Jakarta, FORTUNE – Dana kelolaan produk investasi berbasis Bitcoin atau exchange-traded fund (ETF) spot di Amerika Serikat (AS) mengalami penarikan bersih sebesar US$643,3 juta atau sekitar Rp11,67 triliun pada Jumat (30/10). Nilai tersebut menjadi arus keluar harian terbesar sejak 25 Juni 2026, berdasarkan data SoSoValue.
Penarikan dana dalam jumlah besar itu terjadi sehari setelah Binance mengalami peretasan yang menyebabkan hilangnya aset kripto senilai US$6,3 miliar. Insiden tersebut turut memicu kekhawatiran investor terhadap keamanan dan stabilitas pasar aset digital.
Melansir The Block, ETF Ethereum spot juga mengalami arus keluar bersih sebesar US$155,9 juta atau sekitar Rp2,82 triliun pada hari yang sama. Angka tersebut menjadi penarikan harian terbesar sejak 7 Oktober 2026.
Secara mingguan, ETF Bitcoin mencatatkan arus keluar bersih US$202,6 juta hingga periode perdagangan yang berakhir pada 30 Oktober. Sementara itu, ETF Ethereum kehilangan dana sebesar US$431,5 juta dalam rentang waktu yang sama.
Laporan CoinDesk pada 2 November 2026 turut mencatat penarikan ETF Bitcoin sebesar US$643,3 juta pada Jumat tersebut. Arus keluar itu menghapus sekitar 63,6 persen dari total dana bersih yang sebelumnya masuk ke produk ETF Bitcoin sepanjang tahun berjalan. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya tekanan penarikan dana pada akhir Oktober.
Chief Analyst ViaBTC, Jeff Ko, menilai derasnya penarikan dana dari ETF Bitcoin lebih mencerminkan guncangan sentimen investor akibat insiden peretasan daripada hilangnya kepercayaan terhadap produk investasi tersebut.
"Pemegang ETF spot tidak punya eksposur langsung ke Binance, karena bitcoin yang mendasarinya disimpan pada kustodian teregulasi,” kata Jeff Ko.
Pandangan serupa disampaikan Head of Markets Laevitas, Rick Maeda. Ia membandingkan nilai penarikan pada Jumat dengan total aset bersih ETF Bitcoin yang mencapai US$98,14 miliar. Dengan perbandingan tersebut, arus keluar dana tercatat kurang dari 1 persen dari keseluruhan aset bersih.
“Ini sekadar hari pengurangan risiko, bukan capitulation maupun hilangnya kepercayaan institusi,” ujar Maeda.
Tekanan terhadap ETF kripto muncul setelah peretas yang diidentifikasi FBI sebagai kelompok kejahatan siber asal Korea Utara menguras sekitar US$6,3 miliar atau Rp114,31 triliun dari hot wallet Binance pada Kamis (29/10). Insiden tersebut disebut sebagai peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto.
Dampaknya berlanjut ketika Binance kembali membuka layanan penarikan pada Minggu (1/11). Dalam sembilan setengah jam pertama setelah layanan tersebut dipulihkan, bursa kripto terbesar di dunia itu mencatat arus keluar bersih sekitar US$3,64 miliar.
Meski demikian, pergerakan harga aset kripto utama mulai menunjukkan penguatan. Berdasarkan data harga The Block, Bitcoin naik 1 persen dalam 24 jam menjadi US$78.491 per pukul 23.20 ET pada Minggu. Ethereum juga menguat 1,3 persen ke level US$2.296.
Di sisi lain, indeks Crypto Fear and Greed berada pada level 37, yang masih menunjukkan kondisi ketakutan di kalangan pelaku pasar.
Analis memperkirakan investor masih akan bersikap hati-hati dalam waktu dekat. Maeda menggunakan peristiwa peretasan Bybit pada kuartal I-2025 sebagai pembanding untuk melihat kemungkinan respons pasar terhadap insiden keamanan berskala besar.
"Saya memperkirakan stabilisasi atau arus keluar moderat dalam waktu dekat, bukan pembalikan tajam, selama peretasan ini bisa dikendalikan,” ujar dia.
Sementara itu, Analis Zeus Research, Dominick John, menilai pemulihan arus masuk dana ke ETF kripto akan bergantung pada sejumlah faktor. Di antaranya stabilitas pasar, membaiknya likuiditas, serta pulihnya keyakinan investor terhadap aset digital.
Selain perkembangan kasus peretasan, pelaku pasar juga mulai mencermati agenda politik di Amerika Serikat, khususnya pemilihan umum paruh waktu atau midterm election. Hasil pemilu tersebut berpotensi memengaruhi keseimbangan kekuasaan di Kongres dan arah pembahasan regulasi industri kripto.
"Bitcoin menyerap peretasan ini dengan cukup tangguh,” ujar Ko.
“Perhatian kini beralih ke pemilu paruh waktu, ketika keseimbangan kekuasaan di Kongres bisa berdampak besar pada nasib legislasi struktur pasar kripto,” kata Ko, menambahkan.
Maeda menambahkan, perkembangan terbaru terkait peretasan Binance dan publikasi data ekonomi makro AS akan menjadi faktor yang turut memengaruhi pergerakan pasar aset kripto ke depan.