Jakarta, FORTUNE – Perusahaan publik yang menjadikan Bitcoin sebagai aset utama menghadapi risiko perubahan kelayakan saham dalam indeks global. Pengetatan kriteria oleh penyedia indeks MSCI berpotensi memengaruhi Strategy dan sejumlah emiten yang menjalankan strategi treasury Bitcoin.
Mengutip CoinMarketCap, peninjauan MSCI menyoroti perusahaan yang aktivitas bisnisnya lebih bertumpu pada akumulasi Bitcoin dibandingkan operasional usaha konvensional. Kebijakan ini menjadi perhatian karena dapat mengubah cara investor institusi mengakses saham perusahaan dengan kepemilikan aset kripto dalam jumlah besar.
Reuters melaporkan, perubahan aturan MSCI berpotensi mengecualikan perusahaan yang dinilai lebih menyerupai instrumen investasi daripada bisnis operasional dari indeks saham globalnya. Strategy menjadi salah satu emiten yang berisiko terdampak. Jika saham perusahaan tersebut dikeluarkan dari indeks, dana pasif diperkirakan dapat melepas kepemilikan saham senilai sekitar US$2,8 miliar.
Strategy, yang sebelumnya bernama MicroStrategy, menjadi sorotan karena secara konsisten menambah kepemilikan Bitcoin. Strategi tersebut membuat pergerakan harga sahamnya berkaitan erat dengan fluktuasi aset kripto tersebut.
Dominasi Bitcoin dalam aset perusahaan turut memunculkan pertanyaan mengenai klasifikasi bisnis dan kelayakan sahamnya sebagai konstituen indeks MSCI. Risiko serupa juga membayangi emiten berukuran lebih kecil yang telah mengumumkan rencana menjadikan Bitcoin sebagai aset treasury utama.
Perusahaan-perusahaan itu berada di antara dua kategori, yakni saham perusahaan dengan kegiatan operasional dan instrumen investasi yang memberikan eksposur terhadap Bitcoin. Dalam kondisi tertentu, karakteristik sahamnya bahkan dapat menyerupai instrumen ber-leverage karena pergerakannya sangat dipengaruhi perubahan harga aset kripto.
Alpha Modus menjadi salah satu gambaran volatilitas yang dapat muncul dari strategi tersebut. Harga saham perusahaan itu dilaporkan merosot 29% setelah pengumuman rencana pembentukan treasury Bitcoin senilai US$200 juta.
Keanggotaan dalam indeks MSCI memiliki arti penting bagi pergerakan saham. Perusahaan yang masuk ke dalam indeks berpeluang memperoleh permintaan dari reksa dana indeks, exchange-traded fund (ETF), dan portofolio institusi yang mengikuti komposisi indeks tersebut.
Sebaliknya, penghapusan dari indeks utama berpotensi mengurangi permintaan investor pasif yang membeli saham berdasarkan komposisi indeks, bukan melalui pemilihan saham secara aktif. Dampaknya dapat dirasakan oleh emiten berkapitalisasi menengah maupun kecil, terutama jika sebagian kepemilikan sahamnya berasal dari dana yang mengikuti indeks.
Dalam menentukan kelayakan saham, MSCI mempertimbangkan sejumlah indikator, antara lain klasifikasi kegiatan usaha, kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan porsi saham publik, likuiditas, serta konsentrasi eksposur ekonomi perusahaan.
Strategy menentang rencana pengecualian perusahaan treasury Bitcoin dari indeks MSCI. Perusahaan tersebut memperingatkan bahwa perubahan ketentuan terhadap emiten yang telah menjadi anggota indeks dapat menimbulkan persoalan mengenai konsistensi metodologi dan penerapan aturan secara retroaktif.
Sementara itu, pihak yang mendukung strategi treasury Bitcoin berpendapat bahwa kepemilikan aset kripto seharusnya dipandang sebagai bagian dari keputusan pengelolaan aset, bukan sebagai satu-satunya dasar untuk mengklasifikasikan bisnis. Menurut pandangan ini, perusahaan yang menyimpan Bitcoin tidak berbeda secara mendasar dari perusahaan yang mengalokasikan asetnya ke kas, properti, atau cadangan komoditas.
Perubahan kriteria MSCI pun menjadi perhatian bagi perusahaan yang menjadikan Bitcoin sebagai bagian utama dari strategi keuangannya. Keputusan mengenai kelayakan saham mereka dalam indeks dapat memengaruhi arus investasi pasif sekaligus menentukan bagaimana pasar menilai model bisnis treasury Bitcoin di tengah perkembangan industri aset kripto.
