Jakarta, FORTUNE - Menyusul pergantian kursi kepemimpian Kementerian Keuangan (Kemenkeu), analis memproyeksikan sektor rokok berpotensi cenderung mengalami tekanan. Mengapa demikian?
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia (MASI), Rully Arya Wisnubroto, mengatakan, terjadi aksi jual besar-besaran terhadap saham emiten rokok di tengah kabar digantinya Purbaya Yudhi Sadewa menjadi Suahasil Nazara. Pada akhir perdagangan Selasa (15/9), saham HMSP, GGRM, dan WIIM masih ditutup melemah masing-masing -8,33 persen; -5,92 persen; dan -2,87 persen.
"Beberapa waktu lalu Purbaya sempat menyebutkan, kemungkinan tidak akan menaikkan cukai. Tapi penetapan cukai rokok itu sendiri biasanya, menurut analis consumer kami, itu pada Oktober," kata Rully di acara Media Day MASI September 2026.
Di sisi lain, Suhasil dinilai memiliki pendekatan kebijakan yang cenderung mirip dengan Sri Mulyani. Rully menyebut, terdapat potensi ia akan mengambil tindakan berbeda terkait cukai rokok jika dibandingkan dengan Purbaya, yang dinilai lebih pro terhadap sektor tersebut.
"Mungkin agak lebih keras terhadap hal-hal yang berdampak negatif terhadap kesehatan dari masyarakat di Indonesia. Ini kemungkinan ada dampak negatif dari perubahan ini [jika terjadi]," kata Rully. "Memang ada perbedaan paham, pandangan antara kedua kubu tersebut istilahnya."
Dalam perspektif lebih luas, pasar pun masih akan mencermati perkembangan dari tansisi kepemimpinan di Kemenkeu. Khususnya terkait arah kebijakan fiskal dan kredibilitas pengelolaan APBN.
Menurut Rully, tantangan utama bukan hanya pada sosok Menteri Keuangan, melainkan pada konsistensi kebijakan dan dukungan pemerintah terhadap disiplin fiskal dalam jangka panjang. Kredibilitas fiskal dan komunikasi kebijakan menjadi faktor penting bagi sentimen ke depan.
Di sisi global, Rully memperkirakan Federal Reserve akan menaikkan suku bunga 25 basis poin pada September, yang relatif sudah diperhitungkan pasar. Setelahnya, pergerakan rupiah menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia.
"Kenaikan 25 basis poin dari The Fed relatif sudah priced in. Bagi Indonesia, perhatian berikutnya akan tertuju pada pergerakan rupiah karena menjadi salah satu faktor utama yang menentukan ruang dan respons kebijakan Bank Indonesia," kata Rully.
Di pasar saham, IHSG telah mengalami re-rating sekitar 18 persen sejak awal paruh kedua 2026. Rully menilai, kenaikan berikutnya membutuhkan dukungan earnings delivery, foreign flows yang lebih luas, serta kondisi eksternal yang lebih berkelanjutan. Saat ini, arus dana asing masih terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan dan sejumlah saham komoditas.
"Setelah re-rating yang cukup cepat, investor tidak bisa hanya mengandalkan kenaikan indeks. Next leg dari pasar akan membutuhkan earnings delivery dan foreign flows yang lebih luas. Karena itu, pasar akan semakin selektif," ujar Rully.
Sementara itu, penguatan rupiah masih ditopang kondisi eksternal yang lebih kondusif dan capital inflows, meski ketahanannya tetap bergantung pada arus dana. Di pasar SBN, koordinasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga kenaikan yield tetap gradual. Perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating menjadi risiko yang perlu dicermati karena dapat memicu repricing yang lebih tajam.
"Yang perlu diwaspadai adalah apabila terjadi perubahan persepsi terhadap kredibilitas kebijakan atau rating, karena itu bisa menghasilkan repricing yang lebih tajam," kata Rully.
Selektivitas juga tercermin dari arus dana asing yang masih terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama perbankan dan sejumlah saham komoditas. Sementara itu, penguatan rupiah masih didukung oleh kondisi eksternal yang lebih kondusif dan capital inflows, meski ketahanannya masih bergantung pada arus dana. Di pasar SBN, koordinasi kebijakan menjadi penting untuk menjaga kenaikan yield tetap bertahap.
