Comscore Tracker
MARKET

Hati-hati, Inflasi Pakaian Naik, Harga Baju Bakal Lebih Mahal 2022

Peritel harus menaikkan harga sehingga berimbas ke konsumen.

Hati-hati, Inflasi Pakaian Naik, Harga Baju Bakal Lebih Mahal 2022Seorang Bapak bersama dua anaknya mengunjungi Pusat perbelanjaan metropolitan mall di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/10/2021). ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/hp.

by Luky Maulana Firmansyah

Jakarta, FORTUNE - Industri fesyen global disebut-sebut bersiap menghadapi pemulihan kinerja pada tahun depan. Para peritel mode juga diyakini akan bernafas lega lantaran kendala pasokan dan hambatan permintaan akibat Covid-19 akan mereda. Namun, di saat sama konsumen harus menyesuaikan kantongnya seiring lonjakan barang-barang fesyen, mulai dari topi, tas, hingga sepatu.

Demikian kesimpulan hasil riset dari lembaga McKinsey & Co yang dikutip oleh Fortune.com, Jumat (3/12). Riset ini dilakukan terhadap lebih dari 220 eksekutif dan pakar mode internasional.

Menurut riset tersebut, sebanyak dua per tiga pimpinan perusahaan fesyen, mengatakan mereka akan menyesuaikan harga barang-barang fesyen dengan perkiraan kenaikan rata-rata mencapai 3 persen. Bahkan, sebanyak 15 persen eksekutif mengkhawatirkan bahwa kenaikan harga bisa mencapai lebih dari 10 persen pada tahun depan.  

Alasan harga pakaian naik

Lalu, mengapa para produsen fesyen akan menaikkan harga barangnya pada tahun depan? Menurut riset yang sama, penyesuaian harga tersebut dilakukan terutama akibat gangguan rantai pasok (supply chain). Konsumen pun mau tak mau ikut menanggung perkara tersebut.

Secara mendetail, kenaikan harga (inflasi) dalam barang-barang fesyen disebabkan kombinasi kekurangan bahan, kemacetan transportasi, dan kenaikan biaya pengiriman yang membebani sisi penawaran sekaligus permintaan.

Menurut riset yang sama, krisis penawaran dan permintaan diperkirakan akan terjadi secara merata pada tahun depan. Meski demikian, industri fesyen akan tumbuh sebesar 3 hingga 8 persen pada 2022—melampaui era sebelum pandemi Covid-19 atau 2019.

Industri fesyen terutama akan mengalami pemulihan berarti di Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Sedangkan, di Eropa masih akan terhambat oleh pembatasan kegiatan seiring melonjaknya jumlah kasus Covid-19.

Fesyen berkelanjutan

Di luar soal kenaikan harga, riset yang sama juga menyoroti soal meningkatnya tren permintaan terhadap produk-produk fesyen yang berkelanjutan khususnya yang berkenaan dengan sirkularitas dan produk daur ulang.

Saat ini, menurut data dari Textile Exchange, kurang dari 10 persen pasar tekstil global terdiri dari bahan daur ulang. Produk-produk fesyen berkelanjutan pun diharapkan akan menjadi arus utama (mainstream) pada tahun depan,

Menurut riset McKinsey & Co, sekitar 68 persen eksekutif mode menemukan bahwa ketidakdewasaan solusi teknologi (the immaturity of technological solutions) menghentikan mereka dari peningkatan skala besar pakaian daur ulang. Sedangkan, 60 persen dari eksekutif yang sama mengatakan, mereka akan memperlakukan masalah itu secara mandiri dan berinvestasi dalam teknologi daur ulang untuk pakaian.

Related Articles