Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kontribusi AUM Reksa Dana ke PDB Masih 4%, APRDI Lakukan Strategi Ini
Acara Road to Pekan Reksa Dana APRDI, Senin (20/4).

Jakarta, FORTUNE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyoroti kontribusi total nilai dana kelolaan (Asset Under Management) reksa dana di Indonesia yang masih kecil terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional.

Kepala Departemen Pengawasan Pengelolaan Investasi dan Pasar Modal Regional OJK, M. Maulana, mengatakan, AUM reksa dana telah mencapai Rp1.084 triliun per akhir Maret 2026, naik Rp3,84 triliun atau 3,97 persen dibanding Desember 2025.

"Kelihatannya besar ya [tumbuhnya]. Tapi ternyata, ini baru 4 persen dibandingkan PDB," kata Maulana dalam acara Sosialisasi dan Edukasi Reksa Dana APRDI di BEI, Jakarta, Senin (20/4).

Jika dibandingkan dengan kontribusi total nilai AUM reksa dana terhadap PDB negara-negara di Asia Tenggara, jumlah itu masih sangat rendah. Ia menyebut, di Thailand, angkanya telah mencapai 30 persen dan Malaysia 36 persen.

"Jadi kan masih banyak ketimpangan ya. Masih banyak yang sebenarnya bisa dikejar," ujar Maulana.

Secara bersamaan, jumlah investor reksa dana telah bertumbuh 8,14 persen menjadi 23,5 juta pada akhir Maret 2026, dibandingkan pada akhir Desember 2025. Di antara jumlah investor itu, 54,24 persen termasuk dalam kategori investor di bawah 30 tahun.

Kelompok investor tersebut dinilai berpotensi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang industri reksa dana dan pengelolaan investasi. Berdasarkan data BPS, populasi Indonesia mencapai 287 juta, dengan 196 juta kelompok produktif (antara 15–64 tahun).

"Artinya kalau dibandingkan tadi yang 23 juta [investor], masih banyak peluangnya. Kami mengejar bahwa kelompok produktif itu menjadi investor. Masih banyak peluangnya," kata Maulana.

Di sisi lain, terdapat tantangan di balik peluang itu. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, tingkat literasi pasar modal Indonesia saat ini memang telah mencapai level 17,78 persen. Namun, tingkat inkusinya baru mencapai 1,34 persen.

"Artinya, semakin banyak masyarakat yang tahu, tapi belum cukup banyak yang memulai," kata Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI, Kristian S. Manullang. "Di sinilah pentingnya peran kita semua untuk melakukan edukasi yang berkelanjutan, khususnya dalam mendorong masyarakat untuk memulai investasi dari instrumen yang sederhana, salah satunya adalah reksa dana."

Untuk itu, OJK, Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal, dan Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) akan menggelar Road to Pekan Reksa Dana 2026. Kegiatan itu sejumlah kota, yaitu Surabaya (7-8 April), Semarang (9-10 April), Medan (14-15 April), Makassar (16-17 April), Jakarta (20 April), Bandung (20-21 April) dan Palembang (23 April). Puncak kegiatan jatuh pada 27 April 2026 di Main Hall BEI, Jakarta.

Sebagai bagian dari kegiatan itu, APRDI melakukan sosialisasi dan edukasi, dengan fokus pada produk reksa dana pasar uang pada kuartal-II dan kuartal-III 2026 dan reksa dana syariah pada kuartal-IV 2026.

"Ini adalah salah satu upaya kita untuk [meningkatkan kontribusi AUM reksa dana terhadap PDB]. Dengan melakukan sosialisasi, edukasi, dan kami harapkan berlanjut ke inklusi, kita mau ada peningkatan," kata Ketua Presidium APRDI Lolita Liliana.

Editorial Team