Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Perlu Terlalu Aktif, S&P DJI Jelaskan "Less Is More" di Pasar Saham
Daftar pembicara Fortune Investment Forum 2026
  • Sean Freer dari S&P Dow Jones Indices menilai pelemahan pasar saham Indonesia bisa menjadi peluang bagi investor jangka panjang karena valuasi kini lebih menarik.

  • Tren passive investing melalui ETF terus meningkat secara global, termasuk di Asia, karena biaya rendah dan kinerja yang imbal hasil cenderung mengungguli reksa dana aktif menurut laporan SPIVA.

  • Filosofi 'less is more' ditekankan Sean sebagai strategi efektif; investor disarankan tidak terlalu sering bertransaksi dan tetap disiplin berinvestasi dengan pendekatan diversifikasi serta dollar cost averaging.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Singapore, FORTUNE — Di tengah gejolak pasar saham, banyak investor Indonesia memilih menunggu di pinggir lapangan. Penyebabnya, ketidakpastian global, keluarnya dana asing, hingga kekhawatiran atas status Indonesia yang masuk dalam watchlist sejumlah penyedia indeks global.

Namun, Sean Freer, Director of Global Exchange Indices at S&P Dow Jones Indices, justru melihat situasi itu dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, pelemahan pasar tidak selalu identik dengan memburuknya fundamental. Dalam banyak kasus, harga saham yang turun justru dapat membuka peluang bagi investor jangka panjang.

"Jika Anda mulai berinvestasi setelah pasar turun cukup dalam, maka valuasinya menjadi jauh lebih murah. Dan jika Anda tetap memegang investasi tersebut, selalu ada peluang pasar akan berbalik dan sentimen menjadi positif lagi," ujarnya kepada Fortune Indonesia di Singapura, Senin (20/7).

Pandangan tersebut sejalan dengan kondisi fundamental Indonesia yang relatif tetap terjaga. Meski pasar saham melemah sepanjang semester pertama, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings masih mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan prospek stabil, mencerminkan keyakinan terhadap stabilitas ekonomi dan fiskal Indonesia.

Valuasi lebih menarik

Menurut Sean, selama sekitar satu dekade terakhir pasar negara maju menikmati kinerja yang jauh lebih baik dibandingkan pasar negara berkembang. Fenomena itu terutama didorong reli saham-saham teknologi Amerika Serikat, termasuk kelompok Magnificent Seven.

Namun dalam enam bulan terakhir, tren tersebut mulai berubah. "Dalam enam bulan terakhir terjadi sedikit pembalikan, dan pasar negara berkembang justru mulai mengungguli pasar negara maju," katanya.

Ia menilai saham-saham Indonesia kini dapat membuka peluang kenaikan (upside) sekaligus memberikan opsi bagi strategi diversifikasi bagi investor global.

Meski demikian, Sean mengingatkan bahwa Indonesia saat ini memang masih berada dalam proses evaluasi oleh sejumlah penyedia indeks global. Menurutnya, status tersebut bukan berarti Indonesia akan otomatis kehilangan status sebagai pasar berkembang, melainkan sebagai sinyal bagi regulator dan bursa untuk memperbaiki transparansi serta berbagai aspek operasional pasar modal.

Fortune Investment Forum

Tren passive investing

Selain pergeseran arus investasi global, Sean melihat perubahan besar lain yang tengah terjadi di industri keuangan, yakni meningkatnya popularitas passive investing melalui Exchange Traded Fund (ETF).

Di Amerika Serikat, jumlah ETF bahkan kini telah melampaui jumlah saham individual yang tercatat di bursa. Tren serupa juga terlihat di Asia. Korea Selatan dan Taiwan masing-masing memiliki lebih dari 1.000 ETF, Australia sekitar 500 ETF, sementara Indonesia baru memiliki sekitar 50 ETF dan terus bertambah. "Saya memperkirakan tren ini akan terus berlanjut," katanya.

Popularitas passive investing tidak muncul tanpa alasan. Strategi ini bertujuan mengikuti kinerja suatu indeks, bukan mencoba mengalahkannya seperti yang dilakukan manajer investasi aktif.

