Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jelang Rilis Data Inflasi AS, Bitcoin Berisiko Turun ke US$80.000
ilustrasi crypto bitcoin, kripto (pexels.com/DS stories)
  • Bitcoin kembali di atas US$83.000, namun volatilitas meningkat menjelang rilis inflasi AS 14 Oktober yang dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
  • Menurut CEO FLOQ Yudhono Rawis, inflasi AS di atas perkiraan berpotensi menekan Bitcoin di bawah US$80.000; inflasi mereda dapat mendorong harga menuju US$86.000.
  • Pasar juga memantau PPI, pidato Ketua The Fed, arus ETF Bitcoin spot, minyak, dan geopolitik; investor diingatkan mengelola posisi, batas kerugian, serta leverage.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, FORTUNE – Harga Bitcoin berpotensi mengalami volatilitas menjelang pengumuman data inflasi Amerika Serikat (AS) pada Rabu (14/10). Hasil data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), sekaligus menentukan arah pergerakan aset kripto tersebut.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai Bitcoin berpeluang terkoreksi hingga di bawah US$80.000 apabila inflasi AS melampaui perkiraan. Sebaliknya, apabila tekanan inflasi mereda, harga aset kripto terbesar tersebut berpotensi menguat menuju US$86.000.

Sebelumnya, Bitcoin kembali diperdagangkan di atas US$83.000 setelah tertekan oleh aksi ambil untung, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS. Namun, pergerakan harga masih dibayangi ketidakpastian karena investor menanti sinyal terbaru mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

“Jika inflasi lebih tinggi daripada perkiraan, pasar bisa kembali mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi ini berpotensi menekan Bitcoin melalui penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah,” kata Yudho, dalam keterangan tertulis kepada Fortune Indonesia, Selasa (13/10).

Selain indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) pada 14 Oktober, pelaku pasar akan mencermati rilis indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) pada 15 Oktober. Perhatian juga tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada 16 Oktober. Rangkaian agenda tersebut dapat memengaruhi perkiraan investor terhadap prospek suku bunga AS.

Selain data ekonomi, arus dana pada produk exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di AS menjadi salah satu indikator yang dicermati untuk menilai kekuatan pemulihan harga. Menurut Yudho, kenaikan Bitcoin akan lebih meyakinkan apabila ditopang oleh kembalinya aliran dana masuk ke produk investasi tersebut.

“Pemulihan harga Bitcoin tidak hanya bergantung pada sentimen pasar, tetapi juga pada dukungan permintaan yang nyata. Jika arus dana masuk ETF kembali menguat, hal ini berpotensi mendukung pemulihan harga,” katanya, menambahkan.

Di luar faktor tersebut, harga minyak, ketegangan geopolitik, perkembangan inflasi AS, serta arah kebijakan suku bunga The Fed turut memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko. Kombinasi berbagai faktor itu membuat pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat masih rentan terhadap perubahan ekspektasi pasar.

Data inflasi AS menjadi salah satu katalis penting karena dapat mengubah perkiraan investor mengenai kebijakan moneter. Inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi berpotensi menambah tekanan pada aset berisiko, sedangkan angka yang lebih rendah dapat membuka peluang penguatan.

Di tengah ketidakpastian, Yudho mengingatkan investor agar tidak hanya terpaku pada sasaran harga. Pengelolaan risiko, antara lain dengan menyesuaikan ukuran posisi, menetapkan batas kerugian, dan berhati-hati menggunakan leverage, tetap diperlukan di tengah potensi perubahan harga yang tajam.

Dengan Bitcoin yang kembali bergerak di atas US$83.000, rilis inflasi AS pada 14 Oktober akan menjadi salah satu perhatian utama pasar. Tekanan dapat kembali meningkat jika inflasi melampaui perkiraan dan arus dana ETF masih menunjukkan pelemahan. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah disertai penguatan permintaan institusional berpotensi mendukung pergerakan menuju US$86.000.

Kendati demikian, level US$80.000 dan US$86.000 merupakan skenario analisis, bukan kepastian arah harga. Untuk prospek hingga akhir tahun, Yudho memperkirakan Bitcoin masih berpotensi bergerak dalam rentang yang lebar. “Jika melihat kondisi pasar saat ini, Bitcoin berpotensi bergerak dalam rentang US$75.000-US$100.000 hingga akhir 2026, dengan asumsi tidak ada guncangan besar pada ekonomi global,” katanya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article