Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
ilustrasi kripto
ilustrasi kripto (unsplash.com/Traxer)

Jakarta, FORTUNE - Pasar aset kripto diproyeksikan memasuki fase ekspansi baru pada 2026, sejalan dengan peluang pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Managing Director Clear Street, Owen Lau, menilai arah suku bunga The Fed akan menjadi penentu utama pergerakan kripto dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, penurunan suku bunga berpotensi mengalihkan arus dana ke aset berisiko, termasuk kripto.

“Laju pemangkasan suku bunga The Federal Reserve Amerika Serikat akan menjadi katalis utama bagi pasar kripto pada 2026, yang dapat mendorong investor ritel dan institusi masuk ke pasar jika suku bunga terus turun,” ujar Owen Lau mengutip Coinmarketcap.

Sejumlah pengamat kripto juga melihat ekspektasi penurunan suku bunga, ditopang masuknya dana dari produk Exchange-Traded Fund (ETF) kripto, sebagai sumber optimisme pasar.

Dengan meningkatnya partisipasi investor institusional, sebagian analis memprediksi pola siklus Bitcoin berpotensi berubah, dari siklus empat tahunan menjadi lebih singkat, sekitar dua tahun. Kendati demikian, kepastian regulasi dan dinamika permintaan tetap dinilai krusial dalam menentukan arah pasar.

Di tengah prospek pemangkasan suku bunga dan derasnya aliran dana ETF, harga Bitcoin diperkirakan berpeluang menorehkan rekor baru. Bahkan, dalam skenario pasar yang kondusif, nilainya disebut-sebut dapat menembus US$200.000. Meski prospeknya cerah, kehati-hatian masih mewarnai sentimen. Pengalaman sebelumnya menunjukkan volatilitas tetap menjadi ciri khas kripto.

Pada 2025, penyesuaian suku bunga The Fed sempat mengangkat Bitcoin ke kisaran puncak US$125.000, sebelum terkoreksi tajam akibat gelombang likuidasi besar. Pola tersebut menjadi pengingat bahwa optimisme perlu diimbangi pengelolaan risiko yang disiplin.

Dalam proyeksi 2026, BlackRock memposisikan aset digital, khususnya stablecoin, sebagai infrastruktur keuangan untuk pembayaran, penyelesaian transaksi, dan likuiditas, bukan semata instrumen spekulatif. Perusahaan ini menyoroti peran token yang dipatok ke dolar yang semakin matang dalam transfer lintas negara dan arus kas korporasi. Mengutip Coinspeaker, BlackRock meneropong bahwa pertumbuhan kripto yang paling berkelanjutan kini justru terjadi di balik layar, pada jalur yang terintegrasi dengan sistem keuangan tradisional.

“Stablecoin bukan lagi produk ceruk, mereka sedang menjadi jembatan antara keuangan tradisional dan likuiditas digital,” ujar Samara Cohen, Global Head of Market Development BlackRock.

Dalam laporan berjudul “26 Crypto, Bitcoin, DeFi, and AI Predictions for 2026”, Galaxy menekankan penggunaan kripto di dunia nyata. Stablecoin diperkirakan akan memproses volume transaksi yang melampaui sistem ACH Amerika Serikat dan menjadi tulang punggung infrastruktur pembayaran. Aset yang ditokenisasi diprediksi masuk ke arus utama sebagai agunan dan instrumen pasar modal. Blockchain publik juga disebut akan mengevaluasi ulang cara menangkap nilai, dengan setidaknya satu jaringan layer-1 kemungkinan mengadopsi aplikasi penghasil pendapatan untuk menopang token aslinya. Sementara itu, Galaxy menilai harga Bitcoin sulit diprediksi dalam jangka pendek, tetapi tetap mempertahankan target US$250.000 pada akhir 2027.

Sementara itu, Grayscale memprediksi Bitcoin akan mencetak rekor tertinggi baru pada paruh pertama 2026. Grup investasi milik DCG ini menilai harga Bitcoin akan didorong oleh kebijakan AS yang lebih jelas, meningkatnya permintaan institusional, serta berkurangnya dominasi siklus empat tahunan halving seiring faktor likuiditas makro dan regulasi mengambil peran utama. Perusahaan ini memperkirakan akan terjadi “kenaikan valuasi pada 2026”, dengan semakin banyak institusi memperlakukan BTC sebagai aset yang layak dialokasikan dalam portofolio.

Para pakar menekankan pentingnya kepastian regulasi dan likuiditas yang sehat untuk menopang pertumbuhan jangka panjang. ETF dinilai berperan strategis dalam membentuk tren pasar ke depan, terutama untuk menarik investor institusional yang mengutamakan transparansi dan kepastian hukum. Dengan lanskap yang terus berubah, investor diimbau bersikap adaptif dan cermat dalam menimbang peluang serta risiko pada 2026.

Editorial Team