Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mengenal Strategi Value Investing dan Contoh Penerapannya
ilustrasi investor (pexels.com/Artem Podrez)

  • Value investing menekankan pembelian saham berkualitas yang dihargai di bawah nilai wajarnya dengan fokus pada analisis fundamental dan pertumbuhan jangka panjang.

  • Strategi ini memiliki kelebihan seperti risiko terukur dan potensi dividen, namun membutuhkan waktu, ketelitian, serta kemampuan membaca laporan keuangan.

  • Indikator utama value investing meliputi P/E Ratio, P/B Ratio, ROE, D/E Ratio, dan arus kas bebas untuk menilai kesehatan finansial serta peluang undervalued.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Strategi value investing merupakan salah satu pendekatan investasi yang berfokus pada pembelian aset atau saham yang diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Strategi ini banyak digunakan oleh investor yang mengutamakan analisis fundamental dan berorientasi pada pertumbuhan nilai investasi dalam jangka panjang.

Dibandingkan mengejar pergerakan harga jangka pendek, strategi value investing menitikberatkan pada kualitas bisnis dan prospek perusahaan. Berikut penjelasan apa itu strategi value investing secara lebih mendalam hingga cara menerapkannya.

Apa itu strategi value investing?

Value investing adalah strategi pembelian saham berkualitas dengan harga pasar di bawah nilai wajarnya. Dalam hal ini, investor fokus mencari saham undervalued atau saham yang memiliki fundamental kuat dan sedang dihargai murah oleh pasar.

Pendekatan value investing menekankan pada kegiatan membangun kekayaan secara bertahap dan berkelanjutan. Fokus utamanya adalah menganalisis fundamental dan menilai prospek bisnis dalam jangka panjang.

Strategi value investing memiliki beberapa prinsip dasar yang sering kali dijadikan bahan pertimbangkan investor, di antaranya:

  • Fokus pada nilai intrinsik, bukan sekadar menebak

  • Menekankan pada perusahaan dengan fundamental kuat

  • Membeli saham dengan margin of safety atau batas aman untuk mengurangi risiko

  • Berinvestasi pada perusahaan dengan bisnis yang dipahami

  • Memerlukan komitmen waktu dan ketekunan dalam jangka panjang.

Kelebihan dan kekurangan value investing

Sebelum menerapkan strategi value investing, pahami terlebih dahulu kelebihan dan kekurangannya agar dapat menyesuaikannya dengan tujuan investasi. Berikut kelebihan dan kekurangan value investing:

Kelebihan value investing

  • Investor tidak perlu berspekulasi mengikuti tren sesaat.

  • Pembelian di harga terjangkau memberikan ruang luas bagi pertumbuhan modal.

  • Mendapatkan dividen sebagai bonus.

  • Risiko relatif lebih terukur karena fokus pada fundamental perusahan yang kuat.

  • Bisa untuk investasi jangka panjang.

  • Cocok untuk investor konservatif yang mengutamakan keamanan.

Kekurangan value investing

  • Pertumbuhan harga saham lebih lambat dibandingkan growth investing.

  • Tidak selalu menghasilkan dividen tinggi

  • Membutuhkan banyak waktu untuk menemukan saham undervalued.

  • Rentan terhadap perubahan fundamental.

  • Membutuhkan keterampilan membaca laporan keuangan yang baik.

Fortune Investment Forum.png


Setelah memahami kelebihan dan kekurangan value investing, ikuti perkembangan ekonomi, tren industri, dan dinamika pasar yang dapat memengaruhi valuasi perusahaan. Wawasan tersebut dapat diperoleh melalui Fortune Investment Forum 2026.

Dapatkan insight langsung dari investor, ekonom, dan pelaku industri terkemuka di Fortune Investment Forum 2026. Pelajari strategi investasi lintas aset, mulai dari saham, obligasi, kripto, hingga private capital untuk membantu mengambil keputusan investasi dengan lebih percaya diri.

Benefit yang didapatkan:

  • Insight dari para investment expert

  • Pembahasan tren ekonomi dan investasi global

  • Networking dengan investor, profesional, dan pelaku industri

  • Akses materi dan rekaman sesi (sesuai jenis tiket)

  • Kesempatan mengikuti sesi tanya jawab eksklusif (VIP).

Daftar sekarang dan dapatkan tiket di sini: Fortune Investment Forum 2026

Indikator yang digunakan dalam value investing

Dalam strategi value investing, terdapat beberapa indikator yang umum digunakan untuk menilai apakah suatu saham diperdagangkan di bawah nilai wajarnya (undervalued) serta memiliki fundamental yang baik.

Berikut indikator yang paling sering digunakan:

  • Price to Earning Ratio (P/E Ratio)

Indikator ini dipakai untuk membandingkan harga saham sekarang dengan laba bersih per lembarnya (earning per share). Saham undervalued umumnya memiliki rasio P/E yang lebih rendah dibandingkan rata-rata rasio P/E saham lain di industri sejenis.

