Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kripto Dihantam Peretasan, Kerugian Tembus Rp11 Triliun
ilustrasi kripto (pexels.com/Worldspectrum)

Jakarta, FORTUNE - Gelombang serangan siber kembali mengguncang industri aset digital. Sepanjang April 2026, nilai kerugian akibat peretasan kripto melonjak tajam, mencerminkan meningkatnya risiko di ekosistem keuangan berbasis blockchain.

Berdasarkan data dari PeckShield yang dikutip dari U.Today, tercatat sedikitnya 40 insiden eksploitasi besar terjadi dalam periode tersebut. Total kerugian mencapai USD 647 juta atau sekitar Rp11,21 triliun (kurs Rp17.334 per dolar AS).

Angka ini melonjak 1.140 persen dibandingkan Maret 2026 yang hanya mencatat kerugian sekitar USD 52,25 juta. Lonjakan tersebut menjadikan April sebagai salah satu periode terburuk dalam sejarah keamanan kripto, bahkan melampaui akumulasi kerugian pada tiga bulan pertama tahun ini.

Sebagian besar kerugian dipicu oleh dua kasus besar, yakni peretasan KelpDAO senilai USD 292 juta dan Drift Protocol sebesar USD 285 juta. Selain itu, platform seperti Rhea Finance dan Grinex juga terdampak, meski dengan nilai kerugian lebih kecil.

Besarnya skala serangan pada KelpDAO dan Drift turut menggeser daftar peretasan terbesar sepanjang masa. KelpDAO kini menempati posisi ketujuh, sementara Drift berada di peringkat kesembilan sejak 2021.

Dampaknya tidak hanya terbatas pada platform yang diretas, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas sektor keuangan terdesentralisasi atau DeFi. Dalam kasus KelpDAO, pelaku dilaporkan memanfaatkan dana hasil curian sebagai jaminan di protokol pinjaman Aave untuk meminjam Ethereum, sebelum mengonversinya ke Bitcoin.

Industri kripto sejatinya telah lama dibayangi serangkaian serangan besar dengan nilai fantastis. Melansir Crystal Intelligence, salah satu yang terbaru terjadi pada 2025 ketika bursa kripto Bybit diretas dengan nilai mencapai sekitar US$1,4–1,5 miliar, menjadikannya pencurian kripto terbesar sepanjang sejarah. Serangan ini diduga melibatkan kebocoran private key pada sistem hot wallet, menunjukkan bahwa bahkan platform besar masih rentan terhadap celah keamanan.

Sebelumnya, pada 2024, platform WazirX dilaporkan kehilangan sekitar US$235 juta setelah sistem multisignature wallet diretas, kembali menegaskan bahwa kompleksitas teknologi tidak selalu berbanding lurus dengan keamanan. Adapun pada 2022, jaringan Ronin Network yang mendukung gim Axie Infinity juga menjadi korban peretasan senilai lebih dari US$600 juta. Aksi ini dilakukan dengan mengambil alih kunci validator, sehingga pelaku dapat memindahkan aset dalam jumlah besar tanpa terdeteksi.

Di tahun 2021, platform DeFi Poly Network mengalami salah satu peretasan terbesar dengan nilai sekitar US$610 juta. Dalam kasus ini, celah pada protokol cross-chain dimanfaatkan untuk menguras dana pengguna, meskipun sebagian besar aset akhirnya dikembalikan oleh pelaku.

Serangan besar lainnya terjadi pada 2018 ketika bursa Jepang Coincheck kehilangan lebih dari US$500 juta akibat peretasan hot wallet. Sementara itu, kasus klasik Mt. Gox pada 2014 yang menghilangkan sekitar 850.000 Bitcoin tetap menjadi salah satu insiden paling bersejarah yang mengguncang kepercayaan pasar.

Rangkaian kejadian ini menegaskan bahwa metode peretasan di industri kripto semakin kompleks dan terstruktur. Situasi tersebut sekaligus menjadi sinyal kuat bagi pelaku industri untuk memperkuat sistem keamanan di tengah pertumbuhan pesat ekosistem digital.

Daftar peretasan kripto terbesar

1. Bybit (2025) – US$1,4 miliar (Ethereum)
Peretasan terbesar dalam sejarah terjadi pada 21 Februari 2025. Bursa berbasis Dubai ini kehilangan 400.000 ETH setelah peretas mengeksploitasi kebocoran private key pada sistem hot wallet.

2. Coincheck (2018) – US$534 juta (NEM)
Peretas mencuri dana melalui serangan phishing yang memungkinkan akses ke hot wallet, lalu menyebarkan malware untuk menguras aset.

3. FTX (2022) – US$477 juta
Setelah kolapsnya FTX, sekitar US$477 juta aset kripto menghilang dalam dugaan peretasan yang kemungkinan melibatkan orang dalam.

4. Mt. Gox (2014) – US$460 juta (Bitcoin)
Salah satu kasus paling legendaris, di mana sekitar 850.000 Bitcoin hilang akibat celah keamanan sistem.

5. DMM Bitcoin (2024) – US$308 juta
Peretasan terhadap bursa Jepang ini diduga melibatkan kelompok Lazarus dari Korea Utara.

6. KuCoin (2020) – US$281 juta
Peretas mencuri private key hot wallet, namun sebagian besar dana berhasil dipulihkan berkat respons cepat.

7. WazirX (2024) – US$230 juta
Bursa terbesar di India kehilangan sekitar 50% asetnya akibat pembobolan wallet utama.

8. BitMart (2021) – US$196 juta
Peretas mencuri private key dan menguras dua hot wallet berisi aset di Ethereum dan Binance Smart Chain.

9. BitGrail (2018) – US$170 juta (Nano)
Peretasan ini memicu sengketa hukum panjang antara pendiri dan pihak lain terkait tanggung jawab keamanan.

10. CoinBene (2019) – US$105 juta
Peretas mencuri aset kripto dalam jumlah besar, sementara bursa sempat mengklaim penutupan hanya untuk maintenance.

Editorial Team