Penurunan IHSG semakin dalam karena tekanan jual pada sejumlah saham dengan kapitalisasi besar. Saham perbankan dan beberapa emiten sektor lain menjadi pemberat indeks.
Selain BBCA, BBRI, dan BMRI, beberapa saham seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Sinarmas Multiartha Tbk (SMMA) juga tercatat memberikan tekanan terhadap IHSG.
Total transaksi di seluruh pasar mencapai Rp15,16 triliun dengan volume perdagangan sekitar 26,94 miliar saham. Seluruh indeks sektoral berada di zona merah, dengan pelemahan terbesar terjadi pada sektor barang baku yang turun 6,64 persen.
Dalam kondisi tersebut, Rully Arya Wisnubroto selaku Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyarankan investor institusi untuk melakukan penyesuaian portofolio secara selektif.
“Kami menyarankan investor institusi menghindari panic selling, melakukan reposisi portofolio secara lebih selektif dan disiplin terhadap risiko, serta menerapkan tactical allocation antara ekuitas dan fixed income/cash,” tutur Rully.
Pergerakan IHSG selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan reformasi pasar modal Indonesia, keputusan MSCI pada November 2026, serta sentimen global seperti arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Apakah Indonesia turun menjadi frontier market? | Tidak, MSCI masih mempertahankan Indonesia sebagai emerging market. |
Apa isu yang diperhatikan MSCI? | MSCI menyoroti transparansi kepemilikan, free float, dan dugaan coordinated trading. |
Saham apa yang menekan IHSG saat turun? | Saham perbankan besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI menjadi pemberat indeks. |