Sean mengutip hasil riset rutin SPIVA (S&P Indices Versus Active) yang diterbitkan S&P Dow Jones Indices setiap enam bulan. Laporan tersebut secara konsisten menunjukkan sebagian besar reksa dana aktif gagal mengalahkan indeks acuannya dalam jangka panjang.

"Laporan SPIVA dengan jelas menunjukkan bahwa reksa dana aktif cenderung berkinerja di bawah benchmark dalam jangka panjang, bahkan pada banyak periode jangka pendek sekalipun," ujarnya.

Karena itu, menurut Sean, strategi pasif menawarkan dua keuntungan sekaligus: biaya yang lebih rendah dan potensi hasil investasi yang lebih baik.

"Less is more"

Fenomena berkembangnya passive investing juga melahirkan sebuah filosofi yang semakin populer: less is more.

Sean percaya, terlalu sering melakukan transaksi justru dapat merugikan investor itu sendiri. "Kadang-kadang lebih sedikit bertransaksi justru lebih baik bagi portofolio Anda. Jika Anda terus-menerus bertransaksi, Anda menciptakan lebih banyak friksi berupa biaya transaksi dan spread," katanya.

Ia menambahkan bahwa membeli indeks yang terdiversifikasi secara luas di berbagai negara terbukti mampu mengungguli banyak strategi investasi aktif. "Dalam konteks itu, ya, less is more bagi investor."

Pendekatan tersebut dinilai sangat relevan bagi investor ritel yang memiliki kesibukan bekerja, menjalankan bisnis, atau mengurus keluarga.

"Anda tidak perlu menganalisis setiap berita pasar. Yang penting adalah memiliki wawasan luas yang sesuai dengan tjuan investasi Anda, baik ke saham domestik, regional maupun global," ujarnya.

Di era media sosial, kemampuan memilih saham yang mampu naik berkali-kali lipat sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan investor. Sean menilai anggapan tersebut terlalu dibesar-besarkan.

"Akan sangat menyenangkan jika kita semua bisa memilih saham yang menjadi pemenang dan melipatgandakan portofolio. Kedengarannya mudah ketika diucapkan, tetapi dalam praktiknya tidak semudah itu," katanya.

Menurutnya, bahkan pada indeks sebesar S&P 500 sekalipun, hanya sebagian kecil saham yang menjadi penyumbang utama kenaikan indeks dalam jangka panjang. Akibatnya, peluang memilih saham-saham tersebut sejak awal sangat kecil.

"Bahkan para profesional investasi pun tidak mampu secara konsisten memilih saham individual yang bisa mengungguli benchmark pasar secara luas," ujarnya.

Sean Freer, Director of Global Exchange Indices at S&P Dow Jones Indices

Jangan Terburu-buru

Volatilitas, menurut Sean, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari investasi saham. Perang di Timur Tengah, perubahan kebijakan moneter, hingga berbagai dinamika geopolitik akan terus memengaruhi pergerakan pasar.

Alih-alih mencoba menebak kapan pasar mencapai titik terendah atau tertinggi, ia menyarankan investor tetap disiplin berinvestasi secara berkala melalui strategi dollar cost averaging.

Ia menambahkan bahwa jika pelemahan pasar lebih banyak dipicu sentimen dibandingkan penurunan fundamental perusahaan, justru terdapat peluang bagi investor jangka panjang.

"Jika pasar turun semata karena sentimen, sementara fundamental perusahaan seperti laba dan penjualan masih baik, maka para investor yang masuk atau mempertebal posisi di market bisa memperoleh [saham] dengan valuasi yang jauh lebih murah dibandingkan enam bulan lalu," ujar Sean.

Bagi Sean, optimisme memang penting, tetapi harus disertai disiplin. Investor tidak perlu bereaksi terhadap setiap gejolak pasar. Sebab dalam investasi, sering kali keputusan terbaik adalah mengetahui kapan harus tetap tenang dan membiarkan waktu bekerja.

Ingin tahu lebih banyak? Sean Freer akan menjadi pembicara Fortune Investment Forum 2026 pada 29 Agustus 2026. Dapatkan tiketnya melalui tautan berikut: https://bit.ly/event-fif-2026

Curated For You

Editorial Team

Related Article