  • Price to Book Ratio (P/B Ratio)

P/B Ratio berfungsi membandingkan harga saham terbaru dengan nilai buku perseroan. Metrik ini banyak dipakai untuk menilai perusahaan di sektor padat karya, seperti manufaktur dan saham. Saham undervalued memiliki nilai P/B kurang dari 1.

  • Return of Equity (ROE)

ROE merupakan indikator yang mengukur efisiensi perusahaan menghasilkan laba bersih dari modal pemegang saham. Tingkat ROE yang tinggi dan konsisten menunjukkan efisiensi manajemen dalam mengelola ekuitas.

  • Debt to Equity Ratio (D/E Ratio)

D/E Ratio menakar proporsi jumlah utang perusahaan terhadap total ekuitasnya. Nilai D/E yang rendah memberikan sinyal bahwa emiten tersebut memiliki struktur modal yang aman dan risiko kebangkrutan yang kecil.

  • Free cash flow

Arus kas mencerminkan kondisi kesehatan finansial yang riil dari sebuah bisnis. Kemampuan perusahaan untuk memproduksi kas bersih yang besar dan bertumbuh konsisten membuktikan bahwa operasional perusahaan sangat solid serta mandiri.

Contoh penerapan value investing

Setelah paham konsepnya, ada beberapa langkah praktis untuk mengenal strategi value investing. Berikut beberapa pendekatan yang dapat diterapkan.

  1. Menganalisis kinerja keuangan dalam periode tertentu

Perusahaan dengan fundamental kuat biasanya memiliki kinerja keuangan yang solid dalam beberapa tahun terakhir. Perusahan dengan kinerja stabil, arus kas positif, dan pertumbuhan laba konsisten mencerminkan saham berkualitas.

  1. Menghitung nilai instrik

Setelah menemukan perusahaan berfundamental kuat, investor dapat menentukan nilai intrinsik dengan berbagai metode perhitungan. Nilai instrik tersebut dapat dibandingkan dengan harga pasar guna mengidentifikasi saham undervalued.

  1. Memperhatikan prospek bisnis dan industri

Investor juga perlu memahami prospek industri hingga kondisi ekonomi makro untuk memastikan potensinya dalam jangka panjang. Pasalnya, saham bisa dihargai murah oleh pasar karena sentimen pasar sementara atau memang industrinya sedang mengalami tren penurunan secara permanen.

  1. Investasi jangka panjang

Investor dapat mengambil keputusan apabila saham ditemukan undervalued dengan margin of safety yang memadai. investasi dapat dilakukan dengan fokus dalam jangka panjang.

Investor terkenal yang menggunakan strategi value investing

Value investing telah membawa kesuksesan bagi banyak investor. Sejumlah investor ternama mengadopsi pendekatan ini dalam membangun portofolio investasi, di antaranya:

  • Benjamin Graham

Graham dikenal sebagai “Bapak Value Investing”. Ia mempopulerkan pentingnya membeli aset di bawah nilai intrinsiknya dan konsep margin keamanan (margin of safety) melalui buku The Intelligent Investor.

  • Charlie Munger

Nama Charlie Munger merupakan sosok penting dalam perkembangan konsep investasi nilai. Fokus utamanya adalah analisis fundamental mendalam, ketekunan, dan pentingnya mempertahankan investasi dalam jangka panjang.

  • Warren Buffett

Investor ternama yang kerap muncul dalam daftar orang terkaya dunia ini ternyata menggunakan value investing dalam berinvestasi. Sebagai murid langsung Graham, Buffett berhasil menyempurnakan pendekatan milik gurunya.

  • Lo Kheng Hong

Di Indonesia, Lo Kheng Hong dikenal sebagai praktisi strategi value investing. Ia selalu berupaya membeli saham dari perusahaan dengan fundamental baik yang harganya sedang murah (undervalued) untuk disimpan dalam jangka panjang.

Dengan mengenal strategi value investing, investor dapat membangun portofolio yang lebih terukur dan berorientasi pada pertumbuhan nilai dalam jangka panjang.

FAQ seputar mengenal strategi value investing

Apa yang dimaksud dengan value investing?

Value investing adalah strategi membeli saham perusahaan berfundamental baik yang harganya sedang lebih rendah dari nilai intrinsiknya.

Beda value investing dan growth investing?

Value investing adalah investasi yang menekankan pada nilai, sedangkan growth investing fokus pada potensi pertumbuhan dana.

Siapa tokoh value investing yang terkenal?

Tokoh value investing paling terkenal di dunia adalah Benjamin Graham dan Warren Buffet. Di Indonesia, ada Lo Kheng Hong.

Editorial Team

Related Article