Jakarta, FORTUNE — Memasuki tahun 2026, pemerintah terus menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah dinamika global, salah satunya melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN).
Di awal tahun, pergerakan yield SBN dan aliran modal asing menjadi indikator penting yang diperhatikan investor, seiring tren suku bunga global dan nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) dalam rilis resminya menyampaikan bahwa pada akhir perdagangan 31 Desember 2025, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 6,05 persen, sementara rupiah ditutup di Rp16.670 per dolar AS.
Pada pembukaan 2 Januari 2026, yield SBN 10 tahun relatif stabil di 6,04 persen, mencerminkan kondisi pasar obligasi yang tetap terjaga di awal tahun berjalan.
