Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

Pasar Tunggu Rilis Data PMI-Inflasi, IHSG Diprediksi Koreksi Lagi

Pasar Tunggu Rilis Data PMI-Inflasi, IHSG Diprediksi Koreksi Lagi
Layar yang menunjukkan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Intinya Sih
  • IHSG diperkirakan lanjut melemah setelah turun 3,05 persen ke level 5.643,10, dengan tren bearish dan tekanan jual masih dominan menurut analis BRI Danareksa Sekuritas.
  • Pasar menanti rilis data PMI, inflasi, dan neraca perdagangan Indonesia serta data ketenagakerjaan AS yang bisa memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed.
  • Rupiah terdepresiasi ke Rp17.907 per dolar AS menambah beban pasar ekuitas, sementara arus dana asing masih keluar hingga Rp86,81 triliun sepanjang semester I-2026.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan kembali melemah pada Rabu (1/7), setelah ditutup turun 3,05 persen ke level 5.643,10 kemarin.

Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, seccara teknikal, IHSG masih berada dalam tren bearish dan diproyeksi kembali tertekan dengan support 5.560 dan resisten di 5.735.

"Selama belum mampu kembali ke atas area resisten, tekanan jual diperkirakan masih akan mendominasi," kata Reza dalam riset hariannya.

Pasar hari ini akan mencermati rilis S&P Global Manufacturing PMI Indonesia, inflasi, dan neraca perdagangan. Itu akan menjadi indikator kondisi ekonomi domestik.

Dari eksternal, perhatian pasar juga akan tertuju pada data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS), yang berpotensi memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed.

Daftar saham pilihan tim BRIDS hari ini adalah HMSP, ARTO, dan CPIN.

Sementara itu, Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, M. Nafan Aji Gusta mengatakan, secara teknikal, pergerakan IHSG telah menolak pembentukkan indeks harga tertinggi sejak wave (b) maupun wave (b) alt terlihat. Berdasarkan indikator, Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif, namun volume mulai mengalami kenaikan.

"Setelah IHSG mengalami penurunan tajam, peluang technical rebound sebenarnya masih relatif terbuka. Namun demikian, selama belum terdapat katalis fundamental yang kuat, penguatan diperkirakan masih bersifat terbatas dan rentan dimanfaatkan sebagai momentum profit taking," kata Nafan.

Di luar data ekonomi yang dinanti, ada pula sentimen kurs. Nilai tukar rupiah yang terdepresiasi 0,31 persen dan berada pada level psikologis baru Rp17.907 per dolar AS menjadi beban berat bagi pasar ekuitas, memicu kekhawatiran atas meningkatnya beban operasional emiten yang bergantung pada bahan baku impor.

Dari global, isu MSCI masih menjadi overhang. Meskipun tidak selalu menjadi pemicu utama pergerakan harian, catatan MSCI mengenai aksesibilitas pasar, likuiditas, dan reformasi pasar modal masih memengaruhi persepsi investor institusi global sehingga arus dana asing belum kembali secara konsisten.

Secara akumulatif net foreign sell sepanjang semester I-2026 sudah terbilang masif di kisaran Rp86,81 triliun secara year to date. Adapun pengurangan bobot portofolio Indonesia global fund masih membayangi pergerakan big caps. Para pelaku investor juga mencermati Fed Chair Warsh Speech serta perilisan data US nonfarm payroll yang menjadi acuan ekspektasi arah kebijakan suku bunga The Fed kedepan.

Di sisi lain, ketidakpastian di kawasan Timur Tengah terkait dinamika Selat Hormuz masih memicu kehati-hatian.

Saham-saham yang disoroti oleh Nafan hari ini adalah CPIN, EXCL, dan PGEO.

Share Article
Topics
Editorial Team
Pingit Aria
EditorPingit Aria

Related Articles

See More