Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install

Ketidakpastian Meningkat, DBS Prediksi The Fed Masih Tahan Suku Bunga

Ketidakpastian Meningkat, DBS Prediksi The Fed Masih Tahan Suku Bunga
DBS Bank Market Outlook
Intinya Sih
  • DBS Bank memproyeksikan The Fed menahan suku bunga pada rapat FOMC, dengan keputusan bergantung pada inflasi dan kondisi ekonomi AS yang masih menghadapi tekanan.
  • Ketidakpastian kebijakan moneter AS diperkirakan meningkat karena arah komunikasi gubernur baru Kevin Warsh dinilai lebih terbatas, terutama menjelang pertemuan September dan Oktober.
  • DBS memperkirakan Bank Indonesia masih menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini, yang dapat mendukung valuasi IHSG, kepercayaan pasar, dan rotasi dana asing.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, FORTUNE - DBS Bank memperoyeksian The Fed akan menahan suku bunga pada pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) besok.

Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan keputusan The Fed akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi dan kondisi ekonomi Amerika Serikat, yang mana pergerakannya bukan hanya dipicu oleh harga minyak tetapi juga faktor lain yang masih berpotensi menjaga tekanan inflasi tetap tinggi.

"Jadi, pandangan utama kami adalah suku bunga akan berubah tahun ini. Kami tidak memperkirakan ada perubahan pada setiap pertemuan The Fed," ujar Radhika dalam pertemuan media, Rabu (29/7).

Dia menilai arah kebijakan The Fed akan semakin sulit diprediksi karena gubernur baru, Kevin Warsh, diperkirakan semakin jarang memberikan pernyataan. Dengan demikian, ketidakpastian arah kebijakan moneter AS akan semakin tinggi dalam beberapa pertemuan mendatang.

"September, Oktober kita akan sampai pada titik ketika pasar tidak terlalu yakin. Ada kemungkinan perubahan, tetapi bisa juga tidak," katanya.

Di sisi lain, DBS Bank memperkirakan suku bunga acuan Bank Indonesia masih akan naik setidaknya satu kali hingga akhir tahun.

Head of Research DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan, dengan asumsi kenaikan suku bunga tersebut, level Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kini berada di kisaran level 6.000 relatif baik dibandingkan rata-rata 12 bulan terakhir.

Ditambah lagi, kondisi tersebut membuka ruang bagi pemulihan kepercayaan pasar seiring dengan rilis laporan keuangan kuartal II yang masih berlangsung. Selain itu, terdapat potensi rotasi dana asing karena kinerja relatif Indonesia sedikit tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia lainnya.

"Hal tersebut menjadi salah satu alasan utama mengapa Indonesia perlu mengejar ketertinggalan kinerja dibandingkan dengan pasar Asia secara keseluruhan," ujar William.

Share Article
Editorial Team
Ekarina .
EditorEkarina .

Latest in Market

See More