguat tipis 0,03 persen, tekanan jual asing ini masih membebani langkah IHSG. Akan tetapi, adapun nilai tukar rupiah sedikit menguat 0,12 persen ke kisaran Rp17.922 per dolar AS berkat intervensi moneter BI lewat lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Hal itu diharapkan dapat menjadi penahan agar koreksi indeks tidak terlalu dalam. Apalagi pergerakan IHSG sebenarnya sudah mulai terlihat membentuk wave (b)," kata Nafan dalam risetnya.
Sementara itu, keputusan MSCI yang tetap mempertahankan Indonesia masuk dalam kategori emerging market, telah menepis kekhawatiran downgrade ke frontier market untuk sementara waktu, sejatinya dapat memberikan katalis positif bagi IHSG.
Di sisi lain, para pelaku investor menantikan peririlisan data makroekonomi awal bulan Juli dalam pekan ini, meliputi inflasi domestik, neraca perdagangan, serta indeks manufaktur Purchasing Managers' Index (PMI).
Sementara dari geopolitik, prospek perdamaian antara AS dengan Iran kembali meredup setelah kedua negara ini saling melancarkan serangan militer. Hal itu diakibatkan perbedaan tafsir atas kesepakatan perdamaian, khususnya terkait kendali Selat Hormuz.
Meskipun demikian, sentimen dari konflik AS-Iran ini tidak lagi menjadi kekhawatiran utama bagi para pelaku pasar sebab harga minyak global sudah menurun. "Hal tersebut tentunya meredakan kekhawatiran atas membengkaknya subsidi BBM dalam negeri dan menahan lajunya imported inflation," tulis Nafan.














