Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan menguat lagi pada perdagangan Rabu (15/7) setelah ditutup naik 1,92 persen kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan hari ini pasar akan mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Investor juga akan merespons pasar terhadap data inflasi AS pada Juni 2026, yang melandai ke 3,5 persen atau lebih rendah dari ekspektasi 3,8 persen.
"Data tersebut meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan Fed sehingga berpotensi mendukung aset berisiko, memperkuat rupiah, dan mendorong aliran dana ke pasar negara berkembang," kata Reza dalam riset hariannya.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak konsolidatif dengan support psikologis di 6.000 dan resisten antara 6.100 dan 6.130. Bertahannya IHSG di atas level 6.000 menjadi sinyal positif melanjutkan momentum penguatan.
Saham-saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah WIFI, SRTG, dan BIPI.
Di sisi lain, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan walaupun ditutup di atas MA20, penguatan IHSG secara teknikal masih menghadapi tantangan berat selanjutnya sejak pola doji star candle terbentuk. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal positif, didukung kenaikan volume.
Dengan demikian, IHSG diperkirakan cenderung positif atau bullish moderat, meskipun masih dibayangi beberapa faktor struktural yang dapat membatasi ruang penguatan IHSG.
"Sektor yang berpotensi menarik ialah sektor-sektor seperti perbankan, konsumsi, petrokimia dan energi, maupun komoditas logam," kata Nafan.
Sentimen positif dari global berasal dari hasil perilisan data inflasi AS (CPI) yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan lebih dovish dengan mempertahankan Fed Rate pada pertemuan berikutnya, sehingga imbal hasil obligasi turun dan aset berisiko kembali diminati.
Dari Timur Tengah, rencana pungutan atas pelayaran melalui Selat Hormuz dibatalkan, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan perdagangan minyak dan kenaikan biaya logistik global sehingga mendukung sentimen positif di pasar saham Wall Street.
Meredanya kekhawatiran geopolitik maupun US CPI cooling down membuat pergerakan rupiah terapresiasi 0,10 persen pada Rp18.091 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sentimen positif dari ranah domestik berasal dari keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada BBB dengan outlook stabil.
Di sisi lain, BEI menambah 37 saham ke dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), setelah BEI merevisi metodologi penentuan HSC dengan memasukan kriteria price impact ratio sebagai metodologi penentuan HSC sehingga total saham yang masuk dalam daftar HSC menjadi 51 emiten.
"Penyempurnaan metodologi HSC ini menunjukkan, BEI berupaya membuat mekanisme identifikasi saham berkonsentrasi tinggi menjadi lebih objektif dan komprehensif, sehingga tidak sekadar melihat angka free float, tetapi juga mempertimbangkan aspek pengawasan, likuiditas, volatilitas, dan profil pemegang saham," kata Nafan.
