IHSG Hari Ini: Akankah Rebound di Tengah Bayang-Bayang FOMC?

- IHSG diproyeksikan melemah setelah turun 1,13 persen ke 6.461,15, dengan investor menanti keputusan FOMC dan arah kebijakan fiskal Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
- Secara teknikal, BRIDS melihat momentum IHSG masih bearish dengan support 6.390 dan 6.220; peluang rebound terbuka jika indeks menembus 6.585.
- Gangguan pasokan minyak di Arab Saudi dan Libya mengerek harga minyak serta yield obligasi AS, memperkuat ekspektasi kenaikan Fed Rate 25 bps.
Jakarta, FORTUNE - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melemah pada perdagangan Rabu (16/9), setelah ditutup turun 1,13 persen ke 6.461,15 kemarin.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Reza Diofanda, mengatakan, sentimen selanjutnya akan tertuju pada kebijakan awal Menteri Keuangan Suahasil Nazara, terutama langkah untuk menjaga kredibilitas fiskal dan stabilitas APBN.
"Dari global, fokus utama berada pada FOMC 15–16 September waktu AS (16–17 September WIB), dengan probabilitas kenaikan 25 bps mencapai 92,4 persen," kata Reza.
Perhatian pasar selanjutnya akan bergeser ke guidance The Fed, terutama potensi higher-for-longer di tengah harga minyak yang masih di atas US$100 per barel dan yield UST 10Y sekitar 5 persen.
Secara teknikal, IHSG telah breakdown MA20 di 6.548 dan keluar dari rising wedge, dengan MACD bearish crossover yang mengindikasikan momentum masih melemah. IHSG berpotensi melanjutkan pengujian support 6.390, dengan 6.220 sebagai support berikutnya.
"Sementara itu, rebound perlu melewati 6.585 terlebih dahulu untuk membuka peluang kembali menguji 6.705," ujar Reza.
Daftar saham pilihan BRIDS hari ini adalah AMMN, BRMS, dan SRSN.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menilai, secara teknikal, meskipun pergerakan IHSG terus mengalami koreksi wajar. Struktur bullish masih berlaku selama berada dalam fase “wave [iv]”. Berdasarkan indikator, MA20&60 berada dalam kondisi bullish crossover. Meskipun demikian, Stochastics K_D and RSI signals menunjukkan sinyal negatif, sementara volume mulai mengalami penurunan.
Senior Technical Analyst MIrae Asset Sekuritas, Nafan Aji, mengatakan, untuk market Indonesia, para pelaku investor berada dalam posisi wait and see apalagi menjelang keputusan FOMC khususnya terkait Fed Rate yang keluar pada Kamis, 17 September 2026 dini hari waktu Indonesia sehingga membuat perdagangan market pada Rabu ini lebih berfungsi sebagai positioning menjelang event risk, sehingga potensi technical rebound tetap terbuka lebar apabila tekanan jual mereda.
Dari sisi global, tekanan market utamanya didorong oleh penutupan pipa minyak utama di Arab Saudi akibat serangan kelompok Houthi yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak mentah global hingga 4 persen. Bahkan terdapat gangguan pasokan baru muncul dari Libya setelah penutupan jalur pipa Hamada-Zawiya yang menghentikan produksi di tiga ladang minyak utama.
Hal itu mendorong minyak Brent naik 2,63 persen ke level US$108,46 per barel dan WTI naik 4,03 persen ke level US$105,48 per barel. "Ancaman inflasi berbasis energi tetap melambungkan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak tahun 2007, dimana saat ini menguat 0,91 persen pada level 5,006 persen," kata Nafan.
Lonjakan inflasi energi berkelanjutan akibat eskalasi gangguan pasokan di Timur Tengah dan Afrika Utara di atas tersebut memperkuat ekspektasi investor bahwa The Fed akan kembali menaikkan Fed Rate sebesar 25 bps, dengan probabilitas pasar melonjak hingga 92,3 persen. Kebijakan ketat ini berpotensi memicu ketegangan politik antara Ketua The Fed Kevin Warsh dan Presiden Donald Trump yang menginginkan suku bunga rendah.
Kendati demikian, para pelaku investor menilai bahwa kepatuhan The Fed terhadap pengendalian inflasi dapat menjaga kredibilitas bank sentral, serta historis menunjukkan bahwa pasar US tetap memiliki daya tahan jangka panjang jika pertumbuhan laba korporasi terjaga.
Di sisi lain, para pelaku investor juga mencermati seputar laju perkembangan AI. Isu ini muncul setelah beberapa kalangan eksekutif puncak di industri AI menyerukan imbauan untuk memperlambat pengujian dan pengembangan teknologi guna mengantisipasi risiko serta perlu menciptakan sebuah tata kelola yang lebih matang.
Dari sisi domestik, para pelaku investor masih bersikap wait and see terhadap arah kebijakan Menteri Keuangan baru, Suahasil Nazara, khususnya menyangkut kredibilitas fiskal, defisit APBN, dan strategi pengelolaan utang. Di sisi lain, sentimen positif dari pergantian Menkeu belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan eksternal dan aksi jual di sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Daftar saham pilihan Mirae hari ini adalah AMRT, AUTO, dan MAPI.









