Singapore, FORTUNE — Di tengah gejolak pasar saham, banyak investor Indonesia memilih menunggu di pinggir lapangan. Penyebabnya, ketidakpastian global, keluarnya dana asing, hingga kekhawatiran atas status Indonesia yang masuk dalam watchlist sejumlah penyedia indeks global.
Namun, Sean Freer, Director of Global Exchange Indices at S&P Dow Jones Indices, justru melihat situasi itu dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, pelemahan pasar tidak selalu identik dengan memburuknya fundamental. Dalam banyak kasus, harga saham yang turun justru dapat membuka peluang bagi investor jangka panjang.
"Jika Anda mulai berinvestasi setelah pasar turun cukup dalam, maka valuasinya menjadi jauh lebih murah. Dan jika Anda tetap memegang investasi tersebut, selalu ada peluang pasar akan berbalik dan sentimen menjadi positif lagi," ujarnya kepada Fortune Indonesia di Singapura, Senin (20/7).
Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi fundamental Indonesia yang relatif tetap terjaga. Meski pasar saham melemah sepanjang semester pertama, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings masih mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, mencerminkan keyakinan terhadap stabilitas ekonomi dan fiskal Indonesia